Setnov Menang Praperadilan, Mahfud MD: Suka atau Tidak Suka Putusan Hakim Itu Mengikat


SURATKABAR.ID – Mahfud MD yang merupakan Mantan Ketua Mahmakah Konstitusi (MK) merasa kecewa atas putusan hakim Cepi Iskandar. Pasalnya dalam sidang praperadilan tersebut, hakim tunggal memenangkan Setya Novanto dalam melawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Tetapi sebagai orang yang bekerja dalam bidang hukum putusan itu mengikat. Suka atau tidak suka putusan hakim itu mengikat, bukan hanya harus dihormati tetapi juga harus ditaati,” Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2011, Prof Dr Mohammad Mahfud MD memberikan komentar dengan tegas. Demikian seperti diwartakan kembali dari liputan Tribunnews.com, Sabtu (30/9/2017).

Dituturkan Mahfud, dirinya termasuk pihak yang merasa tak senang dengan vonis itu. Tapi terlepas dari ada yang menyetujuinya atau tidak, putusan hakim itu mengikat.

Sebagai mantan hakim yang pernah memutus ratusan kasus, Mahfud mengungkapkan dia tahu bahwa putusan hakim itu mengikat dan hakim tidak bisa dipersalahkan atas putusan yang dibuatnya.

Baca juga: Begini Reaksi Kim Jong-un Saat Lihat Meme Setnov yang Terbaring Lemah di Rumah Sakit

Mahfud menambahkan, seandainya hakim ternyata sengaja melakukan kesalahan, maka kesalahan itu diproses sebagai kasus tersendiri sedangkan vonisnya tetap mengikat.

Apakah Anda kecewa dengan vonis tersebut?

“Ya saya kecewa tetapi juga tidak ada gunanya kecewa dan tidak boleh menentang vonis. Dalam hukum itu ada dalil, “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf”, putusan hakim itu mengakhiri kontroversi,” jawab Mahfud.

Jadikan Tersangka secara Yuridis

Saat ditanya apakah KPK sudah kehilangan peluang untuk menjadikan Setya Novanto sebagai tersangka, Mahfud menjawab bahwa secara teoritis KPK masih mempunyai peluang.

Menurut penilaiannya, secara yuridis KPK bisa mengulangi untuk menjadikan Setya Novanto sebagai tersangka lagi dan itu sudah pernah berhasil dilakukan.

“Dulu Wali Kota Makassar Ilham Sirajuddin pernah menang di praperadilan, tetapi esoknya KPK menjadikannya lagi sebagai tersangka dan kasusnya langsung dilimpahkan ke pengadilan begitu ditersangkakan. Akhirnya Ilham dihukum juga oleh Pengadilan Tipikor,” Mahfud memaparkan.

Kendati demikian, Mahfud menyarankan KPK harus cermat, jangan asal memutuskan orang jadi tersangka.

Baca juga: Heboh! ICW Temukan 6 Kejanggalan Ini di Sidang Praperadilan Setyo Novanto

“Cukupi dulu dua alat bukti permulaan dan segera limpahkan ke pengadilan,” demikian saran  dari Mahfud.