Beras Oplosan Sebabkan Pemerintah Merugi Hingga Rp 10 Triliun


    SURATKABAR.ID – Akibat tindak pemalsuan beras oleh PT Indo Beras Unggul (PT IBU) yang berasal dari subsidi pemerintah, negara jadi merugi hingga triliunan Rupiah. Pernyataan ini disampaikan pemerintah melalui jubir Ana Astrid, selaku Kepala Subbidang Data Sosial-Ekonomi pada Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian.

    Sedangkan, Ana Astrid melanjutkan, yang dimaksud dengan beras memperoleh subsidi dari pemerintah yaitu dalam produksinya, beras tersebut ada subsidi input.

    “Yaitu subsidi benih Rp 1,3 triliun dan subsidi pupuk Rp 31,2 triliun, bahkan ditambah lagi ada bantuan sarana dan prasarana bagi petani dari pemerintah yang besarnya triliunan Rupiah juga,” bebernya seperti dilansir dari Antara via CNNIndonesia.com, Senin (24/7/2017).

    Ada Subsidi Beras Sejahtera

    Selain subsidi input, Ana juga menyebutkan bahwa terdapat subsidi beras sejahtera (rastra) yang jumlahnya mencapai Rp 19,8 triliun.

    Baca juga: Dituduh Manipulatif Jual Beras, Eks Menteri SBY Ini Sampaikan Klarifikasi PT Tiga Pilar Sejahtera

    “Ada juga subsidi beras sejahtera (Rastra) untuk rumah tangga sasaran (pra sejahtera) sekitar Rp 19,8 triliun yang distribusinya satu pintu melalui BULOG, dan tidak diperjualbelikan di pasar,” imbuhnya.

    Ia melanjutkan, beras yang diolah oleh PT IBU adalah beras medium yang berasal dari varietas unggul baru seperti IR64, Impari, Ciherang, dan lain-lain.

    “Seluruh beras medium dan premium itu kan berasal dari gabah varietas Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu IR64, Ciherang, Mekongga, Situ Bagendit, Cigeulis, Impari, Ciliwung, Cibogo dan lainnya yang diproduksi dan dijual dari petani kisaran Rp3.500-Rp4.700 per kilogram (kg) gabah,” urainya.

    Kejahatan Pangan

    Menurut Ana, PT IBU membeli beras tersebut dari petani dengan harga Rp 7 ribu per kg dan dijual hingga Rp 20 ribu per kg. Padahal, harga eceran tertinggi untuk beras medium di konsumen hanya Rp 9 ribu per kg.

    Ia juga menjelaskan, pada tahun 2016 sudah diterbitkan Permendag Nomor 63/M-DAG/PER/09/2016 dengan harga acuan beras di petani Rp7.300 per kg dan di konsumen Rp9.500 per kg.

    “Selanjutnya pada Juli 2017 diterbitkan Permendag Nomor 47/M-DAG/PER/7/2017 dengan harga acuan beras di petani Rp7.300 per kg dan di konsumen Rp9 ribu per kg,” tuturnya.

    Dengan selisih harga yang demikian besar, Ana menilai PT IBU telah mendapatkan keuntungan yang ditaksir mencapai Rp 10 triliun per tahun.

    “Harga beras di petani sekitar Rp7 ribu per kg dan harga premium di konsumen sampai Rp 20 ribu per kg, taruhlah selisih harga ini minimal Rp 10 ribu per kg bila dikalikan beras premium yang beredar 1 juta ton (2,2 persen dari beras 45 juta ton setahun), maka kerugian keekonomian ditaksir Rp10 triliun,” paparnya.

    Baca juga: Ini yang Membuat Amien Rais Yakin Prabowo akan Menangkan Pilpres 2019

    Anna menambahkan bahwa usaha yang dilakukan PT IBU telah merugikan produsen dan konsumen serta berpengaruh terhadap kenaikan inflasi. Ana berharap pihak berwenang segera menindak perusahaan tersebut.

    “Negara dirugikan oleh karena produsen maupun konsumennya merupakan rakyat Indonesia, serta akan berdampak pada inflasi. Kejahatan pangan, apa pun bentuknya harus dibongkar dan dihentikan,” tegasnya.