Soal Gelar Sunan untuk Ahok, MUI Bilang Ini


SURATKABAR.ID – Gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) medapatkan gelar Sunan Kalijodo dari GP Ansor berkat keberhasilannya mengubah kawasan Kalijodo menjadi jauh lebih baik.

Namun, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan malah menyesalkan pemberian gelar sunan tersebut. Amirsyah bahkan menyebut bahwa pemberian gelar tersebut terlalu berlebihan.

“Ya lebai, mestinya bersikap empati, toleran, proporsional, kalau begitu hanya akan membuat kisruh Pilkada DKI,” tutur Amirsyah dilansir republika.co.id.

Bukan hanya berlebihan, gelar sunan ini juga dianggap mencampur adukkan ajaran dan simbol agama Islam dengan pasangan calon tertentu yang tidak pada tenpatnya.

Baca juga: Kondisi Memburuk, Jupe Kedatangan Tamu Bertudung Hitam. Siapa?

Untuk itu, Amirsyah meminta agar masyarakat lebih waspada dan hati-hati. Apalagi jika menyangkut soal simbol agama yang harus ditempatkan sesuai fungsinya.

Amirsyah sangat menyesalkan pemberian gelar ini pada Ahok, sebab gelar sunan merupakan gelar yang sangat mulia. Tidak sembarang orang yang bisa mendapatkan gelar mulia tersebut dengan mudahnya.

Selain itu, Amirsyah juga mengingatkan agar para ulama dan tokoh agama tak larut dalam arus Pilkada DKI 2017, hingga lupa menempatkan sesuatu sesuai fungsinya.

“Saran saya, lebih baik tokoh agama Islam manapun menahan diri untuk tidak ikut larut dalam hiruk pikuk pilkada,” tegas Amirsyah.

Sebelumnya, pada Jumat (7/4/2017) lalu, Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas memberikan gelar Sunan Kalijodo untuk Ahok. Menurut Yaqut, gelar ini pantas disematkan pada Ahok karena telah merubah kawasan Kalijodo yang dikenal sebagai lokalisasi menjadi sebuah tempat wisata ramah anak.

Pemberian gelar ini dilakukan Yaqut ketika dirinya bersama sejumlah anggota GP Ansor melakukan pertemuan dengan Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Bahkan, Yaqut juga memanggil Ahok dengan sebutan Basuki Nurul Qomar yang merupakan bahasa Arab untuk Basuki Tjahaja Purnama.