Aneh! Raja Dukun Mengaku Bisa Tangkal Rudal Korut dengan Kelapa


SURATKABAR.ID – Hubungan Malaysia dan Korea Utara belakangan ini diketahui memanas dan hal tersebut berdampak kepada masyarakat. Warga Negara Jiran semakin was-was dengan apa yang sedang terjadi.

Ditengah suasana yang tegang tersebut, seorang raja dukun justru mengaku berhasil menyelamatkan negara tersebut dari serangan nuklir Korea Utara. Dikutip dari merdeka.com, pengakuan raja dukun tersebut membuatnya jadi pusat perhatian, bahkan jadi gunjingan banyak orang.

Tetapi raja dukun yang diketahui memiliki nama Ibrahim Mat Zin, tersebut mengatakan hal tersebut dengan mimik wajah yang serius. Dia mengaku sudah melindungi negaranya seleama tujuh dekade, jauh sebelum kemerdekaan Malaysia.

“Saya tidak butuh uang. Saya berdoa untuk memagari Malaysia,” kata pria berusia 86 tahun tersebut.

Baca juga: Disebut Ahok Menghina Soeharto Soal Reklamasi, Begini Tanggapan Anies-Sandi

Namanya menjadi buah bibir ketika mulai melakukan ritual aneh pada saat hilangnya pesawat Malaysia Airline pada Maret 2014 yang lalu. Saat mencari jejak pesawat dengan nomor penerbangan MH370 itu, ia memakai teleskop yang terbuat dari bambu dan mengayunkan kelapa di sekitarnya.

“Kita tidak punya senjata modern seperti Korea (Utara). Jika kita sampai perang bersenjata, kita akan kalah. Tapi kita menggunakan metode kuno untuk memagari udara, bumi dan air, sehingga rudal itu akan gagal dan tidak mencapai Malaysia,” paparnya.

Aksi supranatural raja dukun tersebut mengundang kecaman dari rakyat Malaysia dan ilmuan Muslim yang menyebutkan jika metodenya haram dan melanggar syariat Islam. Namun, menurutnya, ia menyebutkan jika cara yang ditempuhnya sejalan dengan Islam.

Dia kemudian mencontohnya karya penyembuh iman Melayu lainnya dan ahli pengobatan beberapa dekade dan mengklaim banyak pejabat yang meminta bantuannya. Tetapi, ia menolak menyebutkan para pejabat yang meminta bantuannya.

Berhubungan dengan hilangnya pesawat itu Ibrahim menyebutkan jika,

“Pesawat itu berada di dunia paralel. Mereka akan hilang selama 25 tahun sebelum akhirnya kembali, tetapi orang di dalamnya tetap hidup karena perbedaan udara, sebulan sama halnya dengan sehari bagi mereka.”