Tertangkap! Dua Oknum Polisi Ini Terpergok Peras Pengunjung Diskotek di Jakarta Pusat


    SURATKABAR.ID – Dua oknum anggota Polres Jakarta Pusat berinisial Bripda WC (30) dan Brigadir TS (30) diringkus oleh aparat kepolisian pada Kamis (21/9/2017) pagi. Dugaan karena mereka berdua melakukan pemerasan terhadap pengunjung tempat hiburan malam di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat. Menurut penuturan Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Suyudi Ario Seto, kedua oknum anggota polisi tersebut diduga telah melakukan pemerasan terhadap dua pengunjung diskotek, yakni RH (22) dan ES (25).

    “Pelaku mengancam korban bahwa akan dibawa ke kantor dan melakukan pemeriksaan urine apabila tidak menyerahkan sejumlah uang,” ungkap Suyudi melalui keterangan tertulis, Jumat (22/9/2017). Demikian sebagaimana dilansir dari laporan Tribunnews.com, Jumat siang.

    Dipaparkan Suyudi, kedua oknum itu mengancam dua korban akan dibawa ke kantor polisi apabila tidak memberikan sejumlah uang.

    Namun aksi pemerasan WC dan TS malah terpergok oleh Tim Subnit Buser Polsek Taman Sari yang sedang melakukan patroli di kawasan diskotek tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui bahwa dua oknum polisi itu tak membawa kartu tanda anggota atau kartu tanda penduduk. Alasannya karena hilang.

    Baca juga: Dugaan Suap Uber Indonesia pada Oknum Polisi Tengah Diselidiki

    “Kemudian korban dan pelaku dibawa ke Polsek Metro Taman Sari guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” beber Suyudi.

    Sewaktu diinterogasi, dua oknum polisi Bripda WC (30) dan Brigadir TS (30) tersebut mengaku sering memeras para pengunjung diskotek. Bahkan mereka mendapatkan uang hingga puluhan juta Rupiah dari hasil pemerasan yang dilakukan selama hampir setahun.

    Dalam konteks hukum pidana, suatu perbuatan disebut pemerasan jika memenuhi sejumlah unsur. Unsur-unsurnya bisa ditelaah dari pasal 368 ayat (1) KUHP: “Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”.

    Baca juga: Terungkap! Fakta Ini Sebutkan Mengapa Soekarno dan Jokowi Primadonakan Palangkaraya

    Subjek pasal ini ialah ‘barangsiapa’. Menurut Andi Hamzah (2009: 82), ada empat inti delik atau delicts bestanddelen dalam pasal 368 KUHP. Pertama, dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kedua, secara melawan hukum. Ketiga, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman. Keempat, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang, demikian melansir HukumOnline.com.