Hikikomori, Penyakit Aneh yang Diidap Sejuta Warga Jepang


SURATKABAR.ID – Jepang tengah dipusingkan dengan penyakit aneh hikikomori yang menyerang jutaan warganya. Seseorang yang terserang penyakit ini selalu menghindari masyarakat dan aktiitas soial lainnya serta mengurung diri di kamar.

Sekitar 1 juta pemuda Jepang mengidap Hikikomori. “Generasi hilang” atau “Pemuda tak terlihat” adalah julukan bagi para penderitanya.

Yuto Onishi (18), dikutip dari ABC, telah mengurung diri di kamar tidurnya selama tiga tahun. Siang harinya ia habiskan dengan berselancar di dunia maya dan membaca komik di malam harinya. Onishi hanya sesekali keluar dari kamar untuk mencari makanan.

“Setelah Anda mengalaminya, Anda kehilangan realitas. Saya tahu itu tidak normal, tapi saya tidak ingin mengubahnya. Rasanya aman menjadi seperti ini,” kata Onishi.

Kebiasaan mengurung ini, aku Onishi, terjadi setelah dirinya dikucilkan teman-teman dan keluarganya. Ia juga menambahkan bahwa dirinya menjadi penderita Hikikomori setelah ia gagal memimpin tim di sekolahnya dan merasa malu. Lantas, perasaan itu diperparah dengan tekanan yang dibebankan keluarga padanya.

Dr Takahiro Kato, pakar Hikikomori yang mendalami penyakit ini di Universitas Kyushu, Fukuoka, mengatakan bahwa penderita penyakit ‘aneh’ ini mayoritas adalah pemuda cerdas dan berkemampuan tinggi.

“Saya sangat khawatir karena kini sekitar satu persen dari populasi Jepang mengidap hikikomori atau gangguan sejenisnya,” kata Kato, dilansir dari kompas.com.

Kato sendiri mengaku pernah menjadi penderita hikikomori pada masa remajanya. Berdasarkan pengalamannya itu, kini ia berupaya mencegah penyakit ini menyebar dan menyerang generasi muda.

“Sebagian besar dari mereka adalah lulusan universitas sehingga sangat berpengaruh terhadap perekonomian negeri ini. Sejumlah penderita adalah lulusan universitas ternama, dan ini sangat menyedihkan,” katanya.

Baca Juga: Ilmuwan Temukan Ruangan Rahasia di Makam Firaun yang Tak Pernah Tersentuh Selama 3000 Tahun Terakhir, Isinya Bikin Kaget

Budaya pengasuhan orang tua Jepang yang kerap berlebihan melindungi anak, lanjut Kato, disinyalir menjadi salah satu penyebab besarnya jumlah penderita hikikomori di sana. Selain itu, tuntutan-tuntutan keluarga kepada anak seperti harus masuk universitas terbaik, perusahaan terbaik, dan lain-lain mempunyai andil besar terhadap potensi terjadinya hikikomori.

“Para orang tua Jepang terlalu melindungi anak-anak mereka. Oleh karenanya, beberapa orang sangat sulit untuk menjadi mandiri. Itulah mengapa jumlah kasus hikikomori di Jepang sangat tinggi.”

Selain itu, kondisi lingkungan sekitar menjadi penyebab lainnya seseorang terserang hikikomori. Seseorang yang hidup di ingkungan keluarga golongan menengah ke atas mempunyai potensi lebih besar untuk terkenanya.

“Kondisi ini sangat jarang menimpa keluarga miskin sehingga lingkungan kelas menengah, keluarga kelas menengah, adalah kelompok yang paling rentan menderita hikikomori,” papar Kato.

Pemerintahan Jepang melalui Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan mendefinisikan hikikomori sebagai orang-orang yang tidak berpartisipasi di dalam masyarakat, terutama dalam hal bekerja atau belajar. Mereka juga tidak memiliki hubungan dekat di keluarga.

Hikikomori bisa diatasi dengan menjalani sejumlah terapi khusus. Sayangnya, di Jepang, untuk berbicara dengan anggota keluarga sendiri saja banyak penderita hikikomori yang enggan melakukannya. Apalagi menjalani terapi. Hal ini tentu menjadi tantangan serius Jepang.