Bukan China, Mayoritas Saham Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Masih Didominasi RI


    SURATKABAR.ID – Proyek pengerjaan kereta cepat dengan trayek Jakarta-Bandung kini masih dikebut agar dapat diselesaikan pembangunannya pada 2019 mendatang. Dapat dipastikan, Indonesia masih memiliki mayoritas saham atas proyek terkait. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memastikan pembangunan masih berjalan terus hingga saat ini. Demikian sebagaimana diwartakan kembali dari lansiran Sindonews.com, Selasa (8/8/2017).

    Bintang Perbowo yang merupakan Direktur Utama Wijaya Karya menyebutkan, perusahaan sebagai salah satu anggota konsorsium untuk proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sedang mengebut. Adapun menyangkut perizinannya, Wika mengklaim hal itu masih dalam proses pengurusan di daerah.

    “Mempercepat, sedang kita lakukan dan untuk di daerah ada izin, kita kerjakan. Kita kerjakan dari semua rencana yang kita bahas dengan partner, selesai akhir 2019 mulai commissioning,” tuturnya di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

    Sebagaimana disebutkan Bintang Perbowo, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan agar pembangunan proyek tersebut bisa berjalan cepat dan dipenuhi oleh Wika. Semua syarat yang belum terpenuhi diharapkan rampung pekan ini.

    Baca juga: Begini Hebatnya Pesawat R80 Rancangan BJ Habibie

    “Jadi, yang diminta Pak Jokowi memenuhi ketentuan yang ada semuanya. Mudah-mudahan, kita sedang proses minggu ini semua yang jadi syarat kita penuhi,” urainya.

    Sementara soal saham, Ia menegaskan Indonesia tetap akan menguasai secara mayoritas di atas China. Sehingga, masyarakat umum tak perlu lagi mencemaskan terkait pembagian saham tersebut.

    “Mengenai saham enggak jadi (berubah). Kalau dimungkinkan, enggak. Kalau sekarang tetap 60% Indonesia, 40% China, saya rasa kita enggak usah khawatir,” tukasnya.

    Dari 60%-40% Menjadi 10%-90%, Benarkah?

    Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa China akan menambah porsi sahamnya dalam proyek tersebut. Dikatakan bahwa pemerintah berencana menurunkan porsi hak pengelolaan kereta cepat Jakarta-Bandung dari 60% menjadi hanya 10%. Artinya, porsi China yang menjadi mitra dalam mega proyek ini bakal meningkat dari 40% menjadi 90%. Demikian seperti dikutip dari reportase Detik.com.

    Saat ini, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) masih memegang saham sebesar 60% yang dimiliki oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Sisanya sebesar 40% dipegang China Railway International Co.

    Adapun PSBI adalah perusahaan bentukan empat BUMN yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).

    Hanggoro Budi Wiryawan selaku Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengaku belum mengetahui adanya rencana tersebut sewaktu tim wartawan hendak mengonfirmasikannya.

    “Saya enggak ikut rapatnya,” sahut Hanggoro singkat saat dihubungi media di Jakarta, Kamis (27/7/2017) lalu.

    Waktu disinggung lebih lanjut mengenai rencana penurunan porsi saham pemerintah dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, Hanggoro pun belum berani memberikan penjelasan lebih jauh.

    “Saya enggak berani komentar, nanti saya salah. Saya enggak ikut, enggak boleh kasih komentar,” sebut Hanggoro.

    Baca juga: Ini Sebabnya Fahri Hamzah Usulkan Semua Parpol Ajukan Capres dan Cawapresnya Masing-masing

    Hanggoro melanjutkan, bahwa belum ada komunikasi dari pemerintah selaku pemegang saham KCIC terkait rencana penurunan porsi saham tersebut.

    “Kalau saya enggak bisa jawab, belum ada perkembangan. Belum bisa kasih komentar,” pungkas Hanggoro.