Benarkah Cara-Cara Ilmiah Ini Bikin Orang Tak Bisa Mati?


SURATKABAR.ID – Kita semua pasti mati. Keabadian (immortality) hanya dongeng isapan jempol dalam berbagai science fiction dan fantasi. Meski begitu, pernahkah Anda bayangkan sebaliknya? Sudah menjadi rahasia umum para ilmuwan masih saja mengupayakn untuk mewujudkan hidup yang abadi. Hasilnya adalah penemuan sejumlah cara ilmiah secara teoritis.

Yang menarik, sebenarnya para ilmuwan tak ingin menemukan teknologi yang membuat manusia bisa hidup selamanya. Mereka hanya ingin agar manusia menjadi lebih panjang umur dan sehat, di mana berbagai hal secara teknis membuat seseorang tak bisa meninggal mampu diterapkan. Apakah berhasil? Tentu manusia masih tak ingin mengingkari takdir.

Sebagaimana diterbitkan dalam Merdeka, inilah beberapa hal terkait usaha para ilmuwan untuk membuat manusia jadi imortal, atau paling tidak punya angka harapan hidup yang tinggi. Penasaran?

Baca juga: Pemerintah Dituding Abaikan Kesehatan Anak Karena Biarkan Diskon Murah untuk Makanan dan Minuman dengan Kadar Gula Tinggi

1. Memperbaiki Enzim Telomerase

Segala sesuatu yang ada di tubuh manusia lama-kelamaan akan memburuk. Mulai dari kulit yang kehilangan elastisitas hingga menjadi keriput, tulang menjadi lemah dan rapuh, dan masih banyak lagi hal lain semacam ini. Hal ini selalu kita anggap wajar karena selama berabad-abad begitulah adanya manusia. Namun ilmuwan ingin membuktikan bahwa sebenarnya hal itu bisa dihindari.

Di akhir kromosom, terdapat sebuah enzim bernama telomerase. Telomerase bertugas menjaga kromosom tetap aman dan tidak tercerai berai. Ketika muda, enzim ini bekerja dengan baik. Namun seiring berjalannya waktu, sel makin banyak dan luas, telomerase makin usang dan rusak. Hal inilah yang menyebabkan penuaan. Jika enzim ini bisa diperbarui, manusia bisa muda selamanya.

Para ilmuwan telah mengujicoba pada tikus dan berhasil. Mengingat manusia berbagi DNA yang sama dengan tikus, cukup masuk akal manusia juga berpotensi memperlambat atau bahkan menghentikan proses penuaan. Walau begitu, hal ekstrim ini belum dicoba.

2. Nanoteknologi

Bayangkan jika ada mesin yang sangat kecil di dalam tubuh manusia, mengambang di aliran darah, dan bertugas untuk menjaga apa yang ada di dalam tubuh kita tetap berjalan sempurna. Benar, konsep ini tak cuma imajinasi belaka, pasalnya metode ini telah diuji coba di MIT oleh para ilmuwan, dengan objek tikus.

Dalam riset tersebut, para ilmuwan menggunakan partikel nano untuk menghancurkan tumor ovarium pada tikus. Selain itu, pada manusia juga telah diuji coba dengan metode serupa untuk pembekuan darah.

Hal ini, jika diterapkan dengan jumlah masif pada manusia, tentu akan membuat manusia punya angka harapan hidup lebih lama. Ketika jaringan atau organ terkikis, robot-robot mikro ini bisa membenahinya. Jika ini benar-benar terjadi, yang mana saat ini telah dilakukan dalam skala kecil, maka kita sedang mengubah takdir.

3. Organ yang ‘Ditumbuhkan’ di Laboratorium

Jika umat manusia sebelum ini mengenal istilah kloning, ternyata ilmuwan juga mengembangkan sebuah teknologi berupa organ yang dikembangkan di laboratorium. Ini dilakukan guna memasok organ bagi mereka yang membutuhkan. Penelitian tentang ini sudah dijalankan sejak lama mengingat banyak orang yang meninggal karena menunggu donor organ yang sifatnya tidak pasti.

Sama seperti kloning pula, organ yang dikembangkan di laboratorium ini akan mengandung DNA dari seseorang yang akan jadi penerima organ. Meski demikian, prosesnya agak berbeda dari kloning.

Organ ini diproduksi dengan menggunakan 3D printer dengan media biopsi para organ, jadi tetap berupa sel-sel hidup yang dijaga tetap sehat dengan menggunakan nutrien. Terdapat keterbatasan karena organ yang diproduksi hanya organ sederhana, yakni kulit, hati, dan kandung kemih. Namun dengan penelitian yang lebih rumit dan canggih, organ lebih rumit tentu bisa diproduksi di masa depan, sehingga angka harapan hidup manusia bisa makin tinggi.

4. Cryogenics

Diantara daftar ini, mungkin Cryogenics adalah cara yang paling tidak masuk akal. Bagi Anda yang belum tahu, cryogenics adalah membekukan pikiran dan tubuh manusia dan ‘mengawetkannya’ sampai waktu tertentu. Terdengar seperti kisah fiksi ilmiah bukan? Namun tidak, metode ini bahkan telah dilakukan seseorang, yang biasanya didiagnosa dengan penyakit tertentu yang tak ada obatnya, namun ingin tetap hidup.

Cryogenics bekerja dengan cara membuat tubuh tidak aktif dengan suhu yang dingin, sehingga semua fungsi tubuh melambat. Fungsi otak pun jadi makin rendah yang membuatnya tak butuh banyak oksigen. Proses metabolisme berjalan dengan sangat lambat, hingga membuat seseorang jadi layaknya beruang yang sedang hibernasi.

Cara ini telah berhasil untuk membekukan otak kelinci, dan sang kelinci bisa dibawa hidup kembali dalam keadaan hampir sempurna. Meski demikian, praktik ini sangat mahal. Konon orang kaya pun akan berpikir dua kali untuk melakukan ini.

5. Mengonsumsi ALK5

Banyak sekali krim dan pil anti-aging yang bisa didapatkan di pasaran. Biasanya dengan harga yang makin mahal, kemampuan pil tersebut makin luar biasa. Namun salah satu inovasi dalam hal anti-aging yang digadang-gadang terkuat adalah protein ALK5.

ALK5 mampu membuat tikus uji coba menjadi muda kembali dengan cara agak ekstrem yakni bekerja langsung ke sel induk. Penyebab sel induk yang menua dan rusak adalah adanya pertumbuhan TGF-beta1, yang menghalau regenerasi sel induk. ALK5 terbukti mampu untuk menghalau tumbuhnya TGF-beta1 tersebut.

Riset akan hal ini diuji coba kepada tikus, dan berhasil menumbuhkan otot dan jaringan otak yang rusak dan menua secara baik. Tentu ada prosedur sangat rumit yang harus dilakukan untuk bisa mengujinya pada manusia, dengan tingkat keberhasilan yang tidak bisa diprediksi. Namun ini adalah harapan untuk jadi tetap muda selamanya.

6. Memprogram Ulang Sel

Seorang profesor bernama Juan Carlos Izpisua Belmonte dari Salk Institute di California, adalah orang yang punya ide untuk memprogram ulang sel agar berhenti menua. Sang profesor menyatakan bahwa penuaan ternyata tak berlangsung satu arah. Penuaan memiliki ‘kelenturan’ yang jika dikelola dengan baik, bisa dibalik.

Percobaannya untuk memprogram ulang sel adalah dengan mengubah sel tersebut menjadi seperti sel induk, sel universal yang hadir dalam embrio yang dalam berubah jadi tiap sel dalam tubuh.

Percobaan ini dilakukan pada tikus dewasa yang mengalami progeria, atau penuaan dini yang juga bisa menyerang manusia. Setelah melakukan program ulang sel, sistem kardiovaskular dan berbagai organ lain seperti pankreas dan juga jaringan otot tetap berfungsi dengan baik. Yang lebih mencengangkan, tikus ini akan hidup 30 persen lebih lama dan tidak akan mengembangkan sel kanker.

Ketika dilakukan kepada tikus dewasa yang sehat tanpa penyakit, hal yang sama juga terjadi.

Hal ini menjadi kabar gembira bagi manusia terkait meninggikan angka harapan hidup agar lebih produktif. Bahkan menurut sang Profesor, jika berhasil dikembangkan untuk manusia, angka harapan hidup kita bisa meninggi hingga umur 108 tahun.

Baca juga: Alasan Ilmiah Kenapa Tidak Dapat Menghilangkan Minyak Hanya dengan Air Saja

Hanya masalahnya, sampai berita ini diterbitkan, hal ini masih menyulut kontroversi.

Alejandro Ocampu yang menulis jurnal ini berpendapat, memang reprogram sel ini bisa membuat manusia terlihat lebih muda. Namun pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sel ini mampu benar-benar menyebabkan proses peremajaan pada individu tersebut. Prediksi mereka, mengubah sel tubuh dalam jumlah besar untuk menjadi sel induk, bisa membuat berbagai kegagalan organ, yang berujung kematian (yang lebih cepat).