Wah! Ada yang Berani Nempeleng Mantan Presiden Soeharto? Ternyata Ini Orangnya


SURATKABAR.ID – Indonesia memang menyimpan sejarah yang begitu beragam. Dan kali ini berkaitan dengan sosok tegas Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Karena siapa yang bakal menyangka jika ternyata ada orang yang begitu berani memberikan tempelengan kepada mantan presiden tersebut.

Alexander Evert Kawilarang merupakan nama dari dunia militer Indonesia yang tak asing lagi didengar oleh masyarakat. Ternyata pria kelahiran Batavia (Jakarta), 23 Februari 1920 tersebutlah yang diberitakan pernah menempeleng Soeharto.

Insiden tersebut terjadi ketika Kawilarang menduduki jabatan Panglima, atasan dari Letkol Soeharto. Kembali ke sekitar tahun 1950-an, Alex E. Kawilarang sebagai Panglima Wirabuana melaporkan kepada Presiden Soekarno untuk mengabarkan keadaan di Makassar sudah terkendali.

Dan sungguh tak diduga, Soekarno justru menunjukkan radiogram di tangannya dengan berita bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Sementra Brigade Mataram, pasukan yang bertugas mempertahankan Makassar dilaporkan telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.

Baca Juga: TNI Akan Putar Film G30S/PKI, Jokowi: Akan Lebih Baik Kalau Ada Versi yang Paling Baru

Amarah Kawilarang pun membuncah seketika usai mendengar hal tersebut. Begitu tiba di Lapangan Udara Mandai, ia langsung menyemprot Komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto yang disertai dengan tempelengan, seperti yang diwartakan Tribunnews.com, Senin (18/9/2017).

Putera dari A.H.H. Kawilarang, seorang mayor KNIL asal Tondano, dan Nelly Betsy Mogot dari Remboken, Alex E. Kawilarang juga merupakan sepupu Daan Mogot, Pahlawan Nasional. Ia meninggal dalam usia 80 tahun di Jakarta, 6 Juni 2000 silam.

Karir Alex E. Kawilarang berawal sebagai Komandan Pleton Kadet KNIL di Magelang pada tahun 1941-1942. Pada 11 Desember 1945, ia menjadi perwira dengan menyandang pangkat mayor yang bertugas sebagai penghubung dengan pasukan Inggris di Jakarta.

Hanya berselang satu bulan, yaitu pada Januari 1946, Alex E. Kawilarang dengan pangkat letnan kolonel tersebut pun menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat. Dan tiga bulan setelahnya, pada April-Mei 1946, ia dipercaya untuk menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor.

Bulan Agustus 1946-1947, tanggung jawabnya meningkat dengan tugas sebagai Komandan Brigade II/Suryakencana – Divisi Siliwangi di Sukabumi, Bogor dan Tjiandjur. Kemudian pada 1948-1949, Kawilarang ditugaskan sebagai Komandan Brigade I Divisi Siliwangi di Yogyakarta.

Ia menjabat sebagai Komandan Sub Territorium VII/Tapanuli, Sumatera Timur bagian selatan, pada 28 November 1948. Karir selanjutnya pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), 1 Januari 1949, ia mendapat kepercayaan menjadi Wakil Gubernur Militer PDRI untuk wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur bagian selatan.

Menginjak tanggal 28 Desember 1949, ia menjabat sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara dengan mengemban tugas lain sebagai Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel. Ia dipercaya kembali untuk mengemban tugas tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium I/Bukit Barisan di Medan, pada 21 Februari 1950.

Karirnya meningkat setelah ia diangkat menjadi Panglima Operasi Pasukan Ekspedisi pada 15 April 1950. Ketika itu ia ditugaskan memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Aziz di Makassar, Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku dan Pemberontakan Kahar Muzakkir di Sulawesi Selatan.

Tahun 1951-1956, Kawilarang dipercaya sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar dan pada November 1956 menjadi Panglima TT III/Siliwangi yang kemudian diganti menjadi Kodam III/Siliwangi.

Jasanya yang hingga detik ini masih bisa dirasakan adalah ketika merintis dibentuknya pasukan khusus TNI pada April 1951 yang diberi nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar, Jawa Barat. Inilah cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Selanjutnya pada 10 November 1951-14 Agustus 1956, Kawilarang menapaki karir di puncak sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium III Siliwangi di Bandung.