Ribuan Wanita Non-Muslim Pakai Jilbab. Ini Sebabnya


09-10-14_Aussie-Non-Muslims-Support-Hijab

SURATKABAR.ID Penghujung tahun 2015 nama baik Islam diporakporandakan oleah setidaknya dua kejadian keji. Teror paris yang menewaskan sedikitnya 129  orang serta penembakan massal di San Bernardino yang membuat 14 nyawa melayang. Islamphobia menjarah ke penjuru dunia. Namun yang menarik adalah gerakan menggunakan jilbab oleh warga nonmuslim.

Sejak peristiwa 11 September 2001, yaitu penyerangan  ke Gedung World Trade Center di New York, Amerika Serikat,  Islam dipojokan oleh bangsa barat sebagai agama sumber teroris. Nama Islam selalu diindentikan dengan kekerasan, kebrutalan dan aksi-aksi keji lainnya.

Akan tetapi, ada juga sebagian warga negara-negara barat yang memiliki akal sehat malah kemudian memilih mempelajari Islam lebih jauh.

Menurut Muhammad Shamsi Ali, Imam di Islamic Cultural Center of New York, perkembangan Islam di Amerika serikan malah meningkat tiga hingga empat kali dibanding sebelum penyerangan 11 September.

“Orang Amerika itu mendengarkan sesuatu pasti akan dicari. Begitu islam disebut sebagai sumber terorisme maka mereka mulai mencari mengapa Islam sampai demikian, padahal agama ini dianut oleh sebegitu banyaknya orang. Dan ternyata setelah mereka mencari, mereka menemukan Islam yang sesungguhnya. Terkadang mereka menerima Islam ini karena rasa bersalah” katanya.

Banyak juga dukungan-dukungan yang diberikan oleh warga nonmuslim kepada umat Islam setelah mereka tahu atau mengerti bahwa Islam sebenarnya bukan agama yang identik dengan kekerasan.

Beberpa yang berhasil terekam oleh media dunia sebagai bentuk dukungan dan solidaritas warga dunia kepada Islam adalah sebagai berikut

1. Swedia

Ini terjadi pada pertengahan tahun 2013. Bermula dari seorang perempuan berjilbab yang dipukuli di pinggiran Ibu Kota Stockholm karena memakai jilbab, seperti dilansir stasiun televisi Aljazeera.

Dilansir dari merdeka.com Juru bicara polisi Ulf Hoffman menginformasikan jika ada  seorang pria menyerang perempuan hamil yang memakai jilbab itu di kawasan Farsta. Orang tersebut memukuli dan membenturkan kepala perempuan itu ke sebuah mobil.

Hoffman memberikan pernyataan bahwa pria itu melontarkan kata-kata bermotif agama saat melakukan penganiaayan, sehingga dipastikan aksi kekesaran tersebut berlatar belakng kebencian terhadap agama.

Sebagai bentuk solidaritas, warga Swedia kemudian banyak yang mengunggah foto mereka menggunakan jilbab di akun twitter mereka.

2. Australia

Selepas rentetanperistiwa terkait kasus kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Negeri Kangguru itu merebak, warga muslim di negeri tersebut mengalami rasa takut akan diserang orang-orang anti-Islam.

Akan tetapi menanggapi hal tersebut, warga Australia kemudian menggunakan jilbab kemudian berselfie lalu mengunggahnya di media sosial pada oktober tahun lalu.

Grup di media sosial Facebook yang mampu menyedot 14.000 orang untuk bergabung.  Grup itu menghimbau membernya untuk menunjukkan solidaritas terhadap muslim Australia dengan memajang foto selfie berjilbab.

“Saya sudah mendengar cerita mengerikan tentang perempuan muslim yang diserang di jalan, teman yang takut keluar rumah, ibu yang roda bayinya ditendang,” kata Veiszadeh salah satu membernya.

Tercatat juga ada seseorang wanita Australia yang melakukan aksi tujuh hari mengenakan jilbab. Gadis Kristen itu asal Adelaide, Australia, bernama Kate Leaney, 27 tahun.

Dikutip dari merdeka.com Semangat yang ingin disampaikan Leaney tampaknya terinspirasi dari kalimat tokoh persamaan derajat Amerika Serikat, Martin Luther King Jr, “kegelapan tidak bisa menghapuskan kegelapan. Hanya cahaya bisa melakukannya. Kebencian tidak bisa menghapuskan kebencian. Hanya cinta bisa melakukannya.”

3. Amerika

Nama Shaima al Awadhi jadi perbincangan warga Ameria tahun 2012. Wanita pendatang dari Irak ini dibunuh secara sadis.

Sebagai bentu dukungan, warga amerika menggulirkan sebuah gerakan satu juta jilbab untuk mendukung Shaima al Awadhi.

Gerakan itu dilakukan di facebook dengan cara mengunggah foto mereka yang tengah menggunakan jilbab. Gerakan ini juga dilakukan oleh warga yang ternyata nonmuslim.

Tidak hanya itu, baru-baru ini tercatat seorang wanita bernama Larycia Hawkins, profesor di Wheaton College, Negara Bagian Illinois, Amerika Serikat, juga menggunakan Jilbab sebagai respon terhadap pernyataan Donald Trump.

Hawkins berdasar catatan dari merdeka.com pernah juga mendapat sangsi dari kampus tempat dia mengajar karena mengatakan Tuhan umat Kristen dan Islam itu sama.

“Niat saya adalah untuk memperlihatkan cinta umat Kristen terhadap saudara kita warga muslim. Saya menunjukkan cinta kepada Yesus dan Dia menyuruh saya untuk mencintai semua tetangga kita,” kata dia dalam email kepada koran the Independent. []


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaSoal Ojek Online, Undang-Undang Harus Menyesuaikan Teknologi. Baca Ini!
Berita berikutnyaCewek Berjibab Ciuman di Taman Tugu Malang. Cek Fotonya