Menguak 4 Penyebab Presiden Jokowi Pindahkan Ibu Kota ke Palangka Raya


SURATKABAR.ID – Pemindahan ibu kota Indonesia tengah diwacanakan pemerintah. Rencananya, ibu kota Negara Indonesia akan dipindahkan ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Seperti dketahui, wacana pemindahan ibu kota ini sudah terjadi sejak Presiden pertama RI, Soekarno memimpin. Saat itu, Bung Karno memimpikan Palangka Raya menjadi ibu kota tanah air.

Jika ditilik dari letak lokasinya, Palangka Raya, merupakan kota di tengah-tengah Pulau Kalimantan. Selain itu, Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia.

“Jadikanlah Kota Palangka Raya, sebagai modal dan model,” tutur Soekarno saat pertama kali menancapkan tonggak pembangunan kota tersebut pada 17 Juli 1957. Sebagaimana diterbitkan dalam Merdeka, Rabu (12/4/2017).

Tahun demi tahun berlalu, wacana sempat hilang begitu saja. Kemudian ide tersebut muncul kembali saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat presiden RI di 2013. Lagi-lagi, Palangkaraya menjadi opsi utama perpindahan ibu kota.

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Inilah Beberapa Negara yang Sukses Memindahkan Ibu Kota

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun akhirnya melanjutkan wacana ini. Johan Budi selaku Juru Bicara Kepresidenan menjelaskan, wacana kembali muncul saat Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Palangka Raya sekitar setahun lalu.

Saat itu, Johan mengatakan, banyak masyarakat yang meminta agar Presiden merealisasikan pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Palangka Raya.

Namun, lanjut Johan, pemindahan ibu kota bukan persoalan mudah. Maka dari itu, Presiden Jokowi meminta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro terlebih dahulu untuk melakukan kajian secara mendalam.

“Tentu memindahkan ibu kota kan bukan persoalan yang kecil, [itu persoalan yang] luas.. Butuh kajian yang mendalam. Saya dengar Menteri Bappenas sudah diminta untuk melihat peluang itu, mengkaji,” jelas Johan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/4/2017).

Disebutkan Johan, Palangka Raya belum siap menjadi ibu kota negara. Maka dari itu, Presiden meminta Kepala Bappenas mengkajinya secara mendalam. Apalagi, kata Johan, pemindahan ibu kota negara harus pula atas persetujuan DPR.

“Ya kalau soal siap nggak siap ya saya kira belum siaplah. Kalau memindahkan ibu kota kan perlu bicara dengan DPR, bicara dengan macam-macam.”

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran, sudah bertemu dengan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro di Kantor Bappenas untuk memaparkan perkembangan pembangunan di daerahnya. Dalam pertemuan yang digelar pada (11/1/2017) tersebut, Sugianto sempat menyatakan kesiapan Kalimantan Tengah menjadi ibu kota negara.

“Saya bertemu Pak Menteri melaporkan rencana pembangunan Kalteng. Saya ceritakan tentang pekerjaan kami. Komitmen kami tidak main-main untuk mendukung rencana-rencana pemerintah pusat. Kalau pusat memang butuh, kami sangat siap jadi ibu kota negara. Itu juga cita-cita Pak Karno kan,” beber Sugianto, Rabu (11/1/2017).

Mantan anggota DPR ini menjelaskan banyak kemajuan proyek strategis di daerahnya. Pembangunan tersebut akan membuat Kalimantan Tengah menjadi semakin strategis dalam peta pembangunan nasional.

“Kita sedang kawal betul program strategis, pembangkit listrik, jalur kereta Kalimantan, sampai sentra pertanian organik terbesar di Indonesia. Kalau pusat-daerah kuat, pasti berkah untuk rakyat. Kalteng pasti semakin penting dalam kemajuan Indonesia,” tuturnya.

Dia juga yakin pemindahan ibu kota pemerintahan dapat mengurangi beban Jakarta yang sudah terlalu padat.

“Daya dukung Jakarta sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan sudah terlampau berat. Dalam dua puluh tahun ke depan, mungkin Jakarta tidak sanggup lagi. Beban itu perlu dibagi dan Kalteng siap untuk menjadi pusat pemerintahan baru di Indonesia. Kami memulainya dengan menyiapkan 300 ribu hektare lahan untuk dikembangkan sebagai pusat pemerintahan,” jelasnya.

Berikut inilah 4 alasan terbaru mengapa Presiden Jokowi rencanakan pemindahan ibu kota.

1. Jakarta terlalu padat

Pemerintah Jokowi-JK kembali mengkaji wacana pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pertimbangannya, saat ini, daya tampung Jakarta sudah berlebih.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, salah satu indikatornya ialah Jakarta saat ini sudah macet parah. Selain itu, muka tanah juga terus mengalami penurunan.

“Jakarta jadi pusat segalanya, keuangan, industri, bisnis dan pemerintahan. Kemacetan makin parah, dan melihat ini maka perlu ada upaya untuk mencegah konsentrasi pembangunan wilayah,” ungkap Menteri Bambang di Kantornya, Jakarta, Selasa (11/4/2017).

Dalam pandangan Menteri Bambang, saat ini yang bisa dipindah adalah pusat pemerintahan. Pusat bisnis tidak mungkin dipindahkan karena ini tergantung permintaan pasar atau market.

“Kalau kita ingin memindahkan pusat keuangan dan bisnis, tidak mungkin. Kita tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak sesuai kehendak pasar.”

Jika pusat pemerintahan dipindahkan, maka akan menumbuhkan pusat ekonomi baru. Pusat bisnis di Jakarta menurut Menteri Bambang masih akan terus berkembang dan tidak akan ikut ke Ibu Kota baru nantinya.

“Dia tidak akan menjadi pusat bisnis, atau keuangan. Ini [bisnis dan keuangan yang sudah ada] tetap di Jakarta, tapi pusat pemerintahan ini akan menciptakan pusat pertumbuhan baru di seputarnya.”

2. Kalimantan tidak rawan gempa

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengaku telah mulai mengkaji wacana pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pengkajian pemindahan Ibu Kota Negara merupakan permintaan dari Presiden Joko Widodo.

Dikatakan Bambang, kajian pemindahan Ibu Kota Negara dilakukan atas perlunya perataan perekonomian antara Pulau Jawa dengan pulau lain.

“Beban Jakarta dan Pulau Jawa itu sudah terlalu berat,” sahut Bambang di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/4/2017).

Bambang menambahkan, Palangka Raya nantinya hanya menjadi pusat pemerintahan. Sementara, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis.

“Yang pindah adalah pusat pemerintahan. Administrasi pemerintahannya. Jakarta tetap diposisikan sebagai pusat bisnis dan keuangan di Indonesia,” sebutnya.

Selain Palangka Raya, mantan Menteri Keuangan ini menyebutkan ada opsi kota lain yang menjadi wacana didaulat sebagai Ibu Kota Negara. Meski begitu, dia mengakui Palangka Raya tetap menjadi lokasi yang diutamakan.

“Pulau Kalimantan diunggulkan karena enggak rawan gempa,” katanya.

Bambang mempredikasi hasil kajian akan selesai pada tahun 2019. Namun, pada tahun 2019 hanya akan ditetapkan bahwa Palangka Raya menjadi Ibu Kota Negara. Sedangkan pemindahan Ibu Kota Negara dipastikan akan memakan waktu yang lebih lama.

“2019 mungkin penetapannya saja. Tapi kalau ini kan enggak mungkin dalam waktu pendek membangunnya. Ini kan, membangun kota dari nol. Kami inginnya membangun dari nol bukan kota yang sudah ada.”

3. Harus keluar dari Jawa

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menegaskan, Ibu Kota harus dipindah dari Jawa. Sedangkan Palangka Raya bukan satu-satunya pilihan.

“Yang pasti harus keluar dari Pulau Jawa,” ucap Menteri Bambang di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (11/4).

Menteri Bambang membeberkan, beberapa kriteria calon daerah yang bisa menjadikan Palangka Raya sebagai Ibu Kota. Salah satunya adalah kemungkinan bencana alam yang kecil.

“Lalu ketersediaan tanah yang dikuasai oleh negara dan statusnya free and clear agar tidak ada pembebasan tanah lagi.”

4. Tak pakai dana APBN

Wacana pemindahan Ibu Kota negara kembali muncul di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Wacana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah didengungkan pertama kali oleh Presiden Soekarno.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengakui pemindahan Ibu Kota membutuhkan dana yang besar. Maka dari itu, Presiden Joko Widodo tak mau semuanya menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Dananya pasti besar, tapi presiden ingin jangan sampai memberatkan APBN,” imbuh Menteri Bambang di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (11/4/2017).

Saat ini, Menteri Bambang berencana mencari skema pembiayaan yang melibatkan sektor swasta. Namun, belum dijelaskan secara rinci soal penyaluran dana ini.

“Salah satu kajian kita adalah mencari skema pembiayaan yang kreatif, artinya melibatkan private sector agar pemerintah bisa bangun infrastruktur, sarana prasarana dengan dukungan swasta.”

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu! Diam-Diam Proses Pemindahan Ibu Kota Sudah Dimulai

Menteri Bambang memastikan, rencana pemindahan Ibu Kota ini melibatkan semua kementerian dan lembaga.

“Semua terkait, misalnya nanti bandara seperti apa yang harus dibangun. Ibu Kota tersebut tentunya harus terkoneksi dengan mudah ke Jakarta juga sebagai bandara utama,” pungkasnya.