Gemilang! 4 Mahasiswa ITB Ciptakan Tas Khusus Pertama Penyandang Skoliosis


SURATKABAR.ID – Tas pada umumnya merupakan benda yang tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas sehari-hari. Bagi penyandang skoliosis, bobot berat tas yang dipikul dapat memperparah masalalah tulang belakang yang dideritanya. Sementara itu, butuh waktu untuk selalu mengukur secara manual bobot tas yang aman.

Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Muhammad Dita Farel (Teknik Geodesi dan Geomatika 2015), Firdausi Zahra Gandes (Teknik Geodesi dan Geomatika 2015), Hana Alifiyanti (Teknik Geodesi dan Geomatika 2015), dan Lalu Rahmat Faizin (Teknik Geologi 2015) menciptakan tas punggung yang dapat meringankan pekerjaan penyandang skoliosis dalam mengontrol bobot tas yang dibawanya. Tas ini mereka beri nama Tasko.

“Tasko merupakan sebuah tas dengan metode sensor berat yang dirancang untuk meminimalisir bertambahnya derajat kemiringan tulang belakang akibat tas punggung bagi para penyandang skoliosis,” kata Muhammad Dita Fare, dikutip dari antaranews.com, Rabu (2/8/2017).

Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang menunjukkan kondisi deformasi tulang belakang ke arah lateral (samping) sehingga menyebabkan kurvatura.

Di satu sisi, tas atau beban yang dibawa di punggung menjadi salah satu faktor besar semakin bertambahparahnya skoliosis. Namun di sisi lain, tas pun terasa sulit dihindari bagi penyandang skoliosis, apalagi yang masih pelajar.

Dengan demikian, dibutuhkan inovasi, dalam hal ini tas khusus bagi para penyandang skoliosis yang kerap membawa beban berat sehingga bisa meminimalisir akibat buruk dari beban yang dibawanya. Hal itulah yang dijawab oleh keempat mahasiswa ITB ini.

Baca Juga: Inilah Kronologi Order Fiktif Go Food yang Berujung Laporan Polisi

Tasko, Dita melanjutkan, juga dilengkapi dengan komponen-komponen khusus lainnya yang tidak dimiliki tas-tas pada umumnya, seperti movable compartment, one strap, dan adjustable belt.

“Komponen-komponen tambahan ini mampu memberikan kemudahan bagi para penyandang skoliosis dikala menggunakannya. Jangan lupakan juga desain Tasko yang menarik sehingga mampu meningkatkan rasa percaya diri bagi para penderita kelainan tulang belakang ini,” katanya.

Hingga saat ini, dampak spesifik penggunaan Tasko bagi penyandang skoliosis belum bisa dihitung atau diukur secara presisi. Namun, mengingat bahwa baru Tasko ini lah yang menjadi pionir dalam hal inovasi bagi penyandang skoliosis, Dita dan kawan-kawannya berharap agar ciptaannya bisa mendapat perhatian khusus dari pihak-pihak terkait.

“Untuk dapat melihat dampaknya, setidaknya diperlukan waktu hingga enam bulan sampai proses pengujian medis dapat dilakukan.”

“Semoga ke depannya Tasko dapat membantu para penderita skoliosis untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang memberikan dampak negatif bagi kesehatan tulang belakang mereka,” pungkas Dita.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaNovel Baswedan: Koruptor adalah Teroris yang Sebenarnya
Berita berikutnyaKarena Terorisme, Dulu Telegram Ditutup. Sekarang Bakal Dibuka Lagi, Ada Apa?