Heboh! Dokter Ganteng Ini Meninggal Saat Piket Lebaran 5 Hari Berturut-turut


SURATKABAR.ID – Beredar kabar di media sosial bahwa seorang dokter spesial anastesi ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Ia meninggal di kamar jaga saat bertugas di salah satu rumah sakit swasta. Kabar menghebohkan tersebut pertama diunggah oleh akun Twitter @blogdokter, pada Selasa (27/6/2017), kurang lebih pukul 22.38 WIB.

Berdasarkan sejumlah informasi yang berhasil dirangkum, dokter tersebut bernama Stefanus Taofik (35), dokter spesialis anastesi, asal Cakranegara, Lombok, Nusa Tenggara Timur. Kematian dokter Taofik diduga terkena  serangan jantung setelah berjaga 5 hari berturut-turut di 3 rumah sakit, menggantikan rekan senior lainnya sedang cuti Lebaran. Demikian sebagaimana diwartakan kembali dari Tribun, Rabu (28/6/2017).

Dokter Taopik yang merupakan alumnus fakultas kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya (FKUAJ), Angkatan 2000, tersebut meninggalkan seorang istri dan seorang anak berusia 1 tahun.

Terkait hal ini, Pengurus Pusat Perdatin (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi Dan Terapi Intensif Indonesia) masih menunggu laporan resminya.

Baca juga: Negara Ini akan Hapus Teori Evolusi Darwin dari Pelajaran Sekolah

“Sempat mendengar bahwa beliau bertugas menggantikan rekan yang cuti Lebaran sehingga dianggap overwork,” ungkap Ketua Perdatin Pusat, dr Andi Wahyuningsih Attas, SpAn saat dihubungi media, melansir detikHealth, Rabu (28/6/2017).

“Tapi itu kami dengar juga dari media, lebih jelasnya kami masih menunggu laporan dari Perdatin Jakarta,” imbuhnya.

Beredar informasi, dr Stefanus Taofik, SpAn meninggal dunia saat menjalankan tugas jaga di hari Lebaran. Informasi yang beredar di media sosial menyebut dr Stefanus bekerja beberapa hari berturut-turut karena menggantikan rekannya yang cuti.

“Masih belum jelas betul infonya karena ada yang bilang, yang bersangkutan bekerja 3 hari, ada yang bilang 4 hari dan 5 hari,” ujar Sekjen IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dr Adib Khumaidi saat dihubungi media.

IDI juga tengah menelusuri informasi lebih detail tentang kabar itu. Termasuk apakah dr. Stefanus meninggal karena overworked, atau ada riwayat tertentu yang bisa meningkatkan risiko kematian mendadak.

Beredar informasi seorang dokter anestesi meninggal dunia saat piket Lebaran ini juga telah dibenarkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pihak mereka tengah melakukan pengecekan lebih lanjut.

“Juga apakah yang bersangkutan memang tugas jaga on call atau menggantikan rekannya,” tutur dr Adib.

Terkait penyebab meninggalnya dokter anestesi tersebut, dr Adib juga masih akan melakukan pengecekan. Bisa jadi memang peak saat lebaran yang begitu tinggi jadi faktor pemicu, tapi bisa juga memang ada riwayat penyakit tertentu yang diidap oleh yang bersangkutan.

“Soalnya kita juga pernah ada dokter bedah meninggal saat bekerja,” ungkap dr. Adib.

Menurut kabar yang beredar, dr. Stefanus meregang nyawa saat harus menjalankan tugas jaga selama 4 hari berturut-turut di 3 rumah sakit swasta akibat menggantikan rekan-rekannya yang cuti di hari Idul Fitri.

Informasi tentang kematian dokter Taofik pertama kali ditulis dalam blog kesehatan, Selasa (27/06/2017) kemarin. Blog yang diasuh oleh Dokter I Made Cock Wirawan itu menyebut dokter Taofik diduga meninggal karena serangan jantung di kamar jaga rumah sakit di Bintaro.

“Sebab beliau sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di kamar jaga rumah sakit. Sebelum meninggal, dokter Taofik melaksanakan jaga di tiga rumah sakit selama lima hari berturut turut dikarenakan banyak seniornya yang cuti,” tulisnya.

Dokter Made, pengelola blogdokter.net, menuturkan dalam laporan BBC Indonesia, bahwa dia menerima informasi ini dari kolega-koleganya dan menekankan bahwa penyebab pastinya masih diselidiki.

“Banyak dugaan, karena (bisa diduga) kelelahan, jaga terlalu lama, ada dugaan serangan jantung. Untuk pastinya masih diinvestigasi oleh Ikatan Dokter Indonesia,” urainya.

Sejumlah orang menyampaikan keprihatinan di media sosial.

“Mudah-mudahan hal seperti ini jadi evaluasi, cuti pun harus ada yang monitor,” sebut satu pengguna Twitter.

Lainnya mengatakan, “Regulasi jam kerja sebenarnya yang perlu dikaji lebih lanjut, dokter, residen, fellow dan lainnya.”

Dokter Made mengatakan saat ini regulasi tentang jam kerja dokter di Indonesia belum jelas.

“Beda dengan di Eropa dan di Amerika Serikat, (diatur) dokter muda (kerja) berapa jam, senior berapa jam, di sini belum ada.”

Baca juga: Umat Muslim di 2 Daerah Ini Baru Laksanakan Salat Ied Tadi Pagi

Selain itu, dia melanjutkan, sumber daya manusia di rumah sakit tidak sama.

“Ada yang spesialis anestesi satu orang, dua orang. Kalau satu orang, ada operasi 10 sehari, ya dia semua yang ambil karena anestesi menyangkut semua operasi. Intinya dipenyebaran dokter belum bagus sehingga regulasi tidak bisa diterapkan di semua rumah sakit, sehingga rumah sakit menerapkan berbeda-beda,” pungkasnya.