Mantan Ajudan Ir. Sukarno: Saya Melihat Sukarno Coba Dibunuh Berkali-kali


    SURATKABAR.ID – Bukan rahasia lagi jika Ir. Sukarno, bapak proklamator kemerdekaan Indonesia pernah beberapa kali berhadapan dengan maut. Tak hanya sekali dua kali, sejak era perjuangan melawan pemerintah Belanda hingga menduduki tampuk kepemimpinan, nyawanya selalu dalam ancaman. Memasuki era 1950-an, frekuensi ancaman-ancaman ini semakin tinggi sehingga saat itu ia dirasa perlu mendapat pengawalan pribadi yang lebih ketat. Seperti kisah yang dituturkan oleh Kolonel (Purn) H. W. Sriyono yang bertindak sebagai staf ajudan Sukarno ini.

    Kolonel (Purn) H. W. Sriyono merupakan salah seorang yang berada di lingkaran pengamanan Sukarno. Ia dipilih pada 1952 untuk melaksanakan tugas-tugas secara fisik serta pengamanan untuk Sukarno. Demikian sebagaimana dilansir dari liputan CNNIndonesia.com, Kamis (17/8/2017).

    “Jadi kalau ke mana Bung Karno pergi, mereka mengadakan advance dulu, tujuan Bung Karno ke mana, kami datengin dulu, kami cek tempat yang akan dipakai, acara, siapa penanggungjawabnya, dan persiapan makan-makannya. Lalu, sampai tidur. Ya, persiapan tempat tidurnya dan sebagainya itu semua kami cek. Kalau sudah merasa aman dan kami yakin akan aman, baru kami laporkan ajudan. Jadi, bisa presiden dibawa ke situ,” papar pria yang sudah berusia 87 tahun itu di Gedung Wira Purusa LVRI DKI Jakarta.

    Jumat Durjana—Dilempar Granat

    Ada beberapa usaha pembunuhan yang sangat diingat oleh Sriyono sewaktu masih menjadi staf ajudannya sejak usia 22 tahun. Peristiwa pertama yaitu pelemparan granat di Sekolah Dasar Cikini yang dikenal dengan sebutan Jumat Durjana. Saat itu Sukarno sedang melakukan inspeksi atau kunjungan ke SD Cikini, sekolah tempat putri kandungnya, Megawati Soekarnoputri, belajar.

    Baca juga: Akankah Kemenkumham Berikan Remisi pada Ahok Hari Ini?

    “Kalau namanya saya masih ingat yaitu Saadon dan Tasrif dari kelompok organisasi yang ekstrem kanan, tapi Alhamdullilah Bung Karno tidak sampai meninggal, terkena sedikit pun tidak, tapi anak pelajar banyak yang kena, ada yang sampai meninggal,” kenang Sriyono.

    Penembakan AURI

    Peristiwa selanjutnya yakni terjadi di dalam Istana Presiden. Ada penembakan dari pesawat militer dari AURI, Letnan Daniel Maukar. Peristiwa itu terjadi kurang lebih pukul sebelas siang. Biasanya, menurut Sriyono, pada jam-jam itu Bung Karno turun dari ruangan kerja ke ruangan makan.

    “Tapi kebetulan hari itu beliau tidak turun untuk makan siang. Ruang makan tersebut pun habis ditembaki dari atas, tetapi Bung Karno selamat karena tidak ada di tempat,” ungkap Sriyono.

    DI/TII

    Pada perayaan Idul Adha pun usaha pembunuhan masih terus terjadi. Saat sedang mengadakan salat Idul Adha, ada simpatisan DI/TII yang mengeluarkan senjata dan langsung menembak ke arah Sukarno dari belakang. Meski ancaman datang dari jarak hanya 5-6 meter, Bung Karno tidak terluka sama sekali karena tembakan meleset. Hanya saja, peluru mengenai bahu imam Salat Id yang juga Ketua DPR saat itu, Zainul Arifin.

    Orator Ulung

    Sriyono, pria yang sudah berjuang sejak umur 14 tahun ini menuturkan bahwa Bung Karno merupakan seorang pemimpin yang merakyat. Sukarno selalu mendengarkan dan memerhatikan suara-suara rakyat. Menurut Sriyono, setiap sore, saat belum ada pengamanan yang cukup ketat, Bung Karno sering jalan-jalan ke Daerah Sawah Besar sembari menyapa rakyatnya.

    Sriyono terkesan dan kagum ketika Bapak Bangsa ini menyampaikan pidato untuk rakyatnya. Sriyono menyebutkan, setiap Bung Karno pidato, semua rakyat ingin mendengarkan pidato beliau. Bahkan, ketika berpidato di radio pun, tukang becak berhenti untuk mendengarkan.

    “Kalau kunjungan ke daerah-daerah sampai-sampai ibu-ibu itu meminta, ‘Mana bekas minumnya Bapak?’. Semua berebut kepingin punya anak seperti Bung Karno, itu bukan politik hanya pengalaman sehari-harinya saja,” kata Sriyadi menceritakan kekagumannya pada Bung Karno.

    Selain itu, cara Bung Karno memberikan perintah kepada bawahannya seperti panggilan antara anak dan orang tuanya, tidak membeda-bedakan kedudukan dan pangkat seseorang.

    “Kewibawaan Bung Karno, kalau sudah bilang diam, semua diam. Tidak ada yang menyulut lagi,” papar Sriyono.

    Rapat Raksasa di Lapangan IKADA

    Ia pun mengenang peristiwa 19 September 1945, atau Rapat Raksasa di Lapangan IKADA. Di sana Sukarno membius ribuan orang dengan orasinya soal kemerdekaan Indonesia. Bagi Sriyono, meski tak menyaksikan langsung, peristiwa ini punya makna penting karena setelah proklamasi 17 Agustus, ia merasakan rakyat Indonesia sebenarnya belum sungguh-sungguh percaya negara sudah merdeka. Di lapangan IKADA itulah Sukarno berhasil meyakinkan mereka–bahwa pemerintahan memang benar ada dan siap mempertahankan kemerdekaan.

    “Rakyat ini kan ingin tahu apakah Jepang masih berkuasa. Ada ribuan rakyat berkumpul di lapangan menunggu, tentara Jepang sudah siap semua di situ. Begitu Bung Karno datang, dia ngomong ‘Kalau masih percaya sama saya sekarang juga dengan tertib, aman, pulang.’ Lalu mereka pulang semua. Padahal rakyat itu ribuan, kepingin tahu apa yang terjadi. Itu wibawanya seperti itu yang kami rasakan di mana-mana,” beber Sriyono.

    Rapat besar IKADA sendiri hanya berlangsung beberapa menit karena Sukarno meminta rapat dibubarkan dan rakyat mempercayakan hal-hal terkait pelaksanaan kemerdekaan pada pemerintah.

    Kini, 72 tahun berselang setelah proklamasi, berpuluh-puluh tahun setelah Sriyono mengawal Sukarno, ia masih ingat benar semangat yang mendorongnya untuk berjuang demi kemerdekaan: menciptakan satu keadilan, kenyamanan ketentraman, bagi bangsa dan negara.

    Di mata Sriyono, selama 350 tahun Indonesia dijajah, tidak ada perubahan tata hidup bagi rakyat sehingga perlu bangsa Indonesia mengatur dirinya sendiri.

    Harga Mahal untuk Sebuah Kemerdekaan

    Sriyono menekankan kepada generasi muda bahwa kemerdekaan ini tidak didapat dengan mudah, atau gratis. Ia pun meminta generasi muda mengisi kemerdekaan ini agar menciptakan negara yang adil, makmur, aman, dan tentram. Ia juga berpesan agar generasi muda tidak melupakan sejarah karena sejarah merupakan jati diri bangsa. Begitu pula dengan dasar negara ini yaitu Pancasila.

    Baca juga: Bikin Haru! Veteran 93 Tahun Ini Bagikan Kisah Perjuangannya Melawan Penjajah Bersama Jenderal Ahmad Yani

    “Pancasila jangan jadi satu dasar negara saja, tetapi harus dijadikan satu kehidupan bagi Bangsa Indonesia. Setiap warga Indonesia harus berjiwa pancasila, apapun dia agamanya, apapun dia sukunya,” pungkas Sriyono.