Siapkan Mobil Layanan Curhat Bernama ‘Kekasih Juara’, Ridwan Kamil: Saya Ingin Warga Bandung Tidak Ada yang B***h Diri


SURATKABAR.ID – Program mobil layanan curhat bernama “Kendaraan Konseling Silih Asih” yang diakronimkan menjadi “Kekasih Juara” akan segera diluncurkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. “Kekasih Juara” ini merupakan program konseling gratis dengan menggunakan kendaraan yang nantinya akan berkeliling Kota Bandung. Ridwan sempat memposting program tersebut lewat akun Instagram pribadinya @ridwankamil pada Jumat (25/8/2017) sore.

Dalam unggahannya, Ridwan memasang gambar dua unit mobil berwarna merah muda bergambar hati dan seorang dokter. Di bagian samping mobil tertulis “Kekasih Juara”.

“Minggu depan kita akan melaunching program kesehatan jiwa. Kekasih itu singkatan Kendaraan Konseling Silih Asih,” tutur Ridwan saat ditemui tim wartawan di Hotel Best Western, Jumat (25/8/2017) malam, sebagaimana dikutip dari laporan Kompas.com, Sabtu (26/8/2017).

“Jadi jika Anda stres, putus cinta, ditikung teman, banyak utang, jarang dibelai, apa lagi suami jarang pulang, mantan ngajak balikan, apapun masalah duniawi yang sifatnya bisa dikonsultasikan, psikolog, psikiater, dan konselor akan hadir di mobil tersebut,” beber Kang Emil yang merupakan sapaan akrab Ridwan Kamil.

Baca juga: Keterlaluan! Video Anak Kecil Ditampar Saat Belajar Menghitung Ini Bikin Sakit Hati

Solusi Terhadap Permasalahan Psikologis Kota Bandung

Dijelaskan Kang Emil, “Kekasih Juara” ini merupakan program inovasi jemput bola yang digagas Dinas Kesehatan Kota Bandung. Program itu dibuat dengan tujuan memberi solusi terhadap permasalahan psikologis warga Bandung.

Pada tahap pertama, Pemkot Bandung baru akan menyediakan tiga unit kendaraan untuk berkeliling di sejumlah titik strategis di Kota Bandung.

“Sementara tiga mobil dulu, sehingga warga Bandung sehat lahir dan batin sehat jiwa dan raga. Jadi saya ingin warga Bandung tidak ada yang b***h diri, tidak ada yang stres. Temanya psikologis, jadi ini sistem jemput bola pemerintah yang mendatangi warga bukan warga yang mendatangi pemerintah,” pungkasnya.

3 Kasus B***h Diri Berturut-turut

Seperti diketahui, baru-baru ini setidaknya telah terjadi 3 kasus b***h diri berturut-turut di wilayah Jawa Barat, dua diantaranya terjadi di Kota Bandung.

Kasus b***h diri pertama terjadi Apartemen Gateway Kota Bandung, dengan korban dua orang kakak beradik bernama  Eliviana Parumbak (34) dan adiknya Eva Septiani Parumbak (28).

Kejadian ini sempat terekam oleh kamera telepon seluler masyarakat sekitar apartemen. Dalam rekaman terlihat yang pertama kali menjatuhkan diri adalah sang kakak, Eliviana Parumbak. Hanya berselang kurang dari satu menit, adiknya menyusul meloncat dari tempat yang sama.

“Pihak keluarga menganggap ini musibah dan menolak jasad korban diotopsi,” imbuh Kepala Kepolisian Sektor Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Komisaris Polisi Anton Purwantoro, Selasa (25/7/2017), melansir Tempo.co Juli lalu.

Peristiwa b***h diri kedua berlangsung Rabu (26/7/2017 di Kampung Cijumbre, RT 09 RW 03, Desa Citanglar Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Korbannya bernama Andy Renaldi alias Ano (53). Cara mengakhiri hidupnya dengan menggantung.

“Menggantung di sebuah gubuk di Puncak Lonceng Gunung Arca,” ungkap Kepala Polres Sukabumi Ajun Komisaris Besar Syahduddi. Kasus ini sekaligus mengungkap korban merupakan pelaku pembunuhan terhadap Yayan (warga Surade) pada Minggu (23/7/2017).

Polisi menemukan barang bukti berupa sepeda motor milik korban di rumah pelaku.”

Ada pun kasus percobaan b***h diri ketiga terjadi pada Kamis (27/7/2017). Korbannya seorang pria berinisial OK, umur 25 tahun, yang meloncat dari atas jembatan Pasupati, Kota Bandung. Pemicu b***h diri OK diduga karena persoalan asmara.

Baca juga: Tolak Eksekusi Lahan Adat, Masyarakat Sunda Wiwitan Gelar Aksi Protes

“Persoalan asmara yang tidak disetujui oleh ibunya,” ujar Kepala Polres Kota Bandung Komisaris Besar Hendro Pandowo.

Di Bandung sendiri, flyover Pasupati telah lebih dari tiga kali menjadi saksi bisu dari beberapa orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya, terhitung sejak tahun 2011.