Tak Ingin Kalah dari Jepang, 3 Pria Belanda Ini Malah Temukan Gunung Emas di Papua


SURATKABAR.ID – Berawal dari kejengkelan Jean Jacques Dozy ketika mendengar bahwa Jepang ingin mendaki puncak Cartensz yang menjadi payung cakrawala di Papua Barat, bersama dua orang rekannya, A. H Colijn dan Franz Wissel pun memutuskan untuk berangkat memerawani Gunung Cartensz.

Hal itu diungkapkan oleh Greg Poulgrain melalui buku karangannya yang berjudul ‘The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F Kennedy and Allen Dulles‘, seperti yang dikutip oleh detik.com, Rabu (6/9/2017).

Dozy merupakan Kepala Ahli Geologi Minyak dan Bumi yang bekerja di Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatchappij (NNGPM), Babo, Papua Barat. Colijn yang bekerja sebagai manajer anak perusahaan Royal Dutch Shell dipilih menjadi pemimpin rombongan ekspedisi ke Puncak Cartensz.

Sementara itu Wissel yang sebelumnya bekerja sebagai pilot angkatan laut Belanda, kemudian mengabdikan diri di Perusahaan Minyak Batavia atau Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), terlebih dahulu melakukan survei udara untuk menentukan jalur ekspedisi.

Baca Juga: Inilah 7 Pekerjaan yang Bakal Sukar Dapat Pinjaman dari Bank. Nomor 1 Mengejutkan!

 “Suatu hari ketika kami mendapat pesawat udara amfibi tua jenis Sirorsky, kami melakukan penerbangan pengintaian dan melihat pegunungan, dan perlahan-lahan, satu per satu rencana mulai dikembangkan,” ungkap Dozy kepada Poulgrain pada 1982.

Menurut catatan, Colijn dan Dozy meninggalkan Babo menggunakan Kapal Albatros menuju Aika, sebuah wilayah terisolir yang menjadi gudang timah, pada 23 Oktober 1936. Sementara itu, Wissel menerjunkan pasokan logistik di Aika.

Ketiganya lantas mendaki Puncak Cartensz dengan ditemani tak lebih dari 38 orang dari Kalimantan. Namun lantaran harus menghadapi medan yang terjal, pada akhirnya hanya beberapa orang yang kuat saja yang mampu bertahan.

Pada ketinggian 4.000 meter, Dozy, Colijn dan Wissel akhirnya tiba di sebuah padang rumput, seperti yang sebelumnya mereka lihat saat melakukan survei dari udara. Dan diketahui, di titik itulah Dozy menemukan singkapan pegunungan yang dinamai Erstberg.

Baca Juga: Benarkah Orang Ini adalah Otak Tewasnya JFK dan Jatuhnya Soekarno?

Lalu kepada Poulgrain, Dozy mengisahkan, dalam ekspedisi mereka tak menemukan batuan lain di Erstberg, kecuali bijih. Di tengah kondisi basah serta dingin, bahkan mereka bisa mencium bau bijih hingga di seluruh pedesaan, padahal ketika itu mereka belum melihat gunung dengan jelas.

Sejauh dua kilometer dari Erstberg, Dozy beserta rekan-rekannya menemukan Gerstberg. Pencapaian itu mereka gambarkan sebagai tempat penyimpanan emas terbesar yang ada di dunia. Dan paa 5 Desember 1936, ketiganya sukses menginjakkan kaki di Puncak Cartensz.

Setibanya mereka di Babo, yaitu pada 25 Desember 1936, laporan temuan ketiga penjelajah tersebut pun disusun. Hasil temuan kala itu tersimpan rapat oleh para petinggi Pemerintah Belanda maupun kaum elit perusahaan minyak.

Hingga pada tahun 1959, Direktur Eksplorasi Freeport Sulphur Company, Forbes Wilson bertemu dengan Jan van Gruisen, Managing Director Oost Maatchappij, perusahaan Belanda yang mengeksploitasi batu bara di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Terlalu! Militer Myanmar Tanam Ranjau untuk Cegah Muslim Rohingya Kembali

Selang satu tahun kemudian, Freeport melakukan ekspedisi ke Cartensz dengan dipimpin oleh Forbes Wilson dan Del Flint. Kisah perjalanan dan penjelajahan menuju Erstberg dituangkan oleh Wilson dalam buku yang berjudul ‘The Conquest of Cooper Mountain’.

Poulgrain mengungkapkan fakta mengejutkan, yaitu bahwa Freeport tidaklah mendapatkan laporan Dozy terkait penemuan emas di Gunung Papua. Ia menyatakan, pihak keluarga dekat Dozy yang membuat Wilson tertarik dengan temuan Dozy.

“Orang yang membuat Forbes Wilson tertarik dengan temuan Dozy ya, keluarga dekat Dozy,” kata dia saat bedah bukunya di Kantor LIPI di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (5/9), dikutip dari detik.com, Kamis (7/9/2017).

Pemerintah Indonesia dan Freeport Sulphur (kini Freeport McMoran) menandatangani kontrak karya pertambangan pertama dengan hasil Freeport memegang hak untuk melakukan penambangan di Irian Barat.