Begini Akhir Cerita Dosen yang Gugat UU Energi Lantaran Dinilai Syirik


SURATKABAR.ID – Indrawan Sastronagoro, seorang dosen sekaligus insinyur teknik sipil menggugat UU Energi lantaran dinilai syirik dan menyekutkan ALLAH SWT. Namun, Mahkamah Konstitusi menolak seluruh argumen yang dilontarkan oleh Indrawan. Lalu bagaimana ya cerita lengkapnya?

Ternyata, kasus tersebut bermula saat Indrawan menggugat UU Nomor 30 Tahun 2017 tentang Eenergi. Dan salah satu pasal yang digugat adalah Pasal 1 angka 4 yang berbunyi seperti demikian,

“Sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), batu bara tercairkan (liquified coal) dan batu bara tergaskan (gasified coal).”

Baca juga: Jokowi Teken Perppu Pembubaran Ormas, Fahri Hamzah: Kalau Libatkan DPR Pasti Ditolak

Berdasarkan keterangan Indrawan pasal tersebut telah merugikan hak konstitusional pemohon, lantaran bertentangan dengan Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi,

“Negara Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Menurut Indrawan, hanya Tuhanlah yang bisa menciptakan sumber energi yang terbaharukan.

“Pasal 1, angka 4 tersebut menunjukkan menyekutukan Tuhan atau syirik. Karena yang menggunakan teknologi baru adalah manusia, bukan hewan, berarti manusia dengan teknologi baru bisa menghasilkan sumber energi baru, jadi sama pintar, menyamai Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang disebut syirik. Karena, dalam agama Islam, tidak ada yang menyamai Tuhan Yang Maha Esa,” kaat Indrawan.

Baca juga: Sandi Sebut Rumah DP 0 Rupiah untuk Penduduk Bergaji 7 Juta – 10 Juta

Indrawan menyebutkan jika dirinya mengalami kerugian. Yakni menyebabkan kerugian lantaran produktivitas menurun dikarenakan pikiran tidak tenang, kacau dan gundah. Misalnya saja dalam kondisi normal ia bisa mengajar 60 jam mata kuliah selama sebulan, namun karena hal itu hatinya merasa tersinggung, sebulan ia hanya mengajar 40 jam saja.

Pria kelahiran 15 Juli 1936 itu menyebutkan jika Pasal 1 angka 4 UU No 30 Tahun 2017 tentang energi menyekutukan Tuhan atau syirik dan hal itu berarti merendahkan agama Islam. Dan itulah yang dipermasalahkan oleh Indrawan. Tetapi, MK menolak permohonan itu dan berpendapat agar Indrawan memahanmi maksud satu ketentuan dalam undang-undang, haruslah sistematis dibaca pula ketentuan-ketentuan lain dalam UU tersebut.

“Pembacaan secara sistematis yang dilakukan Mahkamah terhadap UU 30/2007 tidak menemukan indikasi apa pun bahwa UU a quo telah menyekutukan Allah SWT melalui rumusan Pasal 1 angka 4, angka 5, dan angka 6,” ujar majelis MK

Baca juga: Geger! Politikus Cantik Ini Tantang Fahri Hamzah Debat Terbuka Terkait Angket KPK

MK berpendapat jika pengertian dari ‘sumber energi terbaharukan’ itu sangatlah jelas yakni semua hal di alam yang mampu menghasilkan energi dan (relative) tidak akan pernah habis. Dan seperti yang dicontohkan dalam Pasal 1 angka 6 UU Energi seperti halnya panas bumi, angin, gerak hujan, dan juga sinar matahari.

Atas pertimbangan itu, maka hakim memutuskan untu menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya. Dan keputusan tersebut diambil dengan suara bulat atas pertimbangan 8 hakim konstitusional. Mereka adalah Arief Hidayat, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, I Dewa Gede Palguna, Suhartoyo, Maria Farida Indrati, Manahan MP Sitompul, dan Saldi Isra.