Di Jepang, Ada Manusia Pertama yang Berhasil Melakukan Transplantasi Sel pada Matanya


© popsci.com

SURATKABAR.ID Transplantasi sel menggunakan stem cell sebagai metode alternatif untuk memperbaiki atau mengganti organ yang abnormal memang telah dikembangkan sejak abad 20. Sel Induk atau stem cell diyakini mampu menjadi obat berbagai penyakit, khususnya penyakit yang selama ini belum ditemukan obatnya.

Metode Induced Pluripotent Stem (iPS) cells sekarang ini telah dikembangkan dengan memindahkan dan memprogram ulang sel matang milik pendonor menjadi kondisi embrio, lalu dikalibrasi ulang untuk selanjutnya ditempatkan ke dalam tubuh  penerima donor.

Seperti yang dikutip dari ScienceAlert.com (3/4/2017), percobaan iPS menggunakan metode terbaru ini ternyata telah dilakukan di Negeri Sakura, Jepang, di mana seorang pria yang berusia 60 tahun menjadi manusia pertama yang menerima transplantasi sel yang didonorkan oleh orang lain melalui program iPS.

Pria tersebut diketahui memiliki penyakit mata yang tidak dapat disembuhkan akibat usia yang sudah masuk masa degeneratif sehingga segala fungsi dari tubuhnya akan mengalami penurunan, seperti penurunan kondisi fisik, penurunan kekebalan tubuh dan penurunan regenerasi sel.

Dikarenakan menurunnya segala fungsi di tubuhnya ini, maka cepat atau lambat akan berkomplikasi terhadap penurunan atau kehilangan penglihatan jika tidak segera ditangani.

Prosedur transplantasi sel kepada pria tersebut telah dilakukan pada bulan Februari 2017 lalu, di mana sel kulit pendonor yang sehat dikalibrasi ulang menjadi sel retina, kemudian ditranplantasikan ke retina mata kanan penerima donor.

Dengan metode ini, diharapkan sel baru yang telah ditempatkan pada retina melalui program iPS mampu menghambat atau bahkan menghentikan proses degenerasi sel, sehingga dapat mencegah terjadinya kebutaan.

Percobaan menggunakan metode iPS sebenarnya pernah dilakukan pada tahun 2014. Saat itu program ini diaplikasikan kepada wanita Jepang yang menerima transplantasi sel kulit untuk retina matanya. Hanya saja dalam pengaplikasiannya waktu itu, sang wanita yang bersangkutan menerima transplantasi stem cell dari kulitnya sendiri, sehingga berbeda dengan tranplantasi yang dilakukan pada tahun 2017.

Sayangnya, keberhasilan program iPS yang dilakukan baru-baru ini tersebut masih diragukan oleh banyak ilmuwan, mengingat transplatasi sel dari individu yang berbeda memiliki resiko kegagalan dan penolakan genetik dari sel penerima. Maka dari itu, hingga saat ini para peneliti terus melakukan percobaan dan penelitian lebih lanjut.