Inilah Kronologi Order Fiktif Go Food yang Berujung Laporan Polisi


    SURATKABAR.ID – Kini Sugiharti alias Arti (28) harus menjalani proses hukum yang menjeratnya. Ia telah ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik oleh Polres Jakarta Timur. Sugiharti juga mengaku kepada penyidik bahwa dirinya terlibat dalam order fiktif Go Food. Berkut adalah kronologinya.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Jakarta Timur, AKBP Sapta maulana Marpaungdi mengungkapkan bahwa kasus pencemaran nama baik yang menjerat Sugiharti didasarkan pada laporan Julianto Sudrajat (30). Laporan itu terkait dengan status facebook Sugiharti.

    Julianto melaporkan Sugiharti pada awal Juli 2017 lalu. Laporannya berisi status Sugiharti di media sosial yang menyudutkan Julianto.

    “Tersangka mengaku dihamili dan dicuri uangnya oleh Julianto. Itu ia tulis di Facebook, Instagram, dan Twitter,” kata Sapta di Jakarta, Selasa (1/8/2017), dikutip dari cnnindonesia.com.

    Berdasarkan keterangan Julianto, perkenalan antara Sugiharti dan Julianto terjadi melalu Facebook tahun 2016 silam. Lalu, Sugiharti satu waktu datang ke kantor Julianto untuk melamar pekerjaan. Namun momen tersebut diakui julianto digunakan Sugiharti untuk mengorek identitasnya.

    Beberapa hari berselang, Sugiharti menulis status di media sosial bahwa dirinya telah dihamili dan dicuri uangnya oleh Julianto. Bahkan, Sugiharti juga mengunggah Kartu Tanda Penduduk (KTP) Julianto dalam statusnya tersebut.

    “Itu yang membuat perusahaan merumahkan saya sekarang,” ujar Julianto.

    Pernah satu waktu Julianto menawarkan Sugiharti untuk berdialog dan menanyakan maksud Sugiharti menulis status itu. Sayang, Sugiharti menolak dan kabur.

    Tak berselang lama, kata Julianto, tibalah orderan makanan yang diantar oleh ojek online. Lantas, kepada drivernya, Julianto mengaku bahwa ia tidak pernah memesan makanan. Namun karena kasihan, Julianto membayar makanan tersebut.

    Ternyata, lanjut Julianto, ulah Sugiharti tak berhenti sampai di sana. Wanita itu terus memesan makanan atas namanya. Julianto samapi ngotot menunjukkan pada drivernya bahwa nomer telfon pengorder makanan itu berbeda dengan nomor telfon miliknya.

    “Tagihannya kira-kira mencapai Rp 3 juta,” kata Julianto.

    Baca Juga: Kisah Wanita yang Tolak Warisan Rp 5,4 Triliun Demi Cintanya

    Dengan orderan yang datang terus menerus, Julianto pun merasa geram dan mengambil keputusan untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Ternyata di kepolisian, ditemukan korban order fiktif lain dengan kasus serupa. Ia bernama Dafi.

    Dari kasus serupa yang dialami Julianto dan Dafi ini, berdasarkan keterangan dari keduanya, pelaku order fiktif ini bermuara pada satu nama, yakni Sugiharti. Dan belakangan kala Sugiharti diperiksa, ia mengakuinya.

    Kasatreskrim Polres Jakarta Timur, AKBP Sapta mengatakan bahwa Sugiharti melaukan order fiktif Go Food dengan motif ingin membalas sakit hati karena cintanya ditolak Julianto.

    Usai ditetapkan sebagi tersangka, selama proses pemeriksaan, Sugiharti tidak ditahan. Hal tersebut disebabkan perlaku kooperatif Sugiharti.

    “(Tersangka) Kami tidak tahan ya karena kooperatif dan alamat rumahnya jelas,” kata Sapta.

    Sapta menambahkan, Polisi akan memeriksa lagi Sugiharti dan dua keponakannya berinisial FH dan R yang diduga ikut terlibat dalam pemesanan makanan dengan ojek online. Namun, Sapta mengatakan FH dan R sama sekali tidak tahu menahu tujuan Sugiharti menyuruh keduanya pesan makanan itu.

    Pasal yang menjerat sugiharti sendiri adalah UU Nomor 19 tahun 2016 tentang ITE. Tentu terkait dengan status di media sosia yang dunggahnya.