Seperti Inilah Calon Istri Idaman Pemuda Milenial Indonesia


SURATKABAR.ID – Dewasa ini, era digital telah memungkinkan sejumlah perubahan pada pembagian peran suami istri. Tak jarnag, banyak kita dapatkan dalam kehidupan masyarakat—bapak rumah tangga dan wanita karier yang menjadi istrinya. Meski begitu, berdasarkan hasil riset, pemuda Amerika Serikat masih juga yang mendambakan istrinya hanya menjadi ‘ibu rumha tangga yang tradisional’. Masih banyak pemuda milenial AS yang mengharapkan kelak istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa embel-embel karier.

Apabila ditanyai mengenai istri mana yang lebih unggul? Yang menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier? Jawabannya tentu relatif dan menimbulkan polemik tersendiri. Dengan macam-macam pembenaran seperti semangat emansipasi perempuan dan pertimbangan realistis untuk memenuhi kebutuhan hidup, pihak-pihak yang pro terhadap istri bekerja mencoba meyakinkan orang untuk sepaham dengannya.

Ibu-ibu rumah tangga pun memaparkan sederet alasan yang membenarkan pilihan mereka untuk tinggal di rumah. Mulai dari argumen menyediakan waktu berkualitas dengan anak hingga pembenaran yang dilandasi ayat-ayat agama—semua dilontarkan agar sekitarnya mengiyakan pilihan itu, demikian sebagaimana dilansir dari laman Tirto.id, Selasa (12/9/2017).

Tak dapat dipungkiri, perubahan zaman berubah menjadi penyebab dari pergeseran nilai. Tak terkecuali nilai-nilai sehubungan dalam pernikahan dan rumah tangga. Dengan melebarnya akses ke pendidikan dan gembar-gembor pemberdayaan perempuan, perempuan pun menjajal peran-peran yang semula cuma disematkan kepada laki-laki: mencari nafkah.

Baca juga: Mengenal Sosok Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura

Namun, rupanya penerimaan anggapan bahwa perempuan sepatutnya bekerja sebagaimana laki-laki masih diamini oleh hanya sebagian milenial saja. Di Amerika Serikat, banyak milenial masih mendamba ‘ibu rumah tangga tradisional’ saja untuk menjadi pasangannya.

Kesimpulan tersebut didapatkan dari riset yang dilakukan David Cotter, profesor Sosiologi dari Union College, bersama Joanna Pepin, kandidat doktor dari University of Maryland. Ia melakukan studi tentang pandangan laki-laki milenial terhadap peran perempuan dalam rumah tangga. Dalam studinya, mereka melihat pergeseran cara pandang responden—yang merupakan siswa-siswa SMA tingkat akhir—tentang bagaimana istri mereka seharusnya menjadi dari beberapa latar dekade.

Pada 1994, 42 persen responden menuturkan bahwa laki-lakilah yang semestinya menjadi pencari nafkah utama, sementara perempuan mengurus hal-hal di ranah privat dan domestikal. Saat itu, 29 persen responden juga memandang bahwa suamilah yang memegang peran utama untuk mengambil seluruh keputusan penting dalam keluarga. Beranjak ke tahun 2014, persentase responden yang ingin laki-laki menjadi pencari nafkah utama naik hingga 58 persen, sementara yang menyebutkan suami mesti menjadi pengambil seluruh keputusan penting dalam keluarga melonjak hingga 37 persen.

Mengacu pada data ini, dapat dipahami bahwa di AS, pembagian peran tradisional justru lebih dipertahankan seiring dengan perkembangan waktu. Mengapa bisa begitu? W. Bradford Wilcox dan Samuel Sturgeon memaparkan analisisnya dalam The Washington Post. Kata mereka, meningkatnya jumlah kaum minoritas di AS memberi sumbangsih terhadap pergeseran pandangan tentang rumah tangga.

Sejak dekade 1970-an, setelah semangat pemberdayaan perempuan digencarkan di sana, masyarakat menerima kehadiran perempuan di ranah-ranah publik dengan perlahan tapi pasti. Namun tampaknya, yang terpapar oleh semangat ini adalah mereka yang berprivilese mengecap pendidikan, serta datang dari kalangan mayoritas kulit putih. Sebagian besar kelompok Hispanik (Amerika Latin) dan Afrika-Amerika masih menyenangi pembagian peran secara patriarkis dalam rumah tangga.

Di 1980-an, keturunan Hispanik di AS usia 18-25 hanya sebesar 7 persen. Persentase ini merangkak naik sekarang: mencapai 22 persen. Pertambahan jumlah milenial dari kelompok ini turut berkontribusi terhadap hasil survei mengenai gagasan rumah tangga yang ideal.

Tak cuma komunitas Hispanik saja yang memperlihatkan kecenderungan memilih pembagian peran pasangan secara patriarkis. Banyak anak muda Afrika-Amerika yang juga meyakini hal itu lebih tepat diterapkan dalam rumah tangga mereka. Singkatnya, menurut pandangan Wilcox dan Sturgeon, multikulturalisme yang ada di negara tersebut membawa tantangan tersendiri bagi nilai-nilai progresif yang dipegang sebagian masyarakat kulit putih.

Tak hanya multikulturalisme yang menimbulkan pergeseran pandangan tentang rumah tangga ideal. Cotter dan Pepin juga melihat ada beberapa faktor lain yang membuat anak-anak muda di sana lebih memilih bentuk rumah tangga tradisional.

Promosi menjadi ibu rumah tangga yang gencar pada dekade 90-an, tantangan besar untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga, serta kritik terhadap semangat feminisme yang mendorong perempuan untuk merengkuh banyak ranah disebut sebagai pendorong mereka untuk lebih mengutamakan perempuan sebagai ibu rumah tangga.

Pandangan Beberapa Laki-Laki Milenial Indonesia

Jika di AS terdapat kecenderungan laki-laki milenial lebih suka perempuan mengurus pekerjaan domestik, lain halnya dengan beberapa laki-laki milenial Indonesia yang dimintai pendapatnya. Gery (31) contohnya. Ia mengatakan lebih senang bila istrinya kelak tetap bekerja. Ia ingin supaya sang istri tidak bergantung secara ekonomi kepadanya.

“Seandainya ada apa-apa, istri gue nanti bisa tetap survive,” imbuh laki-laki yang berprofesi sebagai pengarah artistik ini. Dengan membiarkan sang istri bekerja, Gery berharap dapat memiliki waktu lebih banyak untuk mengurus rumah sembari mengambil pekerjaan freelance atau membuka usaha sendiri.

Kecenderungan Gery untuk memiliki istri bekerja ini juga dilandasi pengalaman orangtuanya yang berpisah dan melihat ibunya yang seorang ibu rumah tangga sempat bingung ke mana mencari pemasukan. Ditambah lagi, lingkaran pergaulan Gery juga mendukungnya memiliki gagasan ini. Beberapa teman laki-laki sepantarnya pun tak segan terjun ke ranah domestik dan menjadi bapak rumah tangga.

Senada dengan Gery, Ibrahim Ukrin (24) pun tak keberatan bila kelak mempunyai istri yang bekerja.

“Tidak masalah kalau istri bekerja karena membangun ekonomi rumah tangga enggak gampang. Apa-apa mahal. Selain itu, gue sebenarnya enggak pengen pasangan gue menjadi istri yang pasrah dan enggak punya ambisi,” sebut lulusan Institut Teknologi Bandung ini. Perkara pembagian peran dalam rumah tangga, menurutnya, suami dan istri juga perlu bernegosiasi.

Walau pun pria memiliki preferensi tersendiri soal aktivitas calon istri idaman mereka, bukan berarti mereka tak memberi peluang bagi pasangan untuk menentukan sendiri mana yang paling nyaman baginya. Opini ini dinyatakan oleh Anda (28).

Anda secara personal memilih istri yang bekerja. Alasannya, kebanyakan aktivitas yang dilakukannya dan pasangan lebih bersifat outdoor dan saat menikah nanti ia tidak ingin mengubah situasi ini.

Gue enggak mau pernikahan membuat pasangan gue berpikir untuk tinggal di rumah, karena toh gue enggak mau memaksanya untuk enggak bekerja, kecuali kalau dia memilih demikian. Untuk urusan domestik atau mengasuh anak bisa dilakukan bergantian. Intinya, jangan sampai rumah jadi tempat yang membosankan untuk kami berdua,” ungkap laki-laki yang bekerja di salah satu media ini.

Sekalipun demikian, tak semua laki-laki milenial mengidamkan istri yang bekerja. Aris Masruri (26) mengaku lebih menyukai calon istrinya kelak menjadi ibu rumah tangga.

“Menurut saya, agak susah kalau dua-duanya bekerja. Saya khawatir sama perkembangan anak nantinya kalau bukan ayah atau ibunya sendiri yang mengurus,” papar Aris.

Sejauh ini, calon istri Aris memang ingin menjadi ibu rumah tangga jika dikaruniai anak kelak, meskipun orangtua sang kekasih lebih senang ia tetap bekerja. Namun, Aris dan calon istrinya tidak akan memenuhi harapan orangtuanya.

“Menurut saya, mertua atau orangtua enggak berhak menentukan pilihan dalam hidup kami. Makanya, kami (nanti) memilih hidup terpisah dengan orangtua,” urai laki-laki yang berprofesi sebagai dosen ini.

Rumah Tangga di Era Digital

Beragam kemudahan telah dimungkinkan dengan keberadaan internet, termasuk fleksibilitas tempat kerja. Beberapa perusahaan memungkinkan karyawannya untuk bekerja jarak jauh (remote) alias tak perlu hadir di kantor selama pekerjaan bisa dituntaskan tepat waktu.

Mengirim dokumen? Cukup gunakan e-mail. Berdiskusi dengan rekan kerja atau klien? Manfaatkan aplikasi pesan. Butuh meeting tapi tak bisa hadir di kantor? Bisa memilih video call. Cara bekerja karyawan di era digital saat ini telah bergeser dan melahirkan suatu gaya hidup baru: digital nomad—di mana bekerja sekaligus melanglang buana bisa dilakukan bersamaan.

Saat hal ini terjadi, batasan antara sisi privat dan publik dalam kehidupan seseorang pun bisa lebur. Tak cuma dalam terkait aktivitas bepergian saja. Campur tangan teknologi pun memungkinkan seseorang menebas batas ranah kerja dan ranah domestik. Kini, bukan mustahil bagi milenial atau generasi penerusnya untuk bekerja dari rumah. Bahkan, istilah work-at-home mom/dad pun muncul berkat sokongan perkembangan teknologi informasi.

Bagi sebagian wanita, kehadiran anak menciptakan keterikatan tersendiri yang membuatnya ingin lebih lama berada di rumah. Separuh bisa jadi memilih berhenti total bekerja, tetapi mereka yang punya ambisi besar terus berkarya atau berbisnis kemudian mengakali situasi ini dengan memindahkan pekerjaan ke rumah. Sekali dayung, dua tiga pulau pun jadi terlampaui.

Mengurus anak penuh waktu dimungkinkan, mencari pemasukan selain dari suami pun bisa dilakukan. Dengan tetap mempertahankan aktivitas bekerja, para ibu pun bisa menyalurkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk hal yang produktif dan disenangi tanpa perlu mengorbankan perkembangan diri mereka sendiri ataupun keluarga. Hal serupa pun bisa dilakukan laki-laki sebagaimana Gery isyaratkan.

Meski teknologi digital dianggap menjadi pendukung negosiasi pembagian peran dalam rumah tangga, bukan berarti hal ini tidak punya cacat cela. Menggabungkan dua ranah di satu lokasi bisa jadi memicu kejenuhan lebih dini. Saat ada masalah dalam pekerjaan yang dikerjakan di rumah misalnya, potensial emosi terlampiaskan ke orang sekitar, termasuk ke anak atau pasangan yang ada di sana.

Baca juga: Aneh! Setelah Tebas Kaki Istri, Moleh Bilang: Bertahan Ma, Demi Anak Kita

Selain itu, alih-alih bisa membagi waktu yang adil untuk keluarga dan pekerjaan, sangat mungkin terjadi ketimpangan dalam mengelola waktu dan perhatian saat rumah dijadikan tempat kerja. Klien mengejar-ngejar penyelesaian pekerjaan dibarengi latar suara tangisan anak tentu saja jadi mimpi buruk yang mesti dipikirkan antisipasinya oleh mereka yang memilih bekerja di rumah.