Soal Telegram yang Diblokir Kemkominfo, Begini Reaksi Mengejutkan Foundernya


SURATKABAR.ID – Pemblokiran jejaring sosial Telegram oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, memicu beragam reaksi dari berbagai pihak. Wacana tersebut memantik respon mengejutkan dari sang founder media sosial terkait, Pavel Durov. Melalui akun pribadi Twitter miliknya, @durov, ia mengicaukan pandangannya.

Reaksi Durov muncul setelah seorang netizen ‘melaporkan’ wacana pemblokiran tersebut dengan me-mention akun @durov, demikian menurut reportase di laman Tribun, Minggu (16/7/2017).

“Dear papa @durov did you hear that telegram will be blocked in Indonesia ? I’ll be extremely sad if it happen,” cuit akun @auliafaizahr mengadukan situasi yang terjadi.

(Papa @durov terkasih, sudahkah Anda mendengar bahwa Telegram bakal diblokir di Indonesia? Saya bakal sedih banget jika itu benar-benar terjadi).

Baca juga: Tegas! Soal Perppu Ormas, Jokowi: Yang Tak Setuju, Silakan Tempuh Jalur Hukum

Tak diduga, kicauan tersebut langsung dibalas oleh akun @durov.

“That’s strange, we have never received any requests/complaints from the Indonesian government. We’ll investigate and make an announcement,” balas @durov.

(Aneh, kami tidak pernah dikabari soal itu, juga tak ada komplain dari pemerintah Indonesia. Kami akan selidiki  dulu, nanti kami beritahu).

Kemudian, respon Durov kembali dijawab oleh netizen tersebut.

“Thx for the rspns mr. @durov, hopefully this wont happen again infuture, and sorry forbeing rude @kemkominfo, Indonesian love tlgrm thtmuch,” tandas akun @auliafaizahr.

(Terima kasih atas responnya, @durov, mudah-mudahan ke depannya ini tidak akan terjadi. Maaf kalau kurang berkenan @kemkominfo, Indonesia memang sebegitunya sukanya sama Telegram).

Pernyataan Durov terkait wacana pemblokiran tersebut juga ikut dilampirkan. Dalam pernyataannya, Durov mengaku sangat kecewa dengan wacana pemblokiran tersebut. Ia mengatakan pihak Kemkominfo telah mengirimkan surat elektronik daftar saluran publik yang terkait konten teroris di Telegram.

“Dan, tim kami tidak memprosesnya dengan sesegera mungkin,” tulis Durov dalam pernyataannya.

Berikut isi pernyataan Durov:

Alasan Pemblokiran

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan, pemblokiran situs Telegram didasari alasan dan bukti yang kuat bahwa ia telah disalahgunakan untuk penyebaran ajaran radikal yang mengarah ke terorisme.

“Kami punya bukti yang kuat, ada lebih dari 500 halaman, mulai dari ajaran radikal, cara membuat bom, ajakan membenci aparat kepolisian, banyak!” urai Rudiantara di Pesawat Kepresiden Boeing 737-400 TNI AU, Sabtu (15/7/2017).

Menurut penuturan Rudiantara, pemblokiran Telegram telah dikonsultasikan dan dikeluarkan atas persetujuan tiga institusi, yakni Kemkominfo, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Jadi kita tidak asal take down, BIN dan BNPT juga menyetujui situs ini diblokir,” tegas dia.

Sebagai tambahan, lanjut Rudiantara, dibandingkan penyedia fasilitas pesan instan dan media sosial lainnya, situs Telegram dianggap tidak memiliki prosedur pengaduan yang efektif sehingga menyulitkan komunikasi apabila pihaknya mendapatkan konten pesan yang berbahaya.

“Lain, misalnya, Twitter punya kantor di Jakarta, Facebook setidaknya ada di Singapura, dan semuanya bisa kita hubungi jika ada konten yang bermasalah,” bebernya lagi.

Oleh sebab itu, Rudiantara telah meminta Telegram untuk membuat standar operasional prosedur (SOP) penanganan konten-konten radikalisme.

Baca juga: Menguak Penyebab Djadjang Nurdjaman Hengkang dari Persib

“Kalau mereka sudah buat SOP-nya bisa kita review untuk membatalkan pemblokiran,” imbuh Rudiantara.

Sepertid diketahui, Kemkominfo pada Jumat (14/7/2017) telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram yang semula dapat diakses melalui PC.