Tak Perlu Alat Canggih, Peneliti Gunakan Anjing untuk Deteksi Kanker Prostat


© nbcnews.com

SURATKABAR.ID – Selama ini anjing dikenal sebagai hewan yang memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Hal itu dikarenakan hewan satu ini memiliki hampir 220 juta sel penciuman yang sensitif, sedangkan manusia hanya memiliki 5 juta sel penciuman saja. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa indra penciuman anjing 44 kali lebih tajam dibanding manusia.

Dikarenakan penciumannya yang sangat tajam, anjing sering kali dimanfaat untuk beberapa keperluan manusia, bukan hanya sebagai hewan pelacak untuk keperluan keamanan, tapi juga dijadikan sebagai pelacak diagnosa medis dalam menentukan adanya kanker prostat yang terdapat pada pria.

Pada umumnya, kanker prostat terbentuk di jaringan prostat (kelenjar sistem reproduksi laki-laki yang terletak di bawah kandung kemih dan di depan rektum). Kanker prostat lebih sering dialami oleh pria berusia lanjut namun ada pula pria-pria muda yang juga terkena penyakit ini.

Sebelumnya, untuk melakukan pendeteksian kanker prostat, para pakar medis menggunakan tes PSA (Prostate-Specific Antigen) untuk melihat kadar protein yang dihasilkan oleh kelenjar prostat. Normalnya, seorang pria muda memiliki kadar PSA yang sedikit, tapi akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Untuk itu, tes PTA ini berfungsi untuk mengukur kadar PSA dalam darah seorang pasien.

Sayangnya tes PSA sampai sekarang dinilai kurang efektif karena tidak semua penderita kanker prostat megalami peningkatan kadar PSA atau hanya sekitar 45 persen penderita kanker prostat memiliki kadar PSA tinggi.

Oleh karena itu para peneliti terus mencari solusi lain untuk mendeteksi kanker prostat dengan tepat, salah satunya seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang medis di Indiana University-Purdue University Indianapolis yang diketuai Amanda Siege. Dalam penelitiannya itu, para pakar meneliti aroma urin untuk mendeteksi kanker prostat.

Seperti yang dikutip dari NewAtlas.com (3/4/2017), proses penelitian yang sudah dimulai sejak tahun 2014 tersebut melibatkan anjing yang sudah terlatih untuk dapat mengenali aroma urin seorang pria yang positif terkena kanker prostat.

Menggunakan teknik yang disebut Gas Chromatography-Mass Spectrometry ini, para pakar memanfaatkan jumlah senyawa organik volatil yang mudah menguap pada urin penderita kanker prostat.

Penelitian tersebut menggunakan 100 sampel urin laki-laki yang positif mengalami kanker prostat yang sebelumnya telah menjalani tes biopsi prostat. Lalu, hewan tersebut akan mendeteksi perubahan jumlah senyawa organik pada sampel yang disediakan. Hasilnya, anjing tersebut mampu mendeteksi sampel positif kanker prostat dengan presentasi keakuratan mencapai 90 persen.

Melalui penelitian ini, maka para peneliti dapat membuktikan bahwa anjing juga memiliki kemampuan untuk mendeteksi kanker prostat manusia dengan tingkat keakuratan tes yang cukup tinggi. Ke depannya, para peneliti akan terus melakukan eksperimen terhadap tes diagnostik dengan memanfaatkan indra penciuman anjing.