Ini Jawaban Jusuf Kalla Terhadap Ancaman Revolusi dari Habib Rizieq


SURATKABAR.ID – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab sebelumnya diketahui telah mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah. Habib Rizieq yang kini masih di Arab Saudi tersebut meminta pemerintah untuk melakukan rekonsiliasi atau siap dengan risiko revolusi.

Seperti diwartakan metrotvnews.com, ultimatum tersebut disampaikan oleh Habib Rizieq melalui rekaman suara disebarkan Juru Bicara FPI Slamet Maarif. Dalam rekaman itu, Habib Rizieq menyebut pernyataan ini bukan berarti menyerah, melainkan implementasi semangat aksi bela Islam.

“Implementasi ruh aksi 411 dan 212 yang selalu mengedepankan dialog dan perdamaian dengan semua pihak,” kata Rizieq dalam rekaman suara itu.

Akan tetapi, Habib Rizieq meminta pemerintah menghentikan perkara yang menjerat para ulama dan aktivis sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi. Ia menilai kasus yang menjerat mereka sebagai upaya kriminalisasi.

Selain itu, Habib Rizieq menyatakan jika rekonsiliasi juga bakal gagal terwujud jika tidak ada upaya serius untuk penghentian penyebaran paham komunis, liberal, dan paham sesat lain. Pemerintah juga diminta menjunjung tinggi asas musyawarah dalam kehidupan berbangsa.

Jika tak disetujui, Rizieq punya cara lain. “Tak ada pilihan lain bagi rakyat dan bangsa Indonesia kecuali revolusi,” kata Rizieq.

Baca Juga: Setelah Bertemu Jokowi, Bachtiar Nasir Minta Habib Rizieq Pulang ke Indonesia

Menanggapi pernyataan Habib Rizieq tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla berpendapat jika rekonsiliasi sulit terwujud jika individu yang meminta tersebut tersangkut perkara hukum.

“Kita tidak (melakukan) rekonsiliasi (bagi) yang mempunyai tindakan hukum,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (4/7/2017), dikutip dari metrotvnews.com.

Kalla mengaku tidak paham secara detil perkara hukum yang kini sedang dihadapi oleh Habib Rizieq. Ia menyatakan tidak mengikuti perkembangan kasus percakapan mesra yang diduga dilakukan oleh pimpinan FPI tersebut dengan seorang janda cantik bernama Firza Husein.

Orang nomer dua di Indonesia tersebut juga menyatakan tidak paham betul dengan rekonsiliasi yang dimaksudkan oleh Habib Rizieq. Ia menyatakan jika rekonsiliasi bisa bejalan, namun dengan syarat tertentu.

“Hukum tetap berjalan, ada batas begitu, tapi tentu butuh kajian lebih lanjut lagi,” terangnya.