Kepala BIN Nilai Ada Upaya Jadikan Indonesia Seperti Irak Dan Suriah


    SURATKABAR.ID Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mempunyai teori tersendiri soal serangan teror bom di Kampung Melayu, Jakarta. Menurutnya aksi itu merupakan bagian dari strategi ISIS untuk menunjukkan eksistensinya pasca terus terdesak dari wilayah Suriah.

    Seperti dilansir dari Kompas, menurut Budi hal tersebut bisa dianalisis dari pelaku bom b***h diri, yaitu Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam alias Iwang Cibangkong, yang sebelumnya sudah terdeteksi anggota dari Kelompok JAD Islamiyah Wilayah Bandung.

    “Hal ini menunjukkan ISIS telah membangun jaringan secara global dan selama ini membentuk sel-sel jaringan di berbagai negara yang siap untuk dikomando melakukan serangan di berbagai tempat yang mereka targetkan,” kata Budi melalui keterangan tertulisnya, Minggu (28/05/2017).

    Ditambahkan oleh Budi, situasi ini semakin menyakinkannya, bahwa ancaman terorisme sekarang bukan persoalan negara per negara saja, namun telah menjadi ancaman global dunia.

    Baca juga: ISIS Klaim Serangan Di Kampung Melayu Jakarta

    Karena hal tersebut, dilanjut Budi, Indonesia sebagai salah satu negara yang dinilai sebagai basis perkembangan jaringan teroris seperti ISIS, harus bergerak cepat untuk bisa meredam gerakam ekstrim ini sedini mungkin.

    Ia juga mengatakan, perlu upaya luar biasa untuk menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme yang semakin membahayakan keamanan, keselamatan, keutuhan dan kedaulatan NKRI.

    Pemerintah saat ini terus membangun secara efektif kerja sama global dalam menghadapi ancaman terorisme, terutama terhadap upaya ekspansi jaringan ISIS ke wilayah Asia Tenggara.

    Pemerintah, papar Budi, juga terus memperkuat kapabilitas dan kerja sama antarlembaga yang menangani penanggulangan terorisme, yaitu Polri, BIN, dan BNPT, K/L terkait dan berbagai elemen lainnya termasuk peran serta masyarakat dalam upaya melawan terorisme.

    Namun, ia merasa secara regulasi, sudah tidak dapat ditunda lagi penyelesaian Revisi Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang saat ini sedang dibahas di DPR RI.

    Baca juga: DPR: Teror Bom Kampung Melayu, Terkait Dengan Kebijakan Presiden Duterte

    Salah satunya, menurut Budi, yang sangat penting adalah agar undang-undang tersebut memberikan kewenangan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan tindakan terhadap perbuatan awal yang mengarah ke tindak pidana terorisme.

    Hal itu seperti latihan bernuansa militer, penyebaran paham radikal, bergabung dengan ISIS atau organisasi teroris lainnya.

    Selain itu, ia menilai, perlu juga adanya dasar hukum untuk bahan keterangan yang dikumpulkan oleh intelijen dapat menjadi alat bukti di pengadilan untuk menindak para pelaku teror.

    Namun, kata Jendral Polisi berusia 57 tahun tersebut, dalam hal ini bukan berarti pemerintah antikelompok tertentu, akan tetapi tujuan utamanya adalah melindungi masyarakat yang tidak berdosa dari kelompok pelaku teror di Indonesia.

    Pria yang menggantikan Sutiyoso di posisi Kepala BIN tersebut menegaskan, perang terhadap radikalisme dan terorisme harus menjadi agenda utama negara.  Serta menjadi kesepakatan seluruh masyarakat untuk bersama-sama melawan dan tidak memberikan ruang sedikitpun bagi bertumbuhnya radikalisme dan terorisme sejak dini.

    “Jangan biarkan virus perusak ini mencoba menjadikan Indonesia sebagai lahan mereka seperti yang dilakukan di Irak dan Suriah. Mari kita bersama menjaga Indonesia dengan kebhinekaan dan ideologi Pancasila yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa,” tutur mantan Wakapolri itu.

      http://credit-n.ru/zaymyi-next.html