Mengenal Sosok Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura


    SURATKABAR.ID – Mantan ketua parlemen, Halimah Yacob, telah ditetapkan menjadi presiden wanita pertama Singapura. Setelah kandidat lainnya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk mengikuti pemilihan, Halimah Yacob akan secara resmi dilantik pada Rabu (13/9/2017) besok. Halimah memenuhi syarat peraturan pencalonan lantaran pengalaman wanita melayu ini sudah lebih dari tiga tahun malang melintang sebagai pembicara di parlemen.

    Dari empat pemohon, dua di antaranya bukan orang Melayu dan dua lainnya tidak diberi sertifikat kelayakan—demikian menurut Departemen Pemilihan (ELD). Tak lama setelah pengumuman tersebut, calon presiden Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan mengonfirmasi bahwa permohonan mereka ditolak. Halimah mengungkapkan ELD mengeluarkan sertifikat kelayakan kepadanya, yang membuka jalan baginya untuk ikut serta dalam Pemilu Presiden.

    “Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah apakah ada pemilihan atau tidak ada pemilihan,” ujarnya kepada wartawan yang berkumpul di ELD, sebagaimana diwartakan kembali dari reportase International.Republika.co.id, Selasa (12/9/2017).

    Salah satu kandidat yang gagal ialah ketua perusahaan jasa kelautan Bourbon Offshore Asia— Farid Khan. Farid menyebutkan, dengan terpilihnya Halimah Yacob, maka lebih banyak lagi orang Malaysia yang memegang jabatan politik. Dan beberapa di antaranya berada di dunia usaha. Masa jabatan enam tahun Presiden Tony Tan berakhir pada 31 Agustus, dan J Y Pillay, ketua Dewan Penasihat Presiden, telah menjadi Pejabat Presiden sejak 1 September.

    Baca juga: Berkali-kali Posting Isu SARA, Asma Dewi Dituding Pernah Transfer Rp 75 Juta ke Saracen

    Seperti diketahui, Kaum Melayu terakhir yang memegang kursi kepresidenan ialah Yusof Ishak. Gambar Yusof Ishak bahkan menghiasi uang kertas negara tersebut. Yusof merupakan presiden antara tahun 1965 dan 1970, tahun-tahun pertama kemerdekaan Singapura menyusul persatuan dengan negara tetangga Malaysia, namun kekuasaan eksekutif terletak pada Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama negara terkait.

    Pemisahan Singapura dari Malaysia membuat etnis Melayu menjadi mayoritas di Malaysia, sementara etnis Tionghoa membentuk mayoritas di Singapura. Tapi, para pemimpin kedua negara mengakui bahwa perdamaian dan kemakmuran bergantung pada pelestarian harmoni antara kedua kelompok.

    Sekalipun begitu, pada tahun 2013 telah diterbitkan sebuah laporan pemerintah yang menemukan orang-orang Melayu terkadang merasa didiskriminasikan dan memiliki prospek terbatas di beberapa institusi, seperti angkatan bersenjata. Kebijakan ekonomi dan pendidikan Singapura telah membantu menciptakan jajaran kelas menengah Melayu. Namun, ditunjukkan dalam sensus terakhir di tahun 2010, mereka juga tertinggal dari kelompok etnis lain mengenai tindakan sosio-ekonomi seperti kepemilikan dan rumah pendapatan rumah tangga.

    Jarang Angkat Bicara Soal Hijab

    Orang-orang Melayu yang membentuk lebih dari 13 persen dari 3,9 juta warga Singapura dan penduduk tetap juga berperforma buruk terhadap tindakan seperti pendidikan di universitas dan sekolah menengah. Walau pun menjadi calon presiden, Halimah tampak mengenakan jilbab. Padahal hijab dilarang di sekolah negeri dan pekerjaan sektor publik yang membutuhkan seragam. Tapi ia jarang berbicara secara terbuka eterkait hal ini.

    Dulunya, Halimah merupakan anggota Partai Aksi Rakyat (PAP). Ia adalah Ketua Parlemen yang kesembilan, yang menjabat dari Januari 2013 sampai Agustus 2017. Halimah juga merupakan Anggota Parlemen (MP) yang mewakili Konstituensi Perwakilan Jurong Group antara tahun 2001 dan 2015, dan Konferensi Demokrasi Kelompok Marsiling-Yew Tee pada tahun 2015 dan 2017.

    Baca juga: Blackbird, Pesawat Tempur Tercepat di Dunia. Milik Siapa?

    Di tanggal 7 Agustus 2017, Halimah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Pembicara dan MP. Ia juga mengundurkan diri dari keanggotaannya di PAP untuk menjadi kandidat dalam pemilihan presiden Singapura 2017. Mengutip laman Reuters, Halimah memenangkan kursi kepresidenan setelah dinyatakan sebagai satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat untuk jabatan tersebut.