Ayah Andri Syahputra Akhirnya Membongkar Latar Belakang Penolakan Terhadap Panggilan PSSI


SURATKABAR.ID – Nama Andri Syahputra jadi bahan perbincangan publik selepas melakukan penolakan saat dipanggil panggilan seleksi timnas Indonesia U-19. Pekan lalu, Agus Sudarmanto ayah dari Andri menyampaikan penolak terhadap panggilan PSSI tersebut.

Penolakan tersebut menimbulkan polemik panjang, hingga muncul sebuah usulan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada PSSI agar Andri dimasukan ke ‘daftar hitam’

Ayah Andri lantas memberikan penjelasan mengenai penolakan yang dilakukan olehnya tersebut. Ia menyatakan jika salah satu alasan utamanya adalah masalah pendidikan dan masa depan Andri. Agus lantas menjelaskan jika ada yang gagal dipahami oleh PSSI dan juga masyarakat Indonesia tentang jalan cerita dibalik penolakan tersebut.

“Saya tidak pernah clarified (klarifikasi) ke PSSI soal penolakan. Karena urusan ini, sudah di-take over (diambil alih) oleh QFA (Federasi Sepak Bola Qatar) dan club (Al Gharafa SC). Penolakan pasti ada sebabnya,” kata Agus lewat wawancara melalui pesan Whatsapp dengan Republika, Sabtu (25/3/2017).

Baca Juga: Tolak Bela Timnas, Menpora Minta PSSI Blacklist Pemain Muda Ini

Agus lantas bercerita mengenai kronologi undangan dari PSSI tersebut. Ia menceritakan jika sempat di hubungi oleh Farina dan Marco dari PSSI mengenai adanya rencana memanggil Andri.

Sehari setelah dihubungi Farina dan Marco, PSSI mengirim undangan ke melalui email ke QFA, klub, dan juga Agus. Selepas itu Agus mengaku dipanggil oleh QFA dan diberikan penjelasan yang cukup panjang.

“Saya disodori draf surat dan disuruh membaca. Isinya panjang. Yang saya ingat underage (Andri masih di bawah umur) dan masih pelajar. QFA bilang surat akan dikirim ke klub. Dari klub dikirim balik ke QFA. Finalnya, QFA akan mengirim surat (tersebut) ke FIFA (Federasi Sepak Bola Dunia). Lalu mengirim surat (tersebut) ke PSSI,” lanjut Agus.

Agus mengaku tidak memahami apakah QFA memiliki kewenangan untuk menahan Andri untuk pulang ke Indonesia dengan alasan underage.

“Saya nggak tahu soal itu,” kata Agus.

Ia kemudian menegaskan jika alasan utama dari permasalahan ini adalah tentang pendidikan Andri. Ia tidak ingin anaknya putus sekolah karena harus menjalani pemusatan latihan hingga menjelang kejuaraan yang waktunya pasti tidak singkat.

“Saya bilang, tidak memenuhi undangan karena pendidikan. Dan tanpa Aspire Academy (tempat Andri bersekolah saat ini) dan klub, Andri tidak akan jadi pemain bola profesional seperti sekarang ini. Dan Andri tidak pernah masuk SSB (Sekolah Sepak Bola) di klub di Indonesia,” jelasnya.

Agus juga enggan berkomentar mengenai wacana Andri akan dimasukan ke ‘daftar hitam’ PSSI dan terancam tidak akan pernah bisa memperkuat timnas di kemudian hari.

“Saya sebagai orang tuanya tidak bisa memaksa dia harus kemana. Allah sudah menentukan masa depan dan jalan hidupnya,” terangnya.

Sedangkan mengenai respon kekecewaan warga masyarakat terkait penolakan ini dianggap Agus sebagai ladang pahala.

“Caci maki orang-orang yang tidak menjaga lisannya, kami ambil pahalanya saja. Sebaris kata yang ditulis dan diucap, akan mereka pertanggungjawabkan di akhirat kelak,” kata Agus.

Saat ditanya mengenai adanya isu yang menyatakan jika penolakan itu karena ada tawaran dari pemerintah Qatar untuk memberikan kewarganegaraan kepada dirinya dan anaknya, Agus menampik kabar tersebut.

“Saya nggak pernah komunikasi tentang WN (pemberian warga negara) Qatar. Dan saya nggak tahu,” pungkasnya.