Soal Krisis Rohingya, Umat Buddha Indonesia: Itu Bukan Konflik Agama!


    SURATKABAR.ID – Daniel Johan yang merupakan Penasihat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Himahbudhi) dengan tegas bersikukuh bahwa kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar bukan konflik antara penganut ajaran Buddha dengan penganut agama Islam. Daniel yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa itu menyebutkan, tidak ada ajaran Buddha yang menghalalkan kekerasan.

    “Sama sekali bukan persoalan agama ya, karena di dalam Buddha itu tidak ada satu ayat pun yang membenarkan pemeluk agama Buddha itu terlibat dalam perang,” ungkap Daniel menemani Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menemui pemuka agama Buddha di Wihara Dharma Bakti, Jakarta, Minggu (3/9/2017), seperti diberitakan dalam reportase CNNIndonesia.com, Senin (4/9/2017).

    Soal Sumber Energi, Bukan Agama

    Dituturkan Daniel, ada faktor lain yang disinyalir sebagai akar masalah yang menimpa etnis Rohingya, yakni persoalan sumber energi di wilayah yang ditinggali etnis Rohingya selama ini.

    “Di situ ada jalur sumber energi, minyak, dan gas. Saya rasa itu yang utama di sana,” urai politisi keturunan Tionghoa tersebut.

    Baca juga: Presiden Jokowi: Krisis Rohingya Perlu Ditangani dengan Aksi Nyata

    Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, juga mengatakan hal serupa.  Muhaimin atau Cak Imin juga meminta kepada masyarakat Indonesia agar tidak salah paham atas berita yang beredar selama ini.

    Cak Imin tidak memungkiri ada persepsi yang mengarah ke konflik agama terkait kekerasan terhadap etnis Rohingya selama ini. Oleh sebab itu, demi mematahkan persepsi tersebut, dia menyatakan bahwa sentimen keagamaan bukan akar masalahnya.

    “Tidak ada kaitannya dengan konflik agama,” imbuh Cak Imin usai mengunjungi biksu dan pemuka agama Buddha di Wihara Dharma Bakti, Jakarta, Minggu (3/9/2017).

    Pemuka agama Buddha, Biksu Suhu Dutavira Mahastavira memperkuat pernyataan Daniel dan Cak Imin. Dia menyatakan bahwa tak ada ajaran Buddha yang membenarkan kekerasan, pengusiran, apalagi pembunuhan.

    Jika ada pemuka agama Buddha yang melakukan hal itu, maka penganut Buddha tak boleh mengikuti apa yang dilakukan.

    “Jauhkan dia, jangan ikuti dia, jangan santuni dia,” beber orang yang kerap disapa Suhu Benny itu.

    Menurut Suhu Benny, meninggalkan orang yang mengaku biksu tetapi tidak bertindak sebagaimana mestinya sudah merupakan keharusan. Suhu Benny berani menyarankan hal itu karena Buddha memang menempuh tindakan demikian di masa lalu.

    “Itu wujud nyata sikap Buddha terhadap orang yang pakai jubah tapi keluar dari arena kejubahan,” tandas Suhu Benny.

    Etnis Rohingya yang tinggal di Rakhine, Myanmar, mengalami tindakan kekerasan, pengusiran hingga pembunuhan. Sekurang-kurangnya ada 50 ribu orang etnis Rohingya yang meninggalkan tempat tinggalnya demi menyelamatkan hidup.

    Baca juga: Sempat Mati Akibat Imbas dari Kebijakan Menteri Susi, Begini Kondisi Kota Gensan Sekarang

    Mereka mengungsi ke wilayah perbatasan Myanmar-Bangladesh. Sementara itu, ratusan orang etnis Rohingya diduga dibunuh oleh militer Myanmar sejak Jumat (25/8/2017) lalu.