Pemutaran Film G30S/PKI, Dhandy Laksono Tak Menemukan Bukti Penyiksaan Terhadap Jendral AD


    SURATKABAR.ID – Sineas film dokumenter, Dandhy Dwi Laksono ikut berkomentar perihal polemik akan diputarnya kembali film G30S/PKI. Ia mengaku pernah melakukan proses jurnalistik guna mendalami sejarah mengenai tragedi yang menewaskan sejumlah jendral tersebut.

    Seperti diwartakan cnnindonesia.com, Dandhy menegaskan jika sempat menelusuri mengenai ada atau tidaknya penyiksaan terhadap para korban penculikan. Ia melakukan pertemuan dengan dokter Liem Joe Thay, salah satu dokter yang ikut melakukan autopsi jenazah para jenderal pada 4 Oktober 1965.

    Dandhy mengaku jika butuh waktu sekitar tiga tahun guna menggali berbagai informasi dari dokter Liem Joe Thay.

    Baca Juga: Terkuak! Inilah 3 Tokoh yang Membuat Dihentikannya Pemutaran Film G30S/PKI

    Berdasarkan penelusuran yang dilakukannya, Dandhy tidak menemukan fakta mengenai penyiksaan yang diderita oleh para jenderal yang diculik.

    “Hasil visum et repertum atau dokumen repertum yang saya pegang menunjukkan itu tidak ada (penyiksaan). Hasil wawancara dengan dokter yang mengautopsi juga tidak ada,” kata Dandhy kala ditemui di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Jakarta, Minggu (17/9/2017), dikutip dari cnnindonesia.com.

    Dandhy menegaskan jika perbincangannya dengan dokter Liem Joe Thay adalah sebuah proses jurnalistik yang dilakukan secara pribadi.

    Salah satu pendiri rumah produksi Watchdoc itu juga menyatakan jika rekannya juga melakukan wawancara dengan tenaga medis lain yang terlibat dalam autopsi tersebut, dokter Liau Yan Siang.

    Dandhy juga menjelaskan jika hasil wawancara tersebut juga menyebutkan bahwa tidak ada keterangan terdapatnya fakta penyiksaan yang dilakukan kepada para jenderal.

    Meski demikian, dirinya tak pernah keberatan dengan adanya rencana pemutaran film yang diproduksi pada tahun 1984 tersebut. Ia juga menyatakan jika akan melihat film yangsejak tahun 1998 tahun lalu dihentikan penayangannya di stasiun televisi.

    “Kalau saya ingin memutar ulang film itu, saya juga akan memutarnya. Tapi, saya akan memaparkan bahwa film itu punya kebohongan di (bagian) a,b,c,d,e. Tapi, kalau kemudian ingin ditonton dan dirayakan sebagai sebuah kebenaran sejarah, saya pikir kita mundur sekali,” ujar Dandhy.

    Baca Juga: Tegas! Heboh Nobar G30S/PKI, Panglima TNI Komentar Begini

    Tetapi Dandhy memberi catatan bahwa pemutaran film oleh militer Indonesia bisa dianggap upaya menghidupkan lagi permusuhan sejarah.

    “Jadi kalau TNI memutar film itu untuk menujukkan ini musuh-musuh saya, ya silahkan saja. Orang juga akan bisa menakar. Memangnya kalau TNI yang mutar filmnya jadi benar? kan enggak. Justru kalau TNI yang mutar malah jelas permusuhan sejarah mau dihidup-hidupkan lagi,” terangnya.