Soal Rencana Pembunuhan Habib Rizieq di Twitter, MUI Desak Polisi Usut Nathan


    SURATKABAR.ID – Zainut Tauhid Za’adi selaku Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak agar polisi mengusut tuntas pengiklan rencana pembunuhan terhadap sejumlah anggota DPR dan ulama yang salah satunya ialah Habib Rizieq Shihab. Zainut berpendapat, iklan yang diunggah oleh akun bernama Nathan P Suwanto dalam Twitter-nya itu sudah termasuk kategori ucapan kebencian.

    Seharusnya kepolisian bisa mengambil tindakan hukum, tanpa harus menunggu adanya pengaduan dari masyarakat. Karena hal itu bukan masuk dalam katagori delik aduan (klacht delicten) tapi lebih pada delik biasa (gewone delicten).

    “Jadi tanpa harus ada yang mengadukan polisi sudah bisa memprosesnya. Apalagi sudah ada bukti permulaan yang cukup. Saudara Nathan bisa dijerat dengan UU ITE dan juga UU KUHP‎,” sahut Zainut lewat keterangan tertulisnya, Senin (1/5/2017), via JPNN.

    Zainut menambahkan, apa yang dilakukan Nathan sudah dalam bentuk teror dan mengarah pada ancaman pembunuhan. Jadi polisi harus segera bertindak.

    Baca juga: Gempar! Kepala Sekolah Setrum Bocah SD, Ngakunya untuk Diterapi

    “Polisi harus bertindak cepat, karena menyangkut keselamatan nyawa manusia,” tandasnya.

    Seperti diketahui, Nathan P. Suwanto mengunggah iklan mencari perencana pembunuhan terhadap Habib Rizieq, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Buni Yani, dan Fahira Idris.

    Iklan yang dipasang di Twitter dengan akun @NathanSuwanto ini sontak mengundang reaksi para netizen.

    Dihubungi terpisah, Buni Yani pun menyesalkan sikap Nathan. Katanya, Nathan meminta maaf setelah mengancam mau membunuhnya bersama beberapa orang.

    “Mengapa kebencian begitu masif terjadi sekarang ini‎,” ungkap Buni prihatin.

    Menuai Kritik dari Ahli Forensik

    Tawaran untuk merencanakan pembunuhan terhadap Fahira Indris, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Habib Riqieq, Buni Yani, dan lain-lain yang diiklankan Nathan P Suwanto dalam Twitter-nya juga dikritisi ahli forensik Reza Indragiri Amriel.

    Menurut Reza, iklan yang disebar ke medsos sangat berbahaya karena bisa dibaca semua kalangan termasuk anak-anak. Apalagi bila ada yang menyambut tawaran tersebut.

    “Katanya, itu bukan posting hoax. Namun, andai itu hoax sekali pun, saya rasa ini sangat berbahaya,” kata Reza dalam pesan singkatnya, Minggu (30/4/2017).

    Baca juga: Ternyata Ini yang Mendasari Sandiaga Berniat Luncurkan Kartu Jakarta Jomblo

    Dia menambahkan, berkat masifnya penyebaran info via medsos, di masa berat seperti sekarang, ada orang-orang yang menyambut tawaran (iklan) tersebut. Orang itu lalu melakukan killing spree. Setelah selesai, dia tagih bayarannya kepada si otak (mastermind).

    “Si otak mulai merasa bahwa membiayai pembunuhan merupakan cara yang bisa dia lakukan untuk mencapai kepentingan pribadi,” terangnya.