Setelah Ditegur Jokowi, Gubernur Bali Marahi Pengungsi di Hutan Jati


SURATKABAR.ID – Made Mangku Pastika yang merupakan Gubernur Bali memberikan instruksi agar pengungsi yang ditampung di Hutan Jati, Dusun Sanih, Desa Bukti, Kecamatan Kutumbahan segera berpindah mencari lokasi penampungan yang lebih representatif. Ini dikarenakan ia mengaku sempat ditegur oleh Presiden Jokowi sebab dianggap tak bisa menangani pengungsi.

Melansir laporan JawaPos.com, Minggu (1/10/2017), instruksi tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Pastika saat menemui 67 warga dari 17 KK yang mengungsi di Hutan Jati milik lahan Nyonya Ariasa, seluas 6 hektare, Sabtu (30/9/2017). Bahkan gubernur sempat marah saat melihat kondisi lokasi penampungan yang terisolir dan jauh dari kata layak.

Sebagian besar pengungsi berasal dari Dusun Batugilig, Desa Dukuh, Kecamatan Kubu Karangasem tinggal di hutan jati yang kering. Lokasinya terisolir dengan akses jalan yang sempit. Tak hanya itu saja, pasalnya, tak ditemukan posko kesehatan yang dapat melayani pengungsi saat mereka sakit. Lokasi ini pun tak dialiri listrik dan menggunakan terpal seadanya.

“Krama yang mengungsi di sini untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman yang sudah kami siapkan. Bahkan mereka yang ke sini betul-betul atas keinginan mereka sendiri, sudah dibujuk kepala desa, Jero Bendesa, tapi mereka masih belum bersedia untuk pindah. Tapi setelah saya datang ke sini mudah-mudahan mereka mengerti,” Gubernur Pastika dengan tegas beramat kepada pengungsi.

Baca juga: Polri Beri Penjelasan Soal Masuknya Senjata Impor di Bandara Soekarno-Hatta

Pastika menambahkan, di hutan jati tersebut tidak ada air, listrik nyantol, jalanan rusak, di tengah hutan jati yang kering sehingga akan sangat berbahaya jika sampai terjadi kebakaran.

“Mereka tidak tahu mesti lari ke mana kalau ada kebakaran. Terkurung tempat ini. Penglingsir ini yang tanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Besok kalau sakit dibawa kemana? Rumah sakit jauh dari sini. Karena itu saya tanggung jawab terhadap kondisi pengungsi,” tandasnya lagi.

Kemudian Gubernur Pastika menuturkan, jika mereka dipindah ke wantilan atau gedung serba guna yang sudah disediakan, maka proses droping bantuan sembako, pelayanan kesehatan dan pendidikan akan lebih mudah dilayani.

“Mohon dipikirkan Pak ya, jangan dianggap mengusir Bapak dari sini. Tolong jangan biarkan anak-anak ini menderita, berdosa bapak-bapak kalau membiarkan anak-anak menderita. Ya kalau masih ada makanan, sampai kapan akan ada makanan, di sini juga gak ada air, susunya gak ada, makanan bayi, pikirkan itu. Pindah dikasih tempat yang lebih baik. Ada balai banjar, balai serba guna, air ada, semua gratis, kita mau drop makanan juga gampang, yang sakit gampang ke puskesmas. Soal sapi dan ternaknya kan bisa dibawa. Tolong ya, saya meminta dengan hormat untuk pindah ke tempat yang nyaman” tegas Mangku Pastika menguraikan panjang lebar.

Karena Ternak

Menyikapi permintaan Gubernur, Ketut Pica selaku kordinator pengungsi akan segera menindaklanjuti instruksi tersebut. Pica tak menampik jika terpaksa bertahan di hutan jati lantaran bertahan di hutan jati lebih mudah menitip ternak milik pengungsi yang jumlahnya mencapai 60 ekor lebih.

“Pertimbangannya kan karena ternak. Di sini lebih leluasa nyimpan ternak. Kami ini satu dadia, sampai pretima juga dibawa. Dan kami akan segera pindah ke tempat yang lebih bagus,” Pica menjelaskan.

Ada pun terkait instruksi Gubernur Bali tersebut, pihak Kepala Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan Gede Wardana mengaku akan segera memindahkan semua pengungsi yang menempati hutan jati di Dusun Sanih. Ia akan segera menggelar rapat koordinasi bersama dengan aparat Desa lainnya, untuk menentukan lokasi pengungsian.

Baca juga: Setelah G30S/PKI, Banyak yang Menghapus Aidit pada Nama Mereka

“Secepatnya kami akan tindak lanjuti. Nanti tempat pengungsiannya kami kordinasikan dulu,” singkatnya menutup pembicaraan.