Prabowo Dipecat atau Diberhentikan Secara Terhormat? Begini Cerita Versi BJ Habibie


SURATKABAR.ID – Perdebatan sengit perihal karir militer Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto muncul kembali. Awal mula munculnya perdebatan itu kembali lantaran pernyataan peneliti Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas yang menyebutkan jika Prabowo Subianto dipecat dari karir militernya.

Dan pernyataan dari Sirojudin itu langsung dibantah oleh Sufami Dasco Ahmad, selaku Wakil Ketua Umum Gerindra. Dasco menyebutkan jika pimpinananya itu diberhentikan secara terhormat saat itu.

“Kok dipecat? Prabowo nggak pernah dipecat. Dia diberhentikan dengan hormat dari dinas militer,” kata Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad Senin (31/7/2017), dilansir dari Detik.com

Lalu bagaimana ya kira-kira akhir karir militer dari Pabowo Subianto ini?

Bacharudin Jusuf Habibi atau BJ Habibie yang menjabat sebagi Presiden kala itu pernah membeberaan kisah itu. Habibi-lah yang mencopot Prabowo Subianto dari jabatan Panglima Kostrad. Dan cerita itu ditulis oleh BJ Habibi dalam buku yang berjudul Detik-Detik yang Menentukan Jalan panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006).

Baca juga: Kisah Siti Naisah Simbolon, Warga Samosir Pertama yang Berhaji ke Tanah Suci

Di dalam buku yang memiliki tebal 111 halaman itu, terdapat dialog Habibie dengan Prabowo saat dilakukan pergantian Panglima Kostrad pada 23 Mei 1998. Prabowo kala itu menghadap presiden Habibie di Istana Merdeka untuk mempertanyakan pencopotan dirinya.

Dan pebicaraan mereka kala itu menggunakan bahasa Inggris seperti kebiasaan mereka.

“Ini suatu pengghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” kata Prabowo seperti yang tertera di dalam buku tersebut.

“Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti,” jawab Habibie.

Lalu Prabowo balik bertanya, mengapa hal itu dilakukan. Habibie manjawab jika beliau mendapat laporan dari Panglima ABRI tentang adanya gerakan kostrad yang menuju Jakarta, Kuningan dan Istana Merdeka. Namun Prabowo bersikukuh untuk ingin melindungi BJ Habibie.

“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie kepada Prabowo.

Baca juga: Mahasiswa Ini Cium Tangan Pria yang Berpenampilan Seperti Gelandangan. Alasannya Bikin Terkejut Banyak Orang

“Presiden apa Anda? Anda naif!” jawab Prabowo dengan nada marah.

“Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie.

Dan perckapan antara BJ Habibie dan Prabowo itu berlangsung sangat panas. Sampai-sampai akhirnya staf khusus Presiden kala itu yakni Sintong Pandjaitan meminta agar Prabowo meningglkan ruangan lantaran Presiden Habibie akan menerima tamu selanjutnya.

Singkat cerita, setelah dilengserkan dari jabatan Panglima Kostrad, Prabowo dikirim ke Bandung menjadi Komandan Sesko ABRI. Tak lama setelah itu, Dewan Kehormatan Perwira dibentuk dengan SK Pengab Nomor Sekp/533/P/VII/1998 tanggal 14 Juli 1998. Sebelum mengambil keputusan, Dewan Kehormatan Perwira melakukan persidangan di tanggal 10, 12, dan 18 Agustus dengan terperiksa yakni Letnan Jenderal TNI Prabowo Subianto sebagai Danjen Kopasus.

Baca juga: Wiranto: Presiden Jokowi Dipuji Internasional. Tapi di Dalam Negeri Kok Dihujat?

Dan akhirnya Dewan Kehormatan Perwira mengeluarkan surat yang isinya merupakan sederet pelanggaran Prabowo dan menutup dengan rekomendasi pemecatan dari TNI. Surat keputusan itu Nomor KEP/03/VIII/1998/DKP , dibuat dan ditandatangani pada 21 Agustus 1998 oleh Dewan Kehormatan Perwira Jenderal yang salah satunya anggotanya adalah Letjen Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun mengenai hal itu, Agus Hermanto selaku Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat menolak menilai dalam sejarah di tahun 1998 itu sebagai pemecatan Prabowo oleh Dewan Kehormatan Perwira.

“Pak SBY tidak pernah memecat Pak Prabowo. Jadi rasanya tidak ada seperti itu dan saya melihat pertemuan Pak SBY dan Pak Prabowo sangat akrab dan tidak ada masalah apapun,” ucap Agus di gedung DPR, Jakarta, Selasa (1/8/2017), seperti yang diwartakan oleh Kumparan.com

Agus menyebutkan jika informasi itu perlu diluruskan lantaran bisa menggangu hubungan Demokrat dan juga Gerindra.