Bukan Arab atau China, Inilah Negara yang Paling Banyak Beri Pinjaman ke Indonesia


    SURATKABAR.ID – Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan data terbaru terkait posisi utang luar negeri Indonesia. Terhitung Januari 2017, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD 320,28 miliar atau setara dengan Rp 4.274 triliun—sesuai kurs hari ini, Senin (20/3/2017).

    Angka utang ini naik cukup tinggi bila dibandingkan dengan Desember 2016; yang tercatat hanya USD 316,40 miliar.

    Posisi utang per Januari 2017 ini juga naik bila dibandingkan dengan November 2016 yang hanya USD 315,34 miliar. Demikian sebagaimana diwartakan dalam Merdeka.

    Berdasarkan data langsung dari Bank Indonesia, sumber utang luar negeri berasal dari 3 macam kreditor. Pertama, dari berbagai negara dengan total USD 168,75 miliar. Kedua, dari organisasi internasional sebesar USD 30,29 miliar. Ketiga adalah dari lain-lainnya yang sebesar USD 121,22 miliar.

    Baca juga: Pemerintah Jokowi Kembali Tambah Utang

    Negara Pemberi Pinjaman ke Indonesia

    Negara Singapura tercatat merupakan pemberi utang terbesar ke Indonesia dengan total mencapai USD 50,78 miliar, atau setara dengan Rp 677 triliun.

    Selanjutnya adalah Jepang, dengan total utang mencapai USD 30,54 miliar.

    Saat ini, China juga cukup besar memberi utang ke Indonesia dengan nilai capaian USD 14,76 miliar dan disusul oleh Hong Kong sebesar USD 11,63 miliar. Kemudian Amerika Serikat sebesar USD 10,48 miliar.

    Masih banyak negara lain yang memberi utang ke Indonesia dengan nilai di bawah USD 10 miliar seperti Prancis, Australia, Jerman, Belanda, Korea Selatan, Spanyol dan lainnya.

    Organisasi Pemberi Pinjaman ke Indonesia

    Sedangkan dari sisi organisasi internasional, IBRD tercatat sebagai pemberi utang terbesar dengan nilai USD 15,82 miliar. Kemudian ADB juga memberi utang sebesar USD 9,3 miliar. Selanjutnya disusul oleh IMF sebesar USD 2,7 miliar. Masih banyak organisasi lainnya seperti EIB, NIB dan lain sebagainya yang memberi utang ke Indonesia.

    Meski begitu, Adviser IMF Benedict Bingham pernah mengatakan Indonesia sudah tidak lagi berutang pada lembaga moneter internasional tersebut. Utang yang tercantum dalam data statistik utang luar negeri Bank Indonesia itu merupakan kuota penyertaan modal Indonesia dalam bentuk mata uang khusus IMF, biasa disebut special drawing rights (SDR).

    “Berdasarkan dokumen perjanjian, alokasi SDR kepada seluruh negara anggota disesuaikan dengan proporsi kuota mereka di IMF. Ini dalam rangka menyediakan likuiditas tambahan buat negara anggota,” kata Benedict.

    Baca juga: Terungkap! Ternyata Seperti Ini Sejarah Mata Uang Indonesia Hingga Bernama Rupiah

    Benedict melanjutkan, saat ini kuota Indonesia sebesar SDR 1,98 juta atau setara USD 2,8 juta. Berdasarkan standar akuntansi, penyertaan modal ini diperlakukan sebagai utang atau kewajiban luar negeri yang harus ditanggung Bank Indonesia.

    “Sementara, kepemilikan SDR diperlakukan sebagai aset Bank Indonesia. Jadi, ketika SDR dialokasikan, itu tidak mengubah posisi utang negara anggota pada IMF,” jelas Benedict.