Viral Video Demo Tolak FDS, Din Syamsuddin: Itulah Watak-Watak Radikal yang Perlu Diatasi


    SURATKABAR.ID – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin memberikan komentar pedas mengenai berdarnya video demonstrasi penolakan kebijakan pemerintah mengenai full day school (FDS). Ujuk rasa itu sendiri diduga dilakukan oleh santri Nahdlatul Ulama (NU).

    Pada video yang kemudian viral di media sosial tersebut terdengar teriakan-teriakan yang menyerukan pembunuhan terhadap Mendikbud, Muhadjir Effendy.

    “Enggak usah lah pakai demo-demo. Teriak-teriaknya b***h menteri, b***h menteri. Itu kan radikal itu. Itulah watak-watak radikal yang perlu diatasi,” kata Din, di Universitas Al-Azhar Indonesia usai memberi materi dalam seminar nasional, Senin (14/8/2017), dikutip dati tirto.id.

    Din berharap Mendikbud dan NU berdialog dengan baik perihal masalah ini, tidak dengan jalan berdemo.

    Baca Juga: Menebak Manuver SBY untuk Dorong AHY jadi Cawapres 2019

    “Jangan main pokoe. Pokoe menolak. Pokoe tidak setuju. Itu sikap yang radikal. Masih bisa dibicarakan antara kita. Apalagi pakai teriak b***h-b***h,” ujarnya.

    Bahkan Din mengatakan jika penolakan terhadap kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy bernuansa politik individu. Dimana Muhadjir adalah orang Muhammadiyah.

    “Malu lah ormas Islam itu kalau berbicara terkait dengan posisi politik,” kata Din.

    Din juga mengingatkan agar Muhammadiyah tidak bersikap demikian jika ada orang NU yang menjabat sebagai menteri. Muhammadiyah meski medukung jika ada orang NU yang jadi menteri.

    Din mengaku dirinya mendukung full day school, meskipun ia juga menolak bila madrasah diniyah dihapuskan. Sebab, kata Din, program full day school dan madrasah diniyah sama-sama baik bagi pengembangan karakter siswa di Indonesia.

    “Madrasah diniyah itu milik semua ormas Islam. Tidak ada satu ormas Islam yang bisa mengklaim hanya dia yang memiliki madrasah diniyah. Semua organisasi Islam punya madrasah diniyah,” kata Din.

    Sementara itu, pihak NU melalui Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi menyatakan jika pihaknya tidak menampik jika ada penolakan terhadap FDS di kalangan NU.

    Akan tetapi dia menampik jika ada intruksi untuk pengeragan massa. “Ada yang tidak setuju, tetapi mobilisasi massa enggak ada karena kita masih dalam proses negosiasi,” kata Masdar, Senin (14/8/2017).

    Ia mengungkapkan jika salah satu alasan penolakan FDS adalah kekhawatiran akan diberangusnya madarasah diniyah dan pesantren.

    “Indonesia menjadi negara Muslim terbesar dengan toleransi tinggi hasil didikan ustaz dan para kiai melalui diniyah dan pesantren itu. Kalau diberangus, nanti yang muncul Islam-Islam formil yang radikal,” kata Masdar.

    Baca Juga: Waspada! Panglima TNI Sebut Sudah Mulai Tumbuh Bibit Perpecahan Bangsa

    Mengenai video teriakan b***h menteri, NU melalui laman nu.or.id melakukan klarifikasi. Berikut pernyataan Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia (AMPPI) soal demontrasi penolakan kebijakan lima hari sekolah, Senin (14/8/2017) di Lumajang, Jawa Timur.

    Kronologi aksi:

    1. Pukul 08.00 WIB pada Senin, 7 Agustus 2017, seluruh pimpinan aksi sudah berkumpul di tempat utama aksi. Tidak ada acara long march. Karena acara utamanya adalah istighotsah.

    2. Setelah pimpinan aksi berkumpul, peserta aksi mulai berdatangan dan aparat keamanan berseragam lengkap juga sudah berjaga di lokasi.

    3. Sekitar pukul 08.30 WIB, peserta aksi dari beberapa Pondok Pesantren Sekitar lokasi Aksi (depan gedung DPRD Kabupaten Lumajang) berjalan kaki. Sebelum masuk arena Aksi, peserta aksi ini meneriakan yel-yel yang tidak jelas karena banyaknya massa yang hadir. Apakah yel-yel itu berbunyi cabut menterinya, kubur menterinya, mundur menterinya, atau b***h menterinya. Semua tidak jelas.

    4. Melihat Situasi itu Korlap Aksi Bersama Keamanan dari Polres Lumajang berupaya untuk mengendalikan massa dengan meminta peserta aksi untuk bergabung kedalam barisan Istighosah.

    5. Pukul 08.45 WIB Semua massa terkendali dan mengikuti acara istighosah dengan khidmat yang dipimpim oleh KH Ahmad Hanif dan KH Ahmad Qusairy dari Syuriyah PCNU Lumajang.

    6. Pukul 09.30 WIB dilanjukan dengan orasi oleh Korlap yang berisi tuntutan pencabutan Permendikbud no 23 tahun 2017. Dilanjutkan dengan statement Ketua Komisi D DPRD Kab. Lumajang (Sugianto) dan diiringi pernyataan sikap oleh Kordum aksi, Gus Nawawi.

    7. Pukul 10.15 WIB acara Doa Bersama dan peserta aksi membubarkan diri dikawal oleh Polsek masing-masing Kecamatan.

    8. Pukul 24.00 WIB dilaporkan oleh pihak keamanan Polres Lumajang bahwa seluruh peserta aksi sampai ke rumah masing-masing dengan selamat.

    Kesimpulan:

    1. Bahwa acara aksi damai menolak kebijakan FDS Lima hari sekolah oleh AMPPI telah mendapatkan izin dari pihak Polres Lumajang No: STTP/02/VIII/2017/SAT.IK.

    2. Konten acara Aksi Damai Tolak FDS Lima Hari Sekolah di kabupaten Lumajang Tanggal 07 Agustus 2017 berisi doa Bersama dan Istighotsah yang dipimpin oleh Katib Syuriyah PCNU Lumajang.

    3. Terkait Anak-anak yang hadir pada acara tersebut adalah santri yang diajak oleh orang tua (wali santri).

    4. Tidak ada instruksi untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas seperti yang di-upload dan disebarkan oleh media yang tidak suka dengan aksi tersebut.

    5. Kalau pun benar, pasti di luar tempat istighotsah, dan tidak termasuk dalam rangkaian aksi, dan pastinya kita akan ingatkan dan bina selanjutnya.

    6. Meminta pemerintah, tidak defensif menghadapi aspirasi soal FDS yang hanya akan ciptakan kebrisikan baru.

    7. Terkait press release yang dikeluarkan oleh KPAI tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, karena hanya didasarkan pada video, dan pihak KPAI tidak melakukan klarifikasi terhadap penanggung jawab aksi.

    8. Kepada semua pihak, kami mohon untuk tidak terpancing dan tidak memberikan informasi apapun terkait aksi damai tolak FDS lima hari sekolah tersebut sebelum mengklarifikasi kepada pananggung jawab aksi.