Pamor Jenderal Gatot Nurmantyo di Mata Parpol Selepas Dituding Bermanuver Politik


    SURATKABAR.ID – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kehilangan pendukung sebagai salah satu calon pendamping Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dari sejumlah partai. Salah satunya dari Partai Nasdem.

    Diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Johnny Gerald Plate, bahwa telah cukup lama partainya menggadang-gadang Gatot Nurmantyo sebagai kandidat alternative calon wakil presiden. Namun ada poin negatif yang membuat partainya urung meneruskan dukungan, dilansir Tempo.co.

    “Tapi maneuvernya belakangan ini jadi poin negatif. Kami harus mempertimbangkan lagi rencana mengusulkan Gatot kepada koalisi,” jelas Johnny ketika ditemui untuk diminta konfirmasi terkait hal tersebut, Kamis (28/9), seperti dikutip Tempo.co, Jumat (29/9/2017).

    Menurutnya peluang Nasdem untuk mengusung Gatot sebelumnya telah dibicarakan seberapa kali dalam rapat Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem. Lantaran dianggap memiliki kinerja yang cukup baik, Nasdem berencana mencalonkan Gatot ke pemimpin koalisi partai pemerintah, PDI Perjuangan, usai pensiun pada Maret 2018.

    Baca Juga: Menang Praperadilan, Setya Novanto Bisa Jadi Tersangka Lagi? Begini Pendapat Pakar Hukum Pidana

    Namun pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat yang mengungkapkan kabar adanya rencana pembelian sebanyak 5.000 pucuk senjata api oleh lembaga non-militer dinilai terlalu kontroversial oleh pihak partai. Dan bukan hanya informasi yang disampaikan pada acara silaturahmi purnawirawan dan perwira tinggi di Markas Besar TNI, Jumat (22/9) lalu tersebut.

    Gatot sebelumnya memerintahkan jajaran TNI di daerah untuk mengajak masyarakat menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI secara bersamaan. Hal tersebut kemudian menyulut pro dan kontra di kalangan petinggi. Pasalnya film yang dinilai sebagai rekayasa sejarah buatan Arifin C. Noer ini sudah ditarik peredarannya sejak September 1998. Lantaran hal tersebut tak sedikit kalangan yang menilai Gatot melakukan manuver politik menjelang pensiun dan Pilpres 2019.

    Dukungan partai tak hanya datang dari koalisi pemerintah saja. Gerindra juga pernah menyatakan tengah mempertimbangkan nama Jenderal TNI dengan ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Dukungan juga mengalir dari Partai Keadilan Sejahtera.

    Sementara Partai Persatuan Pembangunan, anggota koalisi pemerintah, mengungkapkan Gatot ditempatkan sebagai salah satu calon kuat, selain kandidat dari internal partai, yang diagendakan akan diusung pada pemilihan 2019 mendatang.

    “Sejak awal Gatot diminta siap ke tingkat yang lebih tinggi (presiden atau wakil presiden),” ujar Wakil Ketua Umum PPP Reni Marlinawati, dikutip Tempo.co.

    Terkait tudingan telah melakukan manuver politik, Jenderal Gatot Nurmantyo mengeluarkan komentar. Bahkan ia menyatakan belum merencanakan langkah yang akan diambil selanjutnya, terlebih untuk mencalonkan diri dalam pemilihan 2019.

    “Saya enggak mikir. Belum,” tukasnya.