Waspada! Ini Bahaya yang Mengintai Jika Terlampau Banyak Minum Jamu


SURATKABAR.ID Jamu dinilai sebagai obat alternatif yang manjur untuk berbagai macam penyakit. Sebagai minuman tradisional jamui memiliki ragam seperti beras kencur, kunyit asem, temulawak, pahitan, cabe puyang hingga uyup-uyup.

Bahan-bahan pembuatan jamu yang berasal dari rempah dan akar-akaran seperti kunyit, jahe, asam, sirih, pahitan sampai gula Jawa. Semua bahan alami ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kencing manis, kolesterol, pegal linu, sampai menurunkan berat badan.

Dikuti dari cnnindonesia.com pada Minggu (20/08/2017), para dokter mengaku belum bisa berbicara banyak tentang khasiatnya meskipun resep dan khasiat jamu memang sudah dikenal turun-temurun.

Fiastuti Witjaksana, dokter giji dari klinik dari MRCCC Siloam Semanggi, menuturkan jamu merupakan jamuan turun temurun yang setiap pembuatannya hanya berdasarkan resep nenek moyang, belum secara ilmiah.

Baca Juga:  Simak! Inilah 5 Minuman Rendah Kalori yang Bisa Cegah Kegemukan

“Kalau jamu ini kan macam-macam dan masing-masing ‘bumbunya’ memiliki efek yang berbeda dan dibilang sebagai herbal. Ini tidak sama dengan obat yang sudah melewati penelitian. Kalau ini (jamu) kan enggak, (hanya) berdasarkan ilmu turun-temurun,” ujar Fiastuti.

Fiastuti menambahkan, Jamu diragukan karena belum adanya penelitian ilmiah, sehingga terbatasnya informasi soal, ‘dosis’, dan juga siapa saja yang diperbolehkan untuk mengonsumsi jamu.

Dokter giji ini juga mengatakan, meminum jamu juga harus punya takarannya sendiri. Dengan kata lain, minum jamu tak bisa disamakan seperti minum air putih yang bisa dinikmati setiap saat. Sayangnya banyak orang yang belum tahu soal ini. Hal ini membuat banyak orang akhirnya punya kebiasaan buruk untuk minum jamu secara berlebihan.

“Berapa banyak kunyit, berapa banyak asam, berapa banyak diminum per hari tidak ada yang tahu kan. Belum ada penelitian yang mengatakan jika kita minum kunyit asem, kunyitnya lima gram, asemnya lima gram, efek sampingnya apa belum ada kan,” tutur Fiastuti.