Resign dari Bank, Wanita Ini Buka Usaha Sendiri dan Raup Rp 120 Juta per Bulan! Ini  5 Rahasia Kesuksesannya


SURATKABAR.ID – Di Provinsi Lampung, selama ini kawasan Jl. Z.A. Pagar Alam, Kedaton, sudah dikenal sebagai pusat olahan keripik pisang. Sampai sekarang, sekiranya sudah ada 40 kios yang berdiri di sepanjang jalan yang juga dikenal sebagai Gang PU tersebut. Salah satu pemilik usaha olahan keripik pisang tersebut bernama Yuni (35).

Saat dikonfirmasi tim wartawan untuk membagikan kisahnya, Yuni (35) tengah merapikan keripik pisang di kiosnya. Kios keripik Lampung Yuni tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 15 x 5 meter. Namun usahanya tersebut telah dirintisnya sejak November 2015.

“Sebenarnya pekerjaan saya sebelumnya sudah cukup. Tetapi saya pilih keluar karena pengin wirausaha,” tuturnya saat berbincang dengan jurnalis Radar Lampung (Jawa Pos Group), melansir JPNN, Selasa (4/7/2017).

Setelah kurang lebih 10 tahun menekuni pekerjaan sebagai pegawai bank, Yuni merasa terpanggil untuk menjadi pengusaha.

Baca juga: Umur Baru 26, Tapi Kulit Wanita Ini Sudah Seperti Nenek-nenek. Inilah Penyebabnya

Pilihan berwirausaha itu rupanya tepat. Sebab, menurut Yuni, sejak kios keripik pisangnya berjalan, omzet menunjukkan grafik yang konstan menanjak. Ibu dua anak ini mengaku sudah mampu menghasilkan omzet rata-rata Rp 125 juta hingga Rp 150 juta per bulannya.

“Alhamdulillah hingga saat ini saya belum merasakan jatuh bangun di dunia bisnis. Di Gang PU ini sudah tersohor image-nya sebagai pusat oleh-oleh Lampung. Meski bukan momen libur, pendapatan bisa menembus Rp 120 juta per bulan, dengan harga jual keripik Rp 50 ribu tiap kilogramnya,” urai Yuni.

Lakukan Inovasi

Lantas apa kunci rahasia kesuksesannya? Yuni melanjutkan, kunci untuk bisa terus menarik keuntungan yang besar tersebut adalah inovasi. Sebagai entrepreneur, berbagai inovasi wajib dilakukan demi untuk memenuhi selera pembeli. Dan menurutnya, seluruh penjual keripik pisang di sentra Gang PU paham benar soal ini.

Maka lahirlah rasa keripik dengan berbagai varian. Mulai dari standar rasa coklat, keju, melon, vanilla, stroberi hingga durian. Tersedia juga varian keripik pisang pedas rasa balado.

Jaga Kualitas Pelayanan

Tak cukup inovasi di rasa, menurut Yuni yang tak kalah penting adalah pelayanan.

“Ya macam-macam. Mulai dari memberikan fasilitas untuk membuat nyaman mulai. Air mineral, tempat yang nyaman, parkir aman sampai pelayanan yang tangkas. Pembeli kan maunya dilayani secara baik,” tambahnya.

Ada pula kios yang menyediakan souvenir bagi pembeli yang datang berkunjung.

Maksimalkan Media Sosial

“Juga memanfaatkan media sosial atau selebgram untuk promosi toko, jadi penjualan nggak surut,” ungkapnya.

Untuk menyikapi makin banyaknya pedagang di Gang PU, maka dibentuklah paguyuban para pedagang. Dengan adanya paguyuban ini, setidaknya bisa menengahi kalau-kalau terjadi perselisihan harga jual diantara sesama penjual.

Persaingan yang Sehat

Terkadang, mereka juga menghadiri kegiatan membuat paguyuban penjual keripik pisang Gang PU. Dengan adanya paguyuban tersebut, paling tidak terjadinya perselisihan harga jual bisa diminimalisir.

“Pedagang disini juga kalau libur tetap buka. Malah lebih lama dibandingkan hari biasa bukanya. Bisa sampai malam,” katanya lagi.

Seluruh pemilik kios keripik pisang di Gang PU juga punya komitmen menjaga kebersihan lingkungan.

Baca juga: Fresh from The Oven, Inilah Geng Terbaru Jessica Iskandar

“Jangan salah, dapur keripik kami bukan di daerah sini (Gang PU). Tapi jauh. Seperti saya di daerah Tanjungbintang, Lampung Selatan (Lamsel) produksinya. Baru diangkut ke kios kalau sudah jadi produknya,” ungkap Yuni.

Berdasarkan pantauan tim wartawan, sebagian dari pedagang keripik merupakan binaan PTPN VII. Dan sebagian lagi adalah wirausaha mandiri.