Waspada! Bareskrim Temukan Berton-ton Bahan Pembuat PCC di Cimahi


SURATKABAR.ID – Penyidik dari Direktorat Tindak Pidana narkoba Bareskrim Polri melakukan penggeledahan di salah satu pabrik di Cimahi, Jawa Barat. Di pabrik tersebut ditemukan bahan-bahan seperti paracetamol, caffeine, dan carisoprodol yang diduga akan diramu menjadi Pil PCC. Temuan itu pun kemudian disita.

“Banyak. Ton-tonan lah (bobotnya),” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto memberikan konfirmasi di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Seperti diberitakan laman tribunnews.com, meski bahan-bahan tersebut dikatakannya berton-ton, Eko tidak memastikan tepatnya jumlah barang bukti yang diamankan itu. Hingga saat ini pun, kata Eko, pihaknya masih terus melakukan penggeledahan di sana.

“Masih Kerja dan berlangsung, mohon doanya,” ucapnya.

Baca Juga: Kapolda Metro Beberkan Kronologi Kericuhan di kantor YLBHI. Ternyata…

Sampai saat ini, Pil PCC sudah banyak memakan korban, bahkan sampai anak-anak. Pil PCC ini bisa membuat lemas otot-otot sehingga menghambat rasa sakit. Selain itu, PCC jug dapat membuat pengonsumsinya berhalusinasi hingga bisa sampai pada taraf gangguan saraf otak.

Pihak kepolisian, BNN dan institusi berkaitan lainnya terus mengkaji tindak lanjut untuk Pil PCC. Belakangan, pil ini semakin membuat masyarakat resah. Tercatat, di Kendari, Sulawesi Tenggara, puluhan korban berjatuhan setelah menenggak yang diduga Pil PCC.

PCC sendiri adalah obat yang mengandung Carisoprodol. Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat da Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito menyebut bahwa obat yang mengandung Carisoprodol sebetulnya sudah dilarang peredarannya sejak 2013 silam. Hal tersebut dikarenakan kandungan Carisoprodol yang kerap disalahgunakan.

“Memang udah sejak 2013, (semua obat yang mengandung Carisoprodol) sudah dilarang, karena sering disalhgunakan,” kata Penny di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Lantas, dengan beredarnya obat yang mengandung Carisoprodol seperti PCC saat ini, Penny mengatakan bahwa hal itu bisa dipastikan karena produksi illegal lantaran diproduksi oleh fasilitas pembuatan yang tidak resmi.

“Kalaupun sekarang masih ada, itu adalah illegal, artinya bisa jadi itu adalah produk dari fasilitas pembuatan yang illegal,” katanya.