Masih Ingat Dengan Skuat Arema Indonesia Juara 2009-2010 Ini? Begini Kabar Para Punggawanya Sekarang


SURATKABAR.ID Tahun ini Arema Indonesia kembali bangkit di kancah sepakbola nasional. Meskipun saat ini hanya berlaga di Liga 3, namun namanya menjadi perbincangan publik pecinta sepakbola di Tanah Air. Tentu saja hal tersebut tak lepas dari sejarah dualisme mereka, dengan klub yang kini berlaga di Liga 1, Arema FC.

Namun dibalik sejarah kelam dualisme, tentu nama Arema Indonesia memang sempat menjadi fenomena tersendiri dalam Liga Indonesia. menengok kebelakang sekitar 10 tahun yang lalu, tentu masih jelas dalam ingatan kita semua, bagaimana Arema Indonesia menjadi klub yang sangat mengejutkan di Indonesia Super League (ISL) musim 2009-2010. Tim yang saat itu diasuh oleh pelatih asal Belanda Robert Rene Albert tersebut berhasil menjadi juara liga dan lolos ke final piala liga.

Padahal saat itu Arema bisa dibilang mengalami krisis, setelah ditinggal pemiliknya PT Bentoel, dan mengalami perubahan besar di dalam manajemennnya. Banyak diperkuat pemain muda yang sama sekali belum dikenal, ternyata Singo Edan saat itu berhasil melahirkan bintang –bintang baru.

Namun, setelah 10 tahun berlalu, bagaimana nasib para punggawa tim mengejutkan tersebut saat ini? Berikut adalah ulasannya, yang dirangkum Surat Kabar, dari berbagai sumber:

  1. Kurnia Meiga

Nama Kurnia Meiga saat ini dikenal sebagai kiper nomor 1 di Indonesia, seragam klub dan Timnas bernomor satu sudah jaminan jadi milik pemain berusia 27 tahun tersebut.

Namun di awal musim 2009-2010, siapa yang kenal dengan pemain jangkung itu? Meiga saat itu hanyalah pelapis kiper Arema saat itu Markus Horison. Keberuntungan Meiga baru datang di tengah musim, ketika Markus akhirnya meninggalkan Singo Edan, karena bermasalah dengan manajemen dan pelatih. Menjadi kiper utama di usia yang belum genap 19 tahun, ternyata Meiga berhasil membayar kepercayaan penuh Robert Albert dengan membawa Arema juara di musim tersebut.

Saat ini Meiga masih memperkuat Arema, yang bermain di Liga 1 yaitu Arema FC. Menjadi salah satu pemain senior di klub yang kini diasuh Aji Santoso, Meiga jadi salah satu tumpuan Arema untuk meraih gelar juara Liga 1 musim ini.

  1. Markus Horison

Markus sempat menjadi bagian dari skuat juara Arema Indonesia 2009-2010. Meskipun hanya setengah musim, namun pemain asal Medan tersebut, sebenarnya saat itu digadang- gadang akan menjadi andalan Singo Edan, maklum saja saat itu Markus berstatus kiper Timnas Indonesia.

Namun masalah pribadi dan cidera, membuat permainan mantan kiper PSMS Medan tersebut kurang maksimal. Hingga akhirnya di paruh musim ia hengkang dan hijrah ke klub rival Arema, Persib Bandung.

Markus saat ini sudah pensiun sebagai penjaga gawang, dan beralih profesi sebagai politisi, dengan begabung dengan partai baru bentukan pengusaha Hary Tanoesoedibjo, Perindo.

  1. Purwaka Yudhi Pratomo

Sebelum bergabung dengan Arema Indonesia di musim 2009-2010, Purwaka Yudhi merupakan pemain muda klub medioker Gelora Putra Delta, atau yang dikenal dengan Deltras Sidoarjo. Bahkan ketika pertama masuk Arema, hampir taka da fans yang mengenalinya.

Namun di bawah asuhan Robert Albert, Purwaka bertransformasi menjadi pemain belakang tangguh yang susah untuk dilewati lawan. Meskipun berpostur pendek, namun Purwaka berhasil menutupi kelemahannya tersebut dengan body balance yang istimewa, serta intercept yang diatas rata –rata. Bersama Pierre Njanka kala itu Purwaka berhasil membuat lini belakang Arema jadi angker bagi kontestan ISL lainnya.

Baca juga: Ingat legenda Arema Ini? Setelah Dikabarkan Jadi Sopir Taksi, Kini Nasibnya Malah…

Sayangnya, skill istimewa Purwaka saat itu, tidak dibarengi dengan kondisi fisiknya. Pemain asli Bandar Lampung tersebut punya sejarah buruk dengan cedera hingga saat ini. Tahun ini, setelah dilepas Persib Bandung, Purwaka sempat dikabarkan akan kembali ke Arema FC, namun hingga jendela transfer awal musim ditutup, namanya sama sekali tak muncul di kubu Singo Edan. Belum jelas bagaimana nasib pemain berusia 33 tahun tersebut saat ini.

  1. Pierre Njanka

Inilah salah satu pemain paling ikonik dari tim legendaris Arema Indonesia musim 2009-2010. Keberadaannya membuat tenang Kurnia Meiga sebagai penjaga gawang Arema saat itu. Padahal sebelum bergabung dengan Singo Edan, Njanka dianggap gagal berkarier di Indonesia, setelah tidak berhasil menunjukkan permainan apik bersama Persija Jakarta musim sebelumnya. Keberadanya pun sempat diremehkan fans Arema.

Namun dipercaya sebagai kapten oleh Robert Albert, justru membuat Njanka semakin percaya diri. Meskipun saat itu sudah berusia 34 tahun, namun ketenangan dan juga pembacaan bola pemain asal Kamerun tersebut masihlah sangat istimewa. Duetnya dengan Purwaka Yudhi benar –benar saling melengkapi, Njanka dengan postur tinggi nya, dan Pur dengan kecepatannya.

Njanka diketahui meninggalkan Arema saat terjadi dualisme, ia sempat bergabung dengan Persisam Samarinda, serta tim asal Aceh, Aceh United. Njanka memutuskan pensiun di musim 2012, karena orangtuanya di Kamerun meninggal dunia. Hingga sekarang Njanka masih tinggal di Kamerun, ia banyak menghabiskan waktu dengan membina pemain usia belia.

  1. Beny Wahyudi

Salah satu produk sepakbola asli Malang ini sudah sejak musim sebelumnya memperkuat Arema Indonesia yang kala itu masih bernama Arema Malang. Beny yang punya posisi natural sebagai bek sayap, saat itu adalah pemain muda yang namanya kurang dikenal.

Tapi bersama tim Arema Indonesia 2009-2010, nasib Beny berubah 180 derajat. Dipercaya sebagai starter oleh Robert Albert, Beny pun menjelma jadi bek yang tangguh dan sangat rajin untuk naik turun menyisir sisi lapangan Singo Edan. Trofi juara 2009-2010 juga tak luput dari peran besar Beny di lini belakang Arema saat itu.

Pemain berusia 30 tahun tersebut, hingga kini masih berkostum Arema. Namun di saat ini, di bawah asuhan Aji Santoso, Beny sudah tidak mendapatkan tempatnya lagi, posisi nya lebih banyak digantikan bek –bek lainnya yang lebih muda. Meski begitu Beny masih tetap setia ingin membela Arema FC.

  1. Zulkifli Syukur.

Zulkifli saat itu adalah salah satu dari sedikit pemain Arema yang bertahan dari musim sebelumnya. Zul di musim 2009-2010, menjadi andalan Robert Albert untuk mengawal sisi kanan lini belakang Arema Indonesia. bila tak cedera, atau akumulasi kartu, nama pemain asal Makassar tersebut tidak akan tergantikan.

Saat ini pemain yang berusia 33 tahun tersebut, masih bermain dan memperkuat PSM Makassar. Di klub ini, ia kembali bereuni dengan mantan pelatihnya di Arema, yaitu Robert Albert

  1. Hermawan

Bek asal Malang ini, pada era Robert Albert banyak menghabiskan waktunya sebagai pemain pengganti. Meskipun begitu perannya cukup menonjol, ketika Purwaka Yudhi ataupun Pierre Njanka harus absen.

Hermawan hingga detik ini masih berkarier di sepakbola nasional. Bek berusia 33 tahun tersebut, saat ini memperkuat klub asal Kabupaten Malang Metro FC yang berlaga di Liga 2.

  1. Johan Ahmad Farisi

Nama Farisi menjadi salah satu pemain muda yang memang digadang- gadang akan jadi satu nama besar di kubu Arema Indonesia saat itu. Hadir sebagai pelapis bagi Zulkifli Syukur, minute play Farisi saat itu memang masih minim. Meski begitu kegigihan dan kesetiaan nya bersama Singo Edan, mulai memberikan hasil pada saat ini.

Terbukti, saat ini Farisi jadi andalan Aji Santoso di lini belakang, bahkan mengalahkan para seniornya seperti Beny Wahyudi dan Ahmad Bustomi, Farisi sekarang diangkat sebagai kapten tim Arema FC.

Baca juga: Inilah 4 Pemain Kelas Dunia yang Bisa Jadi Akan Berkostum Arema FC Musim Ini

  1. Ahmad Bustomi

Sama seperti Beny Wahyudi, Ahmad Bustomi juga merupakan produk sepakbola asli Malang. Sudah bersama Arema Indonesia sejak musim sebelumnya, Bustomi pada musim 2009-2010 menjadi andalan di lini tengah Singo Edan. Bermain di posisi gelandang, Bustomi menjelma jadi pemain yang memiliki umpan akurat dan tendangan keras.

Menjadi juara bersama Arema di musim 2009-2010, membuat nama pemain asal Karangploso ini langsung melambung, dan menjadi langganan Timnas.

Sekarang, Bustomi masih menjadi bagian dari skuat Singo Edan di Arema FC. Namun sayangnya, kebijakan Aji Santoso yang lebih memilih pemain muda, serta kondisinya yang sering dibekap cedera, membuat Cimot kini lebih sering menghuni bangku cadangan.

  1. Juan Revi Auriqto

Satu lagi pemain asli Malang yang menonjol pada musim 2009-2010, siapa lagi kalau bukan Juan Revi. Gelandang yang satu ini sebenarnya cukup menjadi pemain kesayangan Aremania. Permainanya yang lugas dan keras dinilai memang sangat cocok dengan gaya khas sepakbola Malangan. Jadi salah satu andalan Robert di lini tengah Singo Edan saat itu, Revi jelas punya peran dalam memberikan warna permainan Singo Edan.

Masih bersama Arema hingga musim lalu, musim 2017 ini nama Revi tersingkir dari tim asuhan pelatih Aji Santoso. Kini Revi bergabung dengan tim asal Lamongan Persela.

  1. Eseteban Guillen

Baru hadir di paruh musim kedua, menggantikan pemain asing lainnya Landry Poulangoye, Esteban langsung mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi Singo Edan.

Mantan pemain PSMS Medan tersebut berhasil memberikan keseimbangan di lini tengah Arema, yang banyak dihuni pemain muda usia. Pemain asal Uruguay tersebut juga dikenal dengan tendangan –tendangan bebasnya yang maut.

Saat ini Esteban diketahui sudah tak lagi bermain bola. Ia pensiun dan menetap di Uruguay. Terakhir kali ia bermain di Indonesia, adalah saat ia memperkuat tim Persija Jakarta di kompetisi IPL 2013.

  1. Roman Chemelo

Pemain asal Slovakia ini meruapakan salah seorang pemain Arema Indonesia dari musim sebelumnya di ISL 2008-2009. Di bawah asuhan Robert Albert, skill Roman menjadi semakin menjadi –jadi, diberikan posisi sebagai free role player, Roman berhasil menjadi pemain yang sangat berbahaya ketika memasuki sepertiga lapangan lawan.

Peran Roman memang sangat besar ketika membawa Arema Indonesia menjadi juara di musim tersebut.

Saat ini tidak jelas bagaimana nasib Roman, namun ada kabar yang menyebutkan ia kini bermukim di Malaysia. Sebelumnya Roman dibuang dari skuat PSM pada akhir musim 2014. Pemain berwajah rupawan ini dipecat setelah tak berhasil menunjukkan kualitas yang sama, saat ia memperkuat Arema Indonesia.

  1. Muhammad Ridhuan

Di awal kehadirannya di Indonesia, winger asal Singapura ini sempat membuat pesimis banyak fans Arema. Maklum saja, sepakbola Singapura saat itu dinilai sebanding dengan Indonesia. Namun pelan tapi pasti, Ridhuan mengubah pandangan itu, ia pun bertansformasi menjadi idola baru Aremania. Kecepatan dan juga umpan crossing jadi andalan pemain internasional negeri Singa tersebut.

Pria yang kini berusia 32 tahun tersebut, konon sudah tak lagi menekuni dunia si kulit bundar. Lantaran tersingkir dari serbuan banyak pemain muda di Singapura. Ridhuan kini berkarier di perusahaan minyak. Bahkan ia juga harus sekolah lagi untuk bisa lebih mempertajam ilmunya di dunia tambang dan perminyakan.

Baca juga: Heboh, Arema Cronus Ternyata Nyaris Datangkan Eks Kapten Timnas Jerman Ini

  1. Mochamad Fachrudin

Ketika datang ke Arema, eks winger Deltras Sidoarjo ini jelas bukan siapa –siapa, bahkan namanya masih terdengar asing bagi Aremania. Namun sejak mencetak gol pada debutnya, kala laga perdana Arema yang berhasil kalahkan Persija dengan skor 1-0, nama Fachrudin mulai menanjak.

Fachrudin sendiri bersama Ridhuan dipercaya Robert Alberts sebagai winger utama Arema Indonesia saat itu. Kecepatan tinggi, dan punya insting membunuh di depan gawang, jadi andalan pemain dengan ciri khas ‘goyang gergaji’ tersebut.

Pemain berusia 35 tahun tersebut, hingga detik ini masih menjalani hidup sebagai pemain sepakbola. Saat ini Fachrudin bermain untuk tim Liga 2 Persida Sidoarjo.

  1. Noh Alam Shah

Inilah satu nama yang menjadi legenda hidup bagi Arema. Datang ke Malang sebagai pemain yang terbuang, setelah mendapat sejumlah masalah di Liga Singapura, akibat tempramennya, ternyata gaya bermain Along yang cenderung keras, dan ‘nakal’ tersebut, justru cocok dengan Arema dan Aremania. Bermaain tiga musim bersama Singo Edan, Along berhasil mencetak hampir 30 gol.

Bersama kompatriotnya M Ridhuan, Along jadi duet Singapura maut yang paling ditakuti tim lawan pada ISL 2009-2010.

Setelah pensiun, sama halnya dengan Ridhuan, pria berusia 36 tahun ini juga tak mengambil jalan hidup di sepakbola lagi. Saat ini Along lebih memilih berkarier sebagai eksekutif pada perusahaan rental mobil berskala nasional di Singapura.

  1. Rahmat Affandi

Didatangkan Arema sebagai backup Noh Alam Shah, ternyata pemain yang lama berkarier di Persija Jakarta ini berhasil membuktikan kelasnya sebagai pemain depan. Tak selalu bermain sebagai starter, Rahmat selalu tampil sebagai pembeda pada musim 2009-2010.

Saat ini Rahmat Affandi tengah menganggur, setelah ia diputus kontrak oleh tim Liga 2, Persebaya Surabaya, akibat cedera.

  1. Dendi Santoso

Inilah ‘local wonderkid’ kesekian yang musim itu berhasil ditemukan dan dikembangkan oleh Robert Albert. Dalam usia yang belum genap 20 tahun saat itu, Dendi berhasil mencuri perhatian para pemertahi sepakbola nasional di musim 2009-2010.

Kecepatan dan keberaniannya mengobrak – abrik pertahanan lawan, jadi label seorang Dendi Santoso. Bahkan pada musim debutnya tersebut Dendi sudah dipercaya turun dalam 19 pertandingan, sebuah catatan apik untuk pemain muda.

Hingga saat ini Dendi masih tetap memperkuat Arema FC, hanya saja dalam beberapa tahun terakhir, posisinya sedikit bergeser. Jika di era Robert, ia lebih banyak bermain sebagai penyerang tengah, namun saat ini pemain yang kini berusia 28 tahun tersebut lebih kerap beroperasi sebagai penyerang sayap.

  http://credit-n.ru/zaymyi-next.html


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaMenyibak Misteri Kematian Mahapatih Gajah Mada, Yang Ternyata…
Berita berikutnyaSecara Tegas, Jusuf Kalla Minta PBB Tak Campur Tangan Terkait Vonis Ahok