Sapi di Negara Ini Hidup dengan Perut Berlubang, Kok Bisa?

Praktik ini pun sudah menyebar ke seluruh dunia. Bagaimana Indonesia?


SURATKABAR.ID – Guna memenuhi riset studi terhadap hewan ternak, para peternak di Swiss melakukan cara unik dalam meneliti. Seperti dikutip dari laman Wittyfeed dalam Brilio.net, Selasa (11/4/2017), lubang yang disebut fistula atau kanula ini ialah sebuah pipa yang menghubungkan langsung ke bagian pencernaan sapi.

Melalui fistula berdiameter 20 cm ini, para peternak dapat memeriksa dan mengetahui dengan jelas apa saja yang dimakan oleh sapi dan bagaimana proses pencernaan sapi itu bekerja.

Selama proses penelitian, sapi-sapi ini hanya diberi makan gandum dan rumput. Sebagian dari makanan yang telah dicerna oleh sapi akan diambil untuk diteliti melalui kanula tersebut.

Hasil dari penelitian nantinya digunakan untuk membantu peternak memberikan makanan yang lebih seimbang untuk sapi. Selama pemasangan dan proses penelitian lewat kanula, sapi-sapi itu dibius.

Baca juga: Hewan adalah Hasil Evolusi dari Mikroba, Menurut Penelitian

Dengan demikian sapi-sapi tidak merasakan sakit ketika sedang diperiksa.Jadi kamu-kamu yang pecinta hewan, tenang saja, ya. Sapinya baik-baik saja, kok.

Menuai banyak kritikan

Praktik yang sudah dilakukan sejak tahun 1833 ini sebenarnya menuai banyak kritikan. Organisasi perlindungan hewan menganggap teknik ini merupakan salah satu penyiksaan karena lubang itu selalu terbuka.

Namun setelah dilakukan penelitian, sapi ber-kanula ini ternyata cenderung hidup lebih lama. Itu semua dikarenakan perawatan yang diberikan kepada mereka lebih maksimal.

Baca juga: Ternyata, Hewan Peliharaan dapat Turunkan Risiko Alergi dan Obesitas pada Bayi

Oleh karena dampak positifnya, praktik ini pun belakangan mulai menyebar di seluruh dunia. Banyak peternak di Eropa dan Amerika Serikat mulai menggunakan teknik ini untuk meningkatkan kualitas hewan di peternakan mereka.