Pria di Malang Ini Protes di Facebook Setelah Ditilang, Klarifikasi Setelahnya Malah Absurd


    SURATKABAR.ID – Tilang-menilang terkait pelanggaran lalu lintas memang cukup membingungkan. Bukan hanya minimnya sosialisasi pada masyarakat, hukum perundang-undangan yang mengaturnya pun tak sedikit.

    Mungkin hal ini pula yang dirasakan oleh seorang pria dengan nama akun Facebook Zam Rotta. Ia pun melakukan protes dan curhat di sebuah grup Facebook warga Malang  bernama Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang).

    Dalam postingannya, Zam mengaku bahwa dia ditilang karena dianggap melanggar lampu lalu lintas. Padahal, menurutnya lampu saat itu masih menyala hijau.

    Ia pun berinisiatif membayar secara online di BRI, namun dipersulit oleh polantas tersebut. Polisi ini juga mengatakan bahwa Zam bisa didenda Rp 500 ribu jika mengikuti sidang. Akhirnya, ia pun membayar Rp 100 ribu.

    Baca juga: Ngakak! Cewek Ini Tolak Cowok Karena “Anunya” Kecil

    Anehnya, ketika Zam yang bekerja sebagai kurir antar barang meminta bukti pelanggaran, polisi itu menolak. Padahal, ia membutuhkannya sebagai bukti pengeluaran pada juragannya.

    Tak sendirian, Zam mengaku ada seorang lagi yang kasusnya sama dengan dirinya. Padahal menurut Zam, bukan hanya mereka berdua, sejumlah mobil dan motor pun tetap melaju waktu itu.

    Dengan peristiwa yang dialaminya ini, Zam kemudian menilai bahwa penilangan itu hanyalah sebuah jebakan. Terlebih, ia tak mendapatkan surat tilang dari polisi.

    Tak lama kemudian, sebuah akun bernama Woenk Laweoas menjawab keluhan Zam dengan memposting foto bukti tilang. Namun, klarifikasi yang ditulis Woenk ini malah bikin gagal paham.

    Woenk menuturkan bahwa setelah dicek, ternyata Zam yang menitipkan uang untuk membayar denda di pengadilan kepada polantas itu. Bukan polantas yang meminta uang pada Zam.

    Pertanyaannya, apakah diizinkan menitipkan uang tilang ke polisi?

    Dilansir detik.com pada 5 Oktober 2015 silam, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Edi Hasibuan menuturkan bahwa tak apa menitipkan uang sidang ke polisi. Hal ini juga telah diatur dalam UU No 22/2009 tentang lalu lintas.

    “Tapi perlu diperhatikan baik-baik, setelah memberi uang sidang titipan ke polisi, pengendara harus mendapat selip tilang. Ini yang penting, kalau tidak mendapat selip tilang namanya suap alias 86,” terang Komisioner Kompolnas Edi Hasibuan.

    Selain itu, menurut Edi, uang yang dititipkan pada polisi jumlahnya harus sesuai dengan yang tertulis di selip tilang. Kemudian polisi yang akan menyampaikan ke bank atau ke pengadilan.

    Baca juga: Bikin Ngakak! Saksi Ahok Ngaku Sudah Di-brieifing Sebelum Sidang

    Dari pernyataan Edi yang cukup gamblang ini, pembaca tentu bisa menarik kesimpulan sendiri, bukan?