Tak Banyak yang Tahu, Inilah Sejarah Garam Tanah Jawa dalam Legenda Aji Saka

    Bahkan Kisahnya Termaktub dalam Buku Pedoman Pengetahuan bagi Agen Garam Seantero Hindia Belanda


    SURATKABAR.ID – Kebijakan impor garam yang dikeluarkan pemerintah akibat kondisi garam langka di negara maritim Indonesia tentunya terdengar ironis dan memprihatinkan.

    Mengapa kelangkaan garam harus terjadi pada Nusantara di tengah baharinya yang luas mengelilingi bumi pertiwi kita? Sebagai bekal wawasan bagi para agen garam, dahulu kala pemerintah Hindia Belanda menggunakan legenda Aji Saka terkait ketersediaan garam di dataran Indonesia. Simak kisahnya berikut ini, sebagaimana dikutip dari liputan JPNN.com, Sabtu (5/8/2017).

    Sesosok lelaki bertubuh ular muncul menyusur ke dalam istana Medangkamulan. Prabu Aji Saka terperangah dibuatnya. Baruklinting—demikian namanya—datang dan mengaku sebagai putra Sang Prabu. Melihat sosok Baruklinting, ingatan Aji Saka melambung pada peristiwa sekian tahun sebelumnya sewaktu dirinya tengah singgah di sebuah gubuk, di tengah hutan.

    Kala itu, Aji Saka menitipkan sebilah pisau kepada seorang gadis anak seorang petani seraya berpesan, jangan sesekali memangku pisau tersebut. Rupanya, tanpa disengaja, si gadis melanggar larangan itu dan memangkunya. Tangkai pisau pun mendadak sirna. Gadis itu lantas hamil, kemudian melahirkan Baruklinting.

    Karena tak mau mengakui Baruklinting sebagai sang anak, Aji Saka pun mencari akal. Dia menitah syarat. Jika mau diaku anak, Baruklinting harus membawakan kepala buaya putih, musuh bebuyutan Aji Saka, beserta air laut. Sebetulnya, syarat ini sulit dikabulkan. Meski begitu, sang anak, Baruklinting tetap menerimanya.

    Baca juga: Menuai Kontroversi Atas Kehamilan Barunya, Benarkah Kini Ashanty Keguguran?

    Baruklinting pun pergi ke Laut Selatan. Dalam ombak yang bergolak, muncullah seekor buaya putih incarannya—langsung berhadap-hadapan dengan Baruklinting. Tak ayal, pertarungan sengit terjadi. Dengan satu siasat, akhirnya buaya putih pun terjerat dan kalah di tangan Baruklinting.

    Menjinjing kepala buaya putih, Baruklinting lalu pulang ke Medangkamulan, istana Aji Saka, dengan memasuki permukaan tanah. Di tengah jalan, dia merasa lelah dan ingin istirahat.

    Baruklinting muncul dari tanah. Dan seketika, “tempat itu menjadi sumber penggaram berupa belik atau sendang,” demikian sebagaimana dikutip dari Asal Mula Sumber Garam Kuwu: Cerita Rakyat dari Daerah Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah.

    Letak sumber garam tersebut kini berada di desa Yono, kecamatan Tawangharjo.

    Setelah jeda, Baruklinting melanjutkan perjalanan dan kembali masuk dalam tanah. Merasa telah berada di bawah Medangkamulan, Baruklinting pun muncul tetapi tak menemukan seonggok pun bangunan istana.

    Ia keluar masuk tanah, dengan linglungnya mencari istana. Lubang-lubang tersebut lagi-lagi menjelma menjadi sumber garam. Berdasarkan kutipan kisah tersebut, lubang-lubang itu berada di desa Crewek, Banjur, dan Kuwu di wilayah Gobrogan, Jawa Tengah.

    Baruklinting pun mendapat julukan baru; Jaka Linglung.

    Termaktub dalam Buku Pedoman Pengetahuan bagi Agen Garam Seantero Hindia Belanda

    Legenda Aji Saka dan Baruklinting atau Jaka Linglung serta asal mula sumber garam di Grobogan juga tercatat dalam De Zoutregie in Nederlandsch-Indie:Handboek tot de kennis van`s Lands Zoutmiddel in Nederlansch-Indie, eene Economisch-Historische Studie, door P.H. van der Kemp 1894.

    Kisah Jaka Linglung termaktub dalam bagian pembuka buku pedoman pengetahuan bagi agen garam seantero Hindia Belanda itu.

    Lubang sumber garam, lanjut De Zoutregie in Nederlandsch-Indie, merupakan lubang tanah liat berisi lumpur berkadar garam.

    Para petani garam, “datang dari tempat jauh untuk mengorbankan bayang-bayang Aji Saka, ayah Jaka Linglung.”

    Para petani berjongkok di depan lubang memberi sesajian. Lalu menggali lubang sedalam sekitar dua belas kaki dan membuat dinding berkayu agar tanah tidak longsor.

    Garam di Grobogan serupa dengan garam di sepanjang Pantai Selatan; halus, tapi tidak berwarna indah, berbeda dengan garam asal Madura.

    Baca juga: Soal Kasus Novel, Waketum Gerindra: Polri Tahu Penyerangnya, Tapi Ditutupi

    Meski bukan pengelolaan garam legal, Pemerintah Hindia Belanda tetap mengizinkan para petani garam Grobogan menambak lubang sumber garam tersebut.

    Pemuatan legenda Aji Saka-Jaka Linglung dalam sejarah garam di Jawa ini memperlihatkan betapa lihainya pemerintah Hindia Belanda memanfaatkan pola kepercayaan dan budaya rakyat ketika memonopoli garam di negeri ini.