Merasa Sudah Kembalikan Uang Korupsi, Terdakwa Kasus e-KTP Ini Bingung Masih Dituntut Pidana Uang Pengganti


    SURATKABAR.ID – Imran, seorang terdakwa korupsi pengadaan KTP elektronik, mengklaim sudah mengembalikan semua uang yang diterimanya dari korupsi pengadaan KTP elektronik. Oleh sebab itu, Irman bingung terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum pada KPK yang memintanya membayar uang pengganti senilai 273.700 dolar Amerika Serikat atau sekitar 3,2 miliar dan Rp 2.248.750.000 serta 6.000 Dolar Singapura.

    “Sebetulnya yang saya terima sudah saya kembalikan semua. Jadi pengganti itu rasanya tidak ada itu,” ujar Irman usai sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (22/6/2017), sebagaimana diwartakan kembali dari liputan Tribun, Jumat (23/6/2017).

    Seperti dituturkan Irman, uang tersebut pada dasarnya tidak masuk ke dalam kantongnya pribadinya. Irman berjanji akan menjelaskan mengenai uang yang dia terima dalam nota pembelaan pribadi atau pledoi pada sidang berikutnya.

    “Ada beberapa ya mengenai uang yang tidak saya terima, tapi masih dianggap terima. Dari salah satu sumber padahal itu hanya informasi satu sumber. Itu akan disampaikan di pembelaan,” urai bekas direktur jenderal kependudukan dan catatan sipil Kementerian Dalam Negeri itu.

    Baca juga: Geger! Para Penerima Suap e-KTP Ramai-ramai Kembalikan Uang ke KPK

    Dalam surat tuntutan, Irman disebutkan pernah menerima 573.700 Dolar Amerika Serikat dan Rp 2.298.750.000 dan 6.000 Dollar Singapura.

    Sejauh ini, jumlah yang telah dikembalikan Irman adalah 300.000 Dolar AS, Rp 50 juta pada tanggal 14 Desember 2016, 30 Januari 2017 dan 8 Februari 2017 ke rekening penampungan KPK.

    Sesuai dengan uraian tersebut, maka Irman harus membayar uang pengganti sebagaimana dalam tuntutan.

    Sebelumnya, Irman dituntut pidana penjara tujuh tahun dan pidana denda Rp 500 juta subsidair (pengganti apabila hal pokok tidak terjadi) selama enam bulan kurungan.