Kritisi Panglima TNI, Connie: Jangan Jadi Pahlawan Kesiangan


SURATKABAR.ID – Adanya isu pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi non-militer dan ancaman penyerbuan ke Badan Intelijen Negara (BIN) serta Polri yang tersebar memalui rekaman suara Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengundang sejumlah kritik. Salah satunya datang dari Pengamat militer Connie Rehakundinie Bakrie. Dirinya mengku menyayangkan adanya isu semacam itu.

Connie yang tak lain adalah penulis buku Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal ini menyebut, jika Jenderal Gatot memang mengetahui adanya rencana pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi non-militer, maka seharusnya ia melakaukan koordinasi dengan institusi terkait. Jadi, Gatot yang mengaku memperoleh informasi itu bersumber dari A1, Connie menegaskan seharusnya Gatot menghubungi Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Kepala BIN, Jenderal Polisi Budi Gunawan.

“Kalau hanya curhat di hadapan purnawirawan, itu menyalahi kewenangan. Seharusnya dia (Jenderal Gatot) mengamankan kalau memang benar ada senjata ilegal,” ucap Connie, Senin (25/9/2017), dilansir dari tirto.id.

Dalam peristiwa seperti ini, Connie menyarankan agar Jenderal Gatot lebih mengedepankan prinsip kepatuhan seraya berkoordinasi dengan instansi terkait. Pasalnya, Connie menegaskan bahwa ungkapan Jenderal Gatot terkait dengan pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi non-militer itu bukanlah hal sepele, melainkan berbahaya.

“Jangan jadi pahlawan kesiangan,” katanya.

Baca Juga: Panglima TNI: Rekaman Itu Benar-benar Omongan Saya

Perempuan kelahiran Bandung, 3 November 1964 ini juga mengungkapkan bahwa pernyataan yang dikemukakan Jenderal Gatot Nurmantyo merugikan institusi yang dipimpinnya. Ia bahkan menilai bahwa Presiden Joko Widodo harus turun tangan. Sebab, Connie menilai bahwa manuver-manuver Gatot belakangan ini bisa merongrong institusi TNI dari dalam.

“Tanyakan apakah Panglima TNI mau berpolitik? Kalau ya, suruh mundur dari jabatannya,” ujar Connie.

Sebaliknya, lanjut Connie, jika Jenderal Gatot masih ingin mengemban tugasnya sebagai Panglima TNI, maka ia haus mematuhi aturan dan menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, berkoordinasi dengan jajaran terkait seperti Kemenhan, Polri, BIN, dan Kemenkopolhukam.

“Dia lebih senang bermanuver untuk dirinya sendiri,” kata Connie.

Jenderal Gatot Nurmantyo sendiri, meski membenarkan bahwa suara dalam rekaman yang beredar itu adalah suaranya, ia enggan menanggapi lebih dalam soal isu pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi non-militer. Dirinya berdalih bahwa pihaknya tidak pernah menyampaikan press release soal itu.

“Saya tidak pernah press release (soal senjata), saya hanya menyampaikan kepada purnawirawan, namun berita itu keluar. Saya tidak akan menanggapi terkait itu (senjata ilegal),” kata Jenderal Gatot Nurmantyo setelah menutup Kejurnas Karate Piala Panglima TNI Tahun 2017 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (24/9/2017) malam.

“Itu benar omongan saya, 1000 persen, tapi tentang kebenaran isu konten rekaman itu saya tak mau berkomentar.”

Dalam rekaman suara yang beredar itu, Panglima TNI menyebut ada institusi non-militer yang akan mendatangakan 5.000 pucuk senjata secara ilegal dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo. Pernyataan itu disampaikan Panglima TNI di acara silaturahmi TNI dengan purnawirawan di Mabes TNI Cilangkap. Dalam acara tu turut hadir Menko Polhukam Wiranto, Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Laksamana TNI (Purn) Widodo AS, dan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopasus), Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto serta sejumlah petinggi TNI lainnya.