Lewat Pendidikan, ISIS Bangun Generasi Pembunuh


SURATKABAR.ID – Kelompok yang menamakan Negara Islam atau ISIS tengah dalam masa awal keambrukannya. Kelompok militan ini sudah kehilangan bebrapa wilayah kekuasaannya seperti Suriah, Irak, dan Libya. Seperti diberitakan bbc.com, ambisi ISIS untuk membangun kekhalifahan global berantakan.

Namuan, sepertinya ISIS sendiri susah memperkirakan atau mengantisipasi kegagalan. Terlihat bagaimana mereka seolah memiliki rencana cadangan, sebuah kebijakan yang bisa menjamin kelangsungan hidup jika Raqqa, Sirte, dan Mosul lepas dari genggaman mereka, yakni lewat cara pendidikan, membangun generasi yang hidup dengan doktrinnya.

Langkah pertama mereka adalah pembinaan. Kemudian disusul degan perekrutan dan dilanjutkan dengan pelatihan untuk menciptakan barsan tentara pejihad anak yang mungkin kelak tumbuh sebagai seorang militan. Itulah yang dibangun sebagai generasi masa depan penuh kebencian dari ISIS.

Wartawan bbc.com sempat mewawancarai seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Mutassim. Ia bukanlah seorang petarung. Mutassim sendiri ditemui wartawan bbc di sebuah kampung kecil di Jerman, tempat tinggalnya. Mutassim saat ditemui tengah merokok, kebiasaan yang baru dimulainya setelah dia meninggalkan Suriah. Sebelumnya, merokok dilarang ISIS.

Sebulan sebelumnya, Mutassim adalah ‘Anak Singa’ kekhalifaan ISIS. Saat itu ia masih berada di Raqqa, menjadi anggota kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS. Ia ditugaskan di rumah sakit, merawat para petempur Isis maupun melayani pasien. Sebelum itu, ia bertugas di unit propaganda.

Bagi Mutassim yang bertugas di rumah sakit, latihan militernya berlangsung selama 15 hari. Namun, bagi beberapa orang lainnya bisa jadi lebih panjang. Latihan dimulai jam empat subuh, kenang Mutassim. Bagia dari latihannya, Mutassim berlari di atas ban yang dibakar maupun merangkak di bawah kawat berduri dengan tembakan yang berdesingan di atas kepala mereka.

Pernah dalam latihan itu, kata Mutassim, seorang temannya berusia 13 tahun yang berasal dari Ghouta timur di dekat ibukota Damaskus, tertembak di bagian kepalanya dan mati. Itu terjadi ketika Mutassim belum genap 16 tahun. Pengalaman yang terus ia coba lupakan.

Sebetulnya, banyak kelompok bersenjata di Afrika, Amerika Selatan, Timur tengah yang melatih anak-anak untuk berperang. Padahal, mererkrut tentara anak adalah kejahatan perang.

Satu rekaman yang diserahkan ke BBC memperlihatkan anak-anak tampak gembira berkeliling di sebuah kandang. Di dalamnya adalah seorang pria warga kota itu bernama Samir yang dulu bekerja sebagai penjaga toko. Anak-anak itu menyaksikan Samir berjongkok dengan kepala tertunduk. Terlihat juga salah satu anak menyemprotkan sesuatu kepada Samir.

Lantas, menurut dakwaan, Samir telah melecehkan seorang perempuan Muslim. Oleh karenanya ia dihukum untuk memberi hibura kepada anak-anak, layaknya seekor hewan di kebun binatang. Namun lebih dari itu, sesungguhnya banyak anak di Raqqa yang menyaksikan hal yang lebih buruk, yakni pemancungan atau eksekusi hukuman mati.

Mutassim menceritakan, imbalan yang dijanjikan padanya adalah mendapat seorang istri. Mutassim sendiri pada usia 14,5 tahunnya sudah amat ingin menikah, namun keluarganya tidak setuju dan di situlah ISIS masuk.

Menurut Mutassim, sekitar 70% kaum muda yang ikut bergabung ISIS mempunyai masalah dalam keluarganya. “Mereka menggunakannya untuk menekan keluarga mereka, jadi apakah memenuhi permintaan menikah dan kalau tidak, mereka akan bergabung dengan kelompok itu,” katanya.

Mutassim mengaku bahwa semakin sengitnya perang, kehidupan di Raqqa semakin sulit. Dari sana, ia berbaikan dengan keluarganya yang mendesaknya untuk meninggalkan Suriah. Orangtua Mutassim membayar penyelundup untuk membawa keluar Mutassim. Begitulah sedikit gambaran bagaimana anak-anak di lingkungan ISIS dididik untuk menjadi seorang pembunuh.

Mutassim jelas bukanlah satu-satunya yang keluar. Remaja lainnya yang baru keluar dari Raqqa sebagai anggota ISIS dalah Omar yang berusia 17 tahun. Remaja ini pernah terjerembap di kekhilafahan di Suriah juga di Mosul. Omar sendiri keluar dengan menyebrang ke Belgia.

Omar memang berusia muda. Namun, jika anda melihat ke matanya, akan ditemui tatapan yang letih dan angker. Omar sendiri masih ingin tampil sebagai pria yang tangguh dan berlaragak karena ia pernah dikirim perang oleh ISIS.

Omar tinggal di Belgia. Ia sudah tiga kali kena usir dari penginapannya karena susah diatur. Ia tampak seperti orang yang sulit didekati dan butuh waktu berbulan-bulan seelum ia mau menceritakan kisah hidupnya.

Diwawancara wartawan BBC yang sama dengan pewawancara Mutassim, Omar menceritakan kisah hidupnya sebagai anggota ISIS sambil meminum bir rasa buah. Namun jawaban atas pertanyaan yang dilontarakannya terlihat ditatanya sehati-hati mungkin.

Omar berasal dari Raqqa. Ia bekerja di bengkel, sebelumnya. Omar bergaung dengan ISIS pada masa-masa awal pembentukkannya. Lalu, setelah latihan dua pekan di Raqqa, ia dikirim ke Mosul sebagai bagian dari upaya ISIS untuk memperkuat barisan di kota itu dan tinggal di sebuah rumah di sana selama beberapa pekan. “Kami sama sekali tidak keluar dari rumah itu dan mereka meminta kami tidak membuka pintu untuk siapapun,” katanya.

Baca Juga: Begini Kata Marco Polo Soal Pasukan Monggol yang Hendak Menyerang Singosari

“Mereka menghabiskan waktu 24 jam tanpa makanan apapun. Tidak ada perhatian khusus untuk mujahidin. Saya dikatakan pada masa pelatihan Syaiah, makanan adalah kentang rebus dan telur untuk sarapan, makan siang dan makan malam serta kadang minyak zaitun dengan Zaatar.” Begitu katanya menceritakan bagaimana Omar dan beberapa kawan lainnya tinggal di rumah itu.

Belakangan ternyata ia ketahui bahwa Omar tidak berhasil menjadi petarung seperti yang diharapkannya. Dia dikeluarkan dari Jaysh al Khilafa atau tentara kekhalifahan karena tidak menghadiri kelas pengenalan dengan baik. Kemudian saat ia mencoba untuk bergabung dengan brigade pebuat bom, dirinya masih ditolak juga.

Pada akhirnya, Omar ditugaskan sebagai mata-mata yang bisa dibilang tugas rendahan. Tugasnya hanya mengawasi para warga Kurdi, perokok, dan orang-orang yang memiliki senjata gelap. Ia mendapat bayaran atas informasi penting yang ia sampaikan.

Hari-hari sebagai anggota ISIS agaknya semakin mencapai akhir ketika seorang pejuang ISIS dari Aljazair menuduhnya merokok. Waktu itu sudah larut. Si pejuang kemudian memaksa Omar masuk ke bagian kursi belakang mobil dan memerkosanya. Namun Omar tak berani untuk melaporkan p*********n itu.

“Saya amat ketakutan dan dia berkuasa, dia bisa menuduh saya apa saja dan membawa saya ke kantor polisi,” kisah Omar, yang kemudian memutuskan untuk pergi. Selanjutnya, Omar mengaku bisa selamat karena ‘pacar’-nya, seorang perempuan yang lebih tua memberinya uang.

Kurikulum ISIS

ISIS tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk bertempur di medan perang, melainkan untuk masuk lebih dalam ke masyarakat, ke dalam rumah, ruang kelas, atau bahkan ke benak anak-anak muda.

Saat anak beranjak masuk usia lema tahun, mereka diperkenalkan dengan kata-kata permusuhan dan kekejaman. Hal itu bisa dilihat dari buku-buku sekolah. Anak-anak diarahkan unuk menjadi mujahidin atau ‘pejuang suci’.

‘Pendidikan kasih sayang’ yang merujuk kebijakan nabi dan terutama berjihad atas nama Allah diinstruksikan oleh kementerian pendidikan. Guru-guru di sana juga didesak untuk menyuntikkan semangat melalui puisi kuat yang menteror musuh-musuh Islam. Maka, anak-anak akan belajar puisi sederhana namun mengandung kekerasan yang memuja jihad dan kematian demi Allah.

Mosul jaruh ke tangan ISIS dan Kekhalifahan diproklamasikan pada bulan Juli 2014. Dalam dekrit pertama yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan kekhalifahan yang baru, pelajaran music, tata Negara, sejarah, olah raga dan materi pelajaran Islam yang disusun pemerintah Suriah dilarang di ajarkan di sekolah. Sebagai pengganti adalah doktrin jihad ISIS dan buku tentang Syariah Islam.

Kurikulum ISIS diluncurkan tahun pelajaran 2015-2016. Anak-anak mulai sekolah pada usia lima tahun dan selesai di usia 15 tahun. Murid-murid mendapat 12 subyek pelajaran, namun ditingkatkan pada doktrin Negara Islam ISIS dan pandangannya atas dunia.

Di tahun-tahun pertama sekolah, khususnya melalui pelajaran membaca bahasa Arab, murid terus dicekoki tentang musuh-musuh yang bertekad untuk menodai martabat orang Islam. Sejak usia dini, murid terus didoktrin oleh ISIS tentunya dengan keharusan berjihad melawan orang-orang kafir dan murtad. Mereka, dalam doktrinnya, harus dibasmi.

Buku-buku pelajaran banyak yang jilidnya memampang foto pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi beserta para petarung ISIS. Buku-buku juga dijejali dengan ajaran Ibnu Taymiyah yang controversial dan Ibn Al-Qayyim, para ilmuan abad pertengahan yang tulisannya menjadi fondasi ideologi Islam ultrakonservatif dan Ideologi Salafi Jihadis.

Belum habis sampai di situ, ISIS menekankan pada guru-guru pengajar Al-Quran untuk mengajarkan ayat-ayat Alquran yang dihubungkan dengan konsep jihad. Bahkan kadang diberi nomor halaman dan referensi yang pasti.

“Siapkanlah ayat-ayat ini untuk mengajari murid-murid Anda bahwa tujuan jihad demi Allah bagi orang beriman adalah kemenangan atas orang-orang kafir atau sebaliknya mati di jalan Alla,” kata salah satu instruksinya.

Lantas, pada saat studi utama mereka selesai, ada kemungkinan praktik sistematis ini membuat anak-anak akan menghubungkan, atau bahkan mencampuradukkan doktrin ISIS dan Alquran. Jadi bukan tidak mungkin hal itu berakibat anak-anak menganggap umat Muslim lain yang tidak sepaham atau tidak mengikuti doktrin yang sama dianggap sebagai orang murtad.

Dari pola materi yang diisi dengan doktrin ISIS terlihat dari banyak vidio yang beredar yang bisa digambarkan sederhananya dengan seorang anak yang ketika ditanya ingin menjadi apa di hari kemudia, anak itu akan menjawab bahwa dirinya ingin menjadi orang yang membunuh kalian orang-orang kafir. Begitu dengan penuh kebencian.