Tegas! Singapura ‘Usir’ Khatib Jumat Penyebar Kebencian dan Perpecahan


SURATKABAR.ID – Dengan tegas Singapura menolak ujaran-ujaran kebencian lewat dakwah agama. Hal ini terbukti saat pemerintah Singapura mendeportasi seorang khatib Jumat yang berasal dari India. Beliau ketahuan menyebarkan ujaran kebencian terhadap umat Kristen dan juga Yahudi saat khotbah.

Meski Nalla Mohamed Abdul Jameel Abdul Malik ini sudah mengaku bersalah dan meminta maaf karena khotbahnya tertanggal 6 Januari yang lalu, kementerian Dalam Negeri Singapura tetap menegaskan tidak dapat mentoleransi apa yang telah diperbuatnya.

“Dia akan dikirim pulang. Setiap pemimpin agama dari setiap agama yang mengeluarkan pernyataan seperti itu akan diminta bertanggung jawab dengan tindakan mereka,”  papar juru bicara Kementerian Dalam Negeri, seperti yang tertera di tempo.co.

Nalla bekerja sebagai kepala Masjid Jameek Chulia di Singapura sejak 7 tahun yang lalu. Nalla berasal dari India yang sebelumnya menyatakan permintaan maafnya kepada perwakilan umat Kristen, Sikh, Taoisme, Hindu dan perwakilan Federasi Muslim India.

Baca juga: Buat Video Terbuka untuk Dr Zakir Naik, Ustaz Abu Janda ‘Diserang’ Netizen Karena Ini

Atas perilakunya tersebut, Nalla harus membayar denda sebesar 4.000 dolar Singapura atau setara dengan Rp 38.1 juta sebagai hukuman atas khotbahnya yang dinilai menyerukan permusuhan terhadap umat non muslim.

Nalla menyebutkan dirinya sangat menyesal atas perbuatan yang telah ia lakukan karena malah menimbulkan ketegangan, ketidaknyamanan dan juga trauma. Khotbah Nalla yang dinilai menyebaran kebcenian terjadi pada januari dan Februari 2017 yang lalu. Dalam khotbahnya, Nalla mengutip ayag yang menyebutkan,

Allah menolong kita menolak Yahudi dan Kristen.

Kemudian diketahui ayat itu tidak berasal dari Al-Quran. Dan rekaman video khotbah Nalla tersebut diunggah ke Facebook dan menimbulkan perdebatan yang pelik. Hingga Menteri bidang urusan Muslim, Yaacob Ibrahim harus turun tangan menyerukan perdamaian dan persatuan sesama umat Muslim.

Lalu bagamana di Indonesia apakah akan melakukan hal yang tegas degan apa yang dilakukan oleh Singapura jika terdapat pemimpin agama yang melakukan hal serupa?