Bak Benua Atlantis—Menghilang 130 Tahun, Inikah Keajaiban Dunia ke-8 yang Ditemukan Kembali?


    SURATKABAR.ID – Dua mata air legendaris bernama Teras Putih dan Teras Merah Muda sudah ditemukan sejak sekitar 130 tahun lalu di kawasan Danau Rotomahana, Pulau Utara New Zealand. Disebut-sebut sebagai “keajaiban dunia kedelapan”, kedua mata air ini terbentuk oleh akumulasi deposit yang kaya akan silika dari mata air panas bumi kuno.

    Namun sayang, keajaiban dunia kedelapan ini hancur akibat letusan Gunung Tarawera pada tahun 1886. Sewaktu magma naik ke atas dan bertemu dengan danau yang dikelilingi oleh Teras Putih dan Teras Merah Muda, serentetan reaksi berupa ledakan dan semburan lava terjadi. Energi yang dilepaskan oleh kejadian ini bahkan diperkirakan menyaingi Tsar Bomba, bom nuklir terbesar yang pernah diledakkan, demikian dikutip dari laporan National Geographic, Rabu (21/6/2017).

    Sejak itu, pencarian terhadap puing-puing Teras Putih dan Teras Merah Muda terus dilakukan. Namun, kedua lokasi legendaris tersebut seperti hilang bak ditelan bumi, sampai sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the Royal Society of New Zealand pada tahun 2016 menklaim telah membuat terobosan dalam pencarian Teras Putih dan Teras Merah Muda.

    Baca juga: Begini ‘Curhatan’ Driver Online yang Dilucuti Bajunya di Bandara Adisutjipto. Lihat Videonya

    Lost and Found

    Salah satu anggota peneliti bernama Rex Bunn menyebutkan baru-baru ini, lokasi yang pasti dari kedua mata air yang telah hilang tersebut kini berhasil ditemukan kembali. Semua itu berkat catatan dan jurnal dari buku harian lawas dari pakar geologi adab ke-19,  Dr Ferdinand von Hochstetter.

    Dalam buku harian yang ditunjukkan kepada Bunn oleh Sascha Nolden dari National Library of New Zealand tersebut, Hochstetter mendeskripsikan Teras Putih dan Teras Merah Muda sewaktu sedang melakukan survei geologi di New Zealand.

    Hochstetter juga menandai kedua lokasi tersebut dalam buku hariannya.

    Namun, tentunya menemukan Teras Putih dan Teras Merah Muda dengan bantuan petunjuk hanya dari buku harian Hocstetter saja tak bisa dibilang mudah. Pasalnya, letusan Gunung Tarawera tak hanya mengubur kedua Teras tersebut. Kejadian itu juga telah menggeser lanskapnya.

    Oleh sebab itu, para pakar lantas menggunakan teknik kartografi forensik. Caranya yakni dengan membandingkan peta New Zealand masa kini dengan data pada tahun 1859. Dari situ, Bunn dan Nolden mencari lokasi Teras Putih dan Teras Merah Muda di masa sekarang.

    “Kita menghabiskan 2.500 jam untuk meneliti selama 12 bulan terakhir,” tutur Bunn.

    Proses panjang dan kerja keras tersebut rupanya membuahkan hasil yang setimpal. Bunn kini mengklaim dengan optimis bahwa pihaknya telah menemukan lokasi yang pasti dari kedua mata air tersebut, dengan tingkat kesalahan hanya kurang lebih 35 meter.

    Baca juga: Duh! Gereja Mematikan Mikrofonnya Saat Gadis Ini Bicara di Mimbar, Ternyata Ini yang Disampaikannya

    Meski begitu, kebenaran akan klaim Bunn ini masih perlu dikonfirmasi. Maka dari itu, Bunn lantas menyerahkan keputusan untuk menggali lokasi penemuannya tersebut kepada otoritas suku Tuhourangi di area terkait.