Orang Arab Ini Laporkan Bos First Travel ke Polisi. Kasus Apa?


SURATKABAR.ID – Kasus yang menjerat Bos First  travel Andika Surachman ternyata bukan hanya datang dari korban calon jemaah umrahnya. Jumat (25/8/2017), pengusaha hotel Dyar Al-Manasik di Arab Saudi, Ahmed Saber, melaporkan Andika ke Bareskrim Polri, Jakarta, dengan tuduhan penipuan dan penggelapan terkait penyewaan kamar hotel serta catering untuk jemaah umrah di Arab.

“Kami melaporkan FT karena utang sebesar Rp 24 miliar yang dilakukan oleh Direktur First Travel,” kata pengacara Saber, Turaji di kantor Bareskrim seperti diberitakan kompas.com.

Semula, di tahun 2015, ucap Turaji, kerja sama antara First Travel dengan perusahan hotel Saber berjalan lancar. Masuk ke tahun 2016, pembayaran mulai ada yang terlambat meski hanya satu bulan.

Baru di tahun 2017, Saber tak lagi menerima pembayaran dari First Travel. Padahal jemaah umrah First Travel masih datang ke hotelnya. Saat Saber hendak menagih, Andika selalu berdalih.

“Sebelum kontrak Andika mengatakan bahwa pembayaran atas kamar hotel akan lancar karena uang yang akan digunakan untuk membayar kamar hotel tersebut sudah berada di rekening First Travel,” ujar Turaji.

Gerah dengan kelakuan rekanan bisnisnya ini, lanjut Turaji, Saber pun memutuskan untuk menemui langsung Andika di Indonesia, tepat setelah bulan puasa kemarin. Lantas, saat itu baru tahulah Saber bahwa First Travel sedang bermasalah di Indonesia.

“Ditagih tidak kunjung bayar, kemudian dia nelepon dihindari. Pada akhirnya harus datang ke kantor dan rumah yang bersangkutan,” kata Turaji.

Andika pun dilaporkan Saber dengan nomor laporan polsi LP/855/VIII/2017/Bareskrim tertanggal 25 Agustus 2017. Dalam kasus ini, penyidik Bareskrim menetapkan Direktur First Travel Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Hasibuan, sebagai tersangka.

Modusnya adalah menjanjikan orang untuk berangkat umrah degan target waktu yang ditentukan. Namun, hingga waktunya tiba, calon jemaah tak kunjung menerima jadwal keberangkatan. Bahkan, ada pula sejumlah korban yang mengaku diminta menyetor biaya tambahan agar bisa berangkat.

Baca Juga: Jadi Budak Nafsu Majikan, Begini Pengakuan Pilu TKW Indonesia di Taiwan

Selain itu, polisi juga menetapkan adik Anniesa, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan selaku Direktur Keuanan sekaligus Komisaris First Travel sebagai tersangka. Polisi mengungkapkan, jumlah korban yang belum diberangkatkan agen perjalanan umrah First Travel adalah sebanyak 58.682 orang.

Korban yang terhitung itu adalah calon jemaah yang sudah membayar paket promo senilai Rp 14,3 juta per orang dalam periode Desember 2016 hingga Mei 2017. Maka jika dihitung-hitung kerugiannya mencapai Rp 839.152.600.000. Belum ditambah dengan calon jemaah yang menyetor biaya tambahan sebesar Rp 2,5 juta untuk carter pesawat. Jadi, totalnya mencapai Rp 848.700.100.000.

Angka di atas belum termasuk utang-utang yang belum dibayar First Travel ke sejumlah pihak. Belum juga ditambah dengan kewajiban First Travel membayar provider tiket penerbangan senilai Rp 85 miliar dan kewajiban membayar tiga hotel di Mekkah serta Madinah dengan total Rp 24 miliar. Terakhir, First Travel juga belum membayar utang pada provider visa untuk menyiapkan visa jemaah sebesar Rp 9,7 miliar.