5 Ritual Kematian Paling Mengerikan di Dunia, Nomor 1 dari Indonesia


SURATKABAR.ID – Kita semua pasti mati. Namun bagi manusia yang merupakan makhluk sosial dengan keragaman budaya, terdapat banyak tradisi untuk memperingati momen tersebut. Uniknya, beberapa suku di bawah ini ‘merayakan’ kematian dengan cara yang mengerikan. Melansir laporan Liputan6.com, Sabtu (2/89/2017), inilah kelima ritual kematian paling mengerikan di dunia.

1. Dani, Papua Nugini

Kematian orang yang kita cintai tentunya akan menyisakan duka mendalam dan perkabungan. Untuk berkubang dalam perkabungan ini, setiap daerah memiliki caranya masing-masing. Bagi suku Dani di Papua Nugini, caranya adalah dengan memotong salah satu jari mereka.

Saat salah seorang kerabat meninggal, kaum perempuan di keluarga tersebut akan memotong jari mereka sebagai hadiah bagi almarhum yang meninggal. Cara mereka memotong jari pun terbilang unik.

Jari yang akan dipotong diikat sampai mati rasa dan aliran darah terhenti. Selanjutnya barulah jari tersebut dipotong dengan pisau batu kecil. Untungnya saat ini praktek tersebut sudah mulai ditinggalkan. Namun hingga kini kita masih bisa menemukan wanita Dani yang jarinya sudah terpotong.

Baca juga: Gus Ipul Desak PBB Segera Sikapi Konflik Rohingya, Menlu Retno Luncurkan AKIM untuk Bantu Dana

2. Merina, Madagaskar

Masyarakat tradisional Merina di dataran tinggi Madagaskar mempunyai tradisi yang unik menyikapi kematian. Setiap tujuh tahun sekali, mereka akan mengadakan upacara Famadihana di sekitar makam. Famadihana merupakan tradisi menggali kembali mayat yang telah dikubur untuk mengganti pakaian mayat tersebut.

Mayat yang telah diganti pakaiannya itu lantas diarak dan dibawa menari. Sisa pakaian yang lama diambil oleh beberapa orang dan dijadikan jimat. Puncak acara ini adalah ketika salah seorang yang dituakan menari di sekitar kuburan si mayat.

Upacara ini adalah upacara yang riang gembira dan jauh dari kesedihan. Namun kendati demikian, melihat mayat diarak dan dibawa menari tetap saja tak lazim dan mengerikan bagi sebagian orang.

3. Ifugao, Filipina

Umumnya, saat seseorang meninggal, kerabatnya akan segera mengurusnya untuk kemudian dikubur atau dibakar, sesuai kepercayaan yang dianut. Namun berbeda dengan yang dilakukan masyarakat Ifugao di Benguet, Filipina.

Saat salah seorang kerabat mereka meninggal, mayat tersebut akan didudukkan di kursi depan rumah. Lengan dan kaki mereka diikat untuk menjaga posisi. Sedangkan matanya ditutup agar tak perlu lagi melihat penderitaan orang-orang yang masih hidup.

Selanjutnya, selama delapan hari orang-orang di desa akan berkabung dan melakukan ritual peralihan untuk membantu jiwa almarhum mencapai tempat terakhir. Uniknya masyarakat sama sekali tidak terganggu dengan bau busuk yang disebarkan mayat, bahkan kerap menjadikannya sebagai lelucon dan bahan tertawaan.

4. Taiwan

Di Taiwan, ada tradisi unik lain yang berhubungan dengan momen kematian. Saat seseorang meninggal, kerabatnya akan memanggil tukang ratap yang bekerja secara profesional. Tukang ratap tersebut kemudian akan menangis meraung-raung menangisi kepergian almarhum.

Uniknya, tukang ratap tersebut juga menyediakan paket premium bagi keluarga yang cukup kaya. Di paket premium, selain meratap, tukang ratap akan berpidato yang isinya menyayat hati untuk menunjukkan keluarga benar-benar merasa sedih.

5. Yanomami, Venezuela

Yanomami yang merupakan suku asli yang tinggal di hutan-hutan Venezuela juga melakukan ritual mengerikan untuk memperingati kematian seorang penduduk. Saat seorang penduduk meninggal, mayatnya akan dibawa jauh dari desa kemudian dibakar hingga hanya tersisa abu dan tulang.

Selanjutnya, tulang dan abu tersebut dibawa kembali ke desa. Tulang-tulang yang belum hancur akan ditumbuk hingga halus. Tumbukan tulang kemudian dicampur dengan abu lalu dimasukkan ke dalam sup pisang.

Sup pisang tersebut kemudian dibagikan ke seluruh penduduk desa untuk dimakan. Tujuan memakan kembali sisa-sisa mayat tersebut adalah agar kenangan akan si mayat menjadi abadi.

Baca juga: Hari Pertama Masuk Sekolah, Jepang Hati-hati Agar Tak Ada Siswa yang B***h Diri

Bagaimanapun, kematian merupakan akhir yang akan dihadapi oleh setiap orang. Namun tak setiap masyarakat mempunyai cara yang sama dalam menanggapinya.