Dianggap Kafan Yesus, Darah pada Kain Kafan Turin Ini Diteliti. Hasilnya Mengejutkan


SURATKABAR.ID – Penelitian ilmiah baru-baru ini mengungkapkan sebuah hal mengejutkan. Hasil riset tersebut mengklaim satu penemuan kain kafan Turin yang ternoda oleh darah korban penyiksaan. Klaim ini mendukung teori bahwa kafan itu merupakan kain kafan yang digunakan untuk membungkus tubuh Yesus usai disalibkan.

Melansir laporan Sindonews, Rabu (19/7/2017), disebutkan bahwa kain kafan Turin sepanjang tiga meter tersebut memiliki gambar yang oleh beberapa orang diyakini sebagai gambar Yesus.

Penelitian terbaru itu dilakukan oleh berbagai institusi di bawah Dewan Riset Nasional Italia dan dipublikasikan di jurnal ilmiah Amerika Serikat, Plos One. Hasil penelitian ini bertentangan dengan teori bahwa wajah Yesus digambar ke kain tersebut oleh pemalsu pada zaman abad pertengahan.

Elvio Carlino, yang memimpin penelitian di Institute of Crystallography di Bari, Italia, mengatakan bahwa kain itu mengandung nanopartikel dari kreatinin terbatas serta nanopartikel besi oksida, yang mengindikasikan trauma parah, bukan cat seperti teori yang muncul sebelumnya.

Baca juga: Ternyata Bekerja Dari Rumah Membuat Anda Lebih Bahagia dan Luar Biasa Produktif, Riset Ini Mengungkapkannya

Seperti dilansir surat kabar Italia, La Stampa, Carlino, menuturkan bahwa korban yang terbungkus kain kafan itu kemungkinan mengalami ”penderitaan besar” sebelum kematiannya.

Mengandung Nanopartikel Biologis

Profesor Giulio Fanti dari University of Padua setuju bahwa darah tersebut mengandung kadar kreatinin dan feritin tingkat tinggi. Kadar seperti itu, ungkap dia, biasanya ditemukan pada korban yang mengalami trauma atau penyiksaan.

”Oleh karena itu, kehadiran nanopartikel biologis ini ditemukan selama percobaan kami menunjukkan kematian yang hebat bagi pria yang dibungkus kain kafan Turin,” sebut Fanti, yang dikutip hari ini, Rabu (19/7/2017).

Riset tersebut juga merupakan kali perdana dilakukannya analisa dengan menggunakan metode yang baru dikembangkan di bidang terkait.

“Studi ini menandai pertama kalinya sifat nano dari serat murni yang diambil dari kain kafan Turin, dianalisis dengan menggunakan metode yang baru dikembangkan di bidang mikroskop elektron,” imbuh Carlino.

Penyaliban Yesus dari Nazaret atau Yesus Kristus (Isa Al-Masih) terjadi pada abad ke-1 Masehi, diperkirakan antara tahun 30-33 M. Menurut penanggalan Yahudi, Yesus mati tergantung di atas salib pada tanggal 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi dirayakan (tanggal 15 Nisan, dimulai pada sekitar pukul 18:00 saat matahari terbenam).

Baca juga: Perang Kuning, Kisah Gabungan Pasukan Jawa-Tionghoa yang Bersatu Melawan Kompeni Belanda

Hukuman mati dengan disalibkan tersebut dijatuhkan atas perintah gubernur Kerajaan Romawi untuk provinsi Yudea, Pontius Pilatus. Penyaliban dijatuhkan berdasarkan laporan para pemuka agama Yahudi saat itu, bahwa Yesus Kristus mengaku sebagai Raja orang Yahudi. Berita penyaliban dan kematian ini dicatat di sejumlah tulisan sejarawan Kerajaan Romawi, orang Yahudi dan murid-murid Yesus. Catatan yang paling rinci ditemukan di kitab-kitab Injil dalam bagian Perjanjian Baru Alkitab umat Kristen.