Selain Bank dan Toko Online, Peretas Mulai ‘Rambah’ Hotel untuk Dijadikan Korban


© huffingtonpost.com

SURATKABAR.ID – Memang bukan hal yang baru mengenai peretasan dan pencurian data kartu kredit terjadi, namun rata-rata mengincar semua data dari toko online atau bank. Akan tetapi sekarang para peretas memilih  hotel sebagai korbannya.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh pemilik dari Holiday Inn dan Crowne Plaza Hotel yang baru-baru ini telah mengidentifikasi bahwa ada malware khusus yang sengaja diciptakan untuk mencuri data-data penggunanya secara online serta menyerang sekitar 1.200 lahan bisnis properti franchise.

Organisasi yang bergerak di bidang perhotelan berbasis di Inggris, Intercontinental Hotels Group (IHG), juga mengatakan bahwa sekarang ini yang sudah terkena imbasnya diketahui ada satu di Amerika Serikat dan lainnya di Puerto Rico.

Dikarenakan hal ini, maka mereka menyarankan agar para tamu hotel berhati-hati dalam penggunaan kartu kreditnya agar tidak menjadi korban pencurian.

“Setiap orang wajib memantau secara ketat laporan data dalam rekening mereka setelah melakukan transaksi menggunakan kartu kreditnya. Jika ada kejanggalan, maka sesegeralah untuk melaporkan ke pihak bank. Secara umum, kejanggalan yang terjadi sampai dengan berkurangnya nominal saldo mereka tidak akan menjadi tanggung jawab mereka sendiri,” ungkap juru bicara Buckinghamshire yang menjadi bagian dari IHG, seperti yang dikutip dari BBC.com (19/4/2017).

Pihak IHG sendiri mengungkapkan bahwa ada aktivitas janggal yang dialami banyak hotel antara tanggal 29 September – 29 Desember 2016 lalu dan terus berlanjut sampai bulan kemarin.

Para hijacker yang menggunakan malware itu menyerang database hotel untuk dapat mencuri data-data kartu kredit para penyewa kamar hotel dan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Diperkirakan dari jumlah hotel yang terkena imbasnya itu, masih banyak tempat sejenis lainnya yang juga menjadi korban, namun tidak sadar atau merasa tidak tahu harus melaporkan kemana.

Sekarang ini, Pemerintah Amerika Serikat secara perlahan namun pasti mulai menggunakan sistem chip dan pin untuk berbagai transaksi yang dapat meminimalisir serangan seperti itu terjadi lagi di masa mendatang sekaligus melindungi banyak pengguna kartu kredit dari ancaman para carder atau hijacker.